Siapa yang suka mengenalkan bermacam makanan dan minuman ke anak tanpa tahu hal tersebut bisa menyebabkan kecanduan? Mungkin tahu, tapi berpikir “sedikit aja enggak akan bahaya”. Yang awalnya hanya “boleh deh icip es krim” atau “Kakak makan chips, masa Adek enggak boleh nyoba?” pun berlanjut menjadi minta lagi dan lagi. Bisa juga, anak kecanduan makanan tak sehat (junk food) karena kita para orang tua ini yang tak kuasa menahan diri untuk tidak makan fried chicken ternama, misalnya. Anak ikut mencoba, doyan, minta terus, sampai enggak mau makan yang lain kecuali ayam goreng krispi. Haduh, kita rasanya langsung pusing tujuh keliling. Padahal, kita juga yang pertama mengenalkannya pada anak.

Kenapa sih, anak bisa kecanduan makanan tak sehat? Kan enak tuh kalau kecanduannya sayur sop… 

Ternyata, kecanduan makanan berhubungan erat dengan kandungan makanan yang dikonsumsi. Anak mana yang bisa menolak es krim, biskuit coklat, atau naget? Makanan yang tinggi lemak, gula, dan garam seperti inilah yang bisa membuat anak kecanduan. Apalagi, teknologi pangan membuat rasa asin menjadi gurih, rasa manis pun tak hanya gula tapi juga rasa hazelnut, permen karet, bahkan stroberi yoghurt. Saking enaknya, para ilmuwan menyebut pangan jenis ini hyperpalatable, alias yang enaknya “kebangetan”.

Baca: Hyperpalatable, Ketika Enggak Gurih Enggak "Nendang"

Bukan hanya rasanya yang luar biasa, tapi efek makanan jenis ini pada otak pun juga luar biasa.

Otak kita punya pusat kontrol yang mengatur kadar makanan yang masuk dalam tubuh untuk bisa diubah menjadi energi dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Ia juga yang diam-diam merekam makanan apa saja yang memicu dihasilkannya dopamin alias hormon yang menimbulkan rasa senang saat kita memakannya. 

Masalahnya, makanan tak sehat yang melibatkan teknologi untuk menghasilkan rasa enak ternyata bisa menghasilkan lebih banyak dopamin daripada makanan alami. Inilah mengapa sesuka-sukanya anak pada buah pisang misalnya, ia tak akan bisa tantrum seperti ketika ia meminta permen, coklat, atau fried chicken merk tertentu. 

Makanan ini juga mengandung kalori tinggi yang membuat ketidakseimbangan kadar gula sehingga bikin ‘ngidam’ alias ingin sekali dan harus segera dipenuhi. Tak heran, anak bisa tantrum di minimarket ketika kita menolak membelikannya permen kenyal favoritnya.

Bagaimana kita tahu kalau anak kita ketagihan makanan tertentu? 

1. Baru saja makan berat sampai kenyang, masih bisa minta roti meses, snack kemasan, atau camilan favorit lainnya. Ini menunjukkan bahwa kecanduan tak ada hubungannya dengan rasa lapar/kenyang, namun keinginan di otak yang ingin segera dipenuhi.

2. Hanya mau makan makanan yang diinginkan. Pada anak yang masih kecil, hal ini bisa menyebabkan tantrum jika tidak dituruti. 

3. Kalau sudah makan yang disukai, anak bisa mengambil lebih dan lebih, seperti tak bisa berhenti. Ini disebut juga binge eating, yaitu makan dalam jumlah besar dan sulit menahan dorongan untuk makan.

4. Makan diam-diam. Pada anak yang usianya mulai besar, menyembunyikan makanan yang membuatnya ketagihan bisa saja terjadi. Ini karena ia tahu makanan tersebut tak baik untuk tubuhnya (juga dilarang oleh orang tua), namun tak kuasa menahan diri.

Seberapa bahaya sih kecanduan makanan?

Bahaya kecanduan makanan sama bahayanya dengan kecanduan narkoba, lho! Meski berbeda zat, namun bagian otak yang terpengaruh oleh hal ini sama. Inilah mengapa, lepas dari kecanduan makanan akan sangat berat, apalagi jika anak yang mengalaminya. 

Selain itu, kecanduan makanan juga bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti obesitas dan diabetes tipe 2. Makanan dengan tinggi gula, juga bisa meningkatkan risiko kurang gizi yang berujung stunting, kerusakan gigi, serta kerusakan hati di kemudian hari.

Pada anak yang mulai peduli dengan teman sebaya, kecanduan junk food juga bisa memengaruhi kepercayaan diri dan membuat anak menjadi tak senang dengan tubuhnya. Terburuk, kecanduan makanan bisa juga berakibat buruk pada emosi dan meningkatkan risiko kematian dini.

Tapi kan, tak mungkin anak “steril” dari makanan tak sehat. 

Benar. Semakin besar anak, lingkungan sosialnya pun mulai bertambah. Bisa saja diberi temannya, saat dalam perjalanan, atau bahkan keluarga besar doyan makan junk food saat berkumpul. Kita tentu tak bisa melarangnya, apalagi jika kita sendiri belum mampu 100% makan makanan sehat.

Karena itu, cara yang lebih efektif untuk mencegah anak kecanduan makanan tak sehat adalah ..

1. Memperbaiki pola makan kita sendiri sebagai orang tua. Anak melihat, anak meniru. Kalau kita terbiasa makan buruk, jangan harap anak mau makanan sehat! 

2. Selalu sadari bahwa keputusan kita menentukan masa depan anak. Jangan perkenalkan makanan dan minuman yang kita tahu bakal “panjang urusannya”, apalagi saat usia anak masih sangat kecil. 

3. Beri pilihan makanan sehat dalam jangkauan, dan sembunyikan makanan tak sehat. Kalau perlu, tak usah dibeli.

4. Jangan keseringan jajan atau pesan antar makanan cepat saji. Sebisa mungkin makan masakan rumah yang kita olah sendiri.

5. Hindari memberi reward atau hadiah berupa makanan tak sehat. Jika anak berhasil membereskan mainan atau mengerjakan soal yang sulit, beri pujian dan pelukan, atau sesi bermain ekstra bersama kita, bukannya sebatang coklat.

Dapatkah kecanduan makanan diobati?

Kita perlu memastikan dulu bahwa apa yang terjadi pada anak memang benar kecanduan atau adiksi, yang sama dengan jenis kecanduan-kecanduan lain yang memang membutuhkan penanganan tertentu, seperti konseling, obat-obatan, maupun terapi. Untuk itu, hubungi tenaga profesional untuk berkonsultasi.  

 

 

Photo created by jcomp - www.freepik.com