Jutaan kehamilan yang tidak diinginkan terjadi setiap tahunnya akibat berbagai hal seperti kegagalan kontrasepsi tradisional, pasangan usia subur yang tidak menggunakan KB, kehamilan tak diinginkan yang terjadi pada remaja, maupun kasus perkosaan. Pada sejumlah kasus di atas, pil KB darurat bisa digunakan untuk mencegah kehamilan. Sayangnya, mereka yang memang tidak ber-KB dan tak mau menggunakan pengaman seperti kondom lantas mengandalkan pil KB darurat. Padahal, jika digunakan berkali-kali, pil KB darurat bisa berbahaya.

Mengapa demikian?

Untuk menjawabnya, mari kita “bedah” dulu apa itu kontrasepsi darurat. Kontrasepsi darurat adalah metode kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan bila digunakan setelah berhubungan seksual. Atau, sering juga disebut kontrasepsi pasca senggama.

Kontrasepsi darurat ini ada 2 jenis yaitu:

1. Kontrasepsi darurat mekanik berupa Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau IUD yang menggunakan tembaga. Mekanisme kerja IUD sama seperi pada umunya, bisa di cek di artikel berikut.

2. Kontrasepsi medik dengan menggunakan pil yang mengandung hormon. Inilah yang disebut pil KB darurat atau morning after pill. Ada dua jenis pil yaitu levonorgestrel (pil progestin) dan pil kombinasi. Levonorgestrel adalah pil yang mengandung homon progesteron. Sedangkan pil kombinasi, merupakan pil yang mengandung homon progesteron dan esterogen. 

Bagaimana cara kerjanya?

Pil kontrasepsi darurat bekerja untuk mencegah terjadinya ovulasi. Hormon yang terdapat pada pil kontrasepsi darurat berfungsi untuk mencegah pembuahan dengan cara:

  • menghentikan ovarium untuk melepaskan ovum (sel telur), 
  • membuat pergerakan tuba falopi sedikit sehingga sel telur tidak dapat menuju dinding rahim, dan 
  • menipiskan dinding rahim sehingga tidak terjadi implantasi atau menempelnya sel telur yang telah dibuahi sperma ke dinding rahim.

Pil kontrasepsi darurat ini akan bekerja secara efektif apabila digunakan sebelum 72 jam setelah berhubungan seks. Semakin cepat kita minum, semakin tinggi efektivitasnya. 

Ingat ya pil kontrasepsi darurat ini bukan merupakan salah satu tindakan aborsi. Kenapa? Karena tindakan ini dilakukan sebelum adanya implantasi dan pembuahan sel telur oleh sperma. 

Baca: Kapan Aborsi Boleh Dilakukan?

Sel sperma dapat hidup di dalam rahim hingga 5 hari setelah terjadinya hubungan seksual. Inilah saat ketika pil darurat “beraksi” sehingga pembuahan maupun implantasi gagal dan tak terjadi kehamilan.

Jadi, jika kita ternyata terlanjur hamil, pil KB darurat tak akan berpengaruh dan tak akan menyebabkan keguguran.

Sepintas, mirip dengan cara kerja pil KB biasa. Tapi, kenapa tak boleh terlalu sering digunakan?

Sesuai dengan namanya pil kontrasepsi darurat ini hanya digunakan dalam keadaan darurat, karena dosis yang terdapat pada pil kontrasepsi darurat ini tinggi. 

Keadaan darurat tersebut meliputi:

1. Lupa minum pil KB 2-3 kali berturut-turut

2. Kondom robek 

3. Pasangan gagal ejakulasi di luar (pada KB tradisional)

4. Menjadi korban perkosaan 

Selain karena dosisnya, pil KB darurat juga tidak disarankan untuk digunakan secara rutin dengan pertimbangan:

1. Efektivitasnya hanya 87%, tak setinggi kontrasepsi lain seperti pil KB kombinasi (92%), pil KB menyusui (97%), suntik KB (97%), IUD (99%), dan KB implan (99,95%).  

2. Jatuhnya lebih mahal jika digunakan dalam jangka panjang.

3. Efek samping seperti mual yang tak berbahaya tapi cukup mengganggu kalau sering muncul.

4. Siklus haid jadi tidak teratur sehingga susah diprediksi.

Selain itu, ada lagi efek samping pil KB darurat, yaitu muntah, pusing, nyeri perut, dan nyeri pada payudara. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan hormonal. Untuk mengurangi efek sampingnya, kita bisa berbaring dan makan teratur. 

Tapi, jika kondisi benar-benar darurat, kita bisa menggunakan pil KB darurat dengan cara berikut:

Pil progestin 

Minum 2x1 tablet dalam waktu 3 hari (72 jam) setelah berhubungan seks. Dosis pertama minum 1 tablet, kemudian 12 jam setelahnya minum lagi 1 tablet.

Pil kombinasi 

Minum 2x4 tablet dalam waktu 3 hari setelah berhubungan seks. Dosis pertama minum 4 tablet, kemudian 12 jam setelahnya minum lagi 4 tablet.

Jadi, jika memang berencana untuk menunda kehamilan dalam jangka panjang, sebaiknya pilih metode kontrasepsi yang lebih efektif. Lihat 10 pilihannya di fitur Kontrasepsiku berikut ini.

 

 

Photo created by freepik - www.freepik.com

 

 

 

 

 



Tanya Skata