Bagai tersambar petir di siang bolong, waktu anak perempuanku yang berumur 10 tahun tiba-tiba minta dibelikan bra (pakaian dalam wanita). Sebagai ayah tunggal, aku tahu saat ini pasti akan datang, saat di mana putri semata wayangku mengalami pubertas dan punya kebutuhan sebagai perempuan yang beranjak dewasa. Tapi kenapa cepat sekali? Jujur, aku belum siap. Membayangkan harus mengantarnya beli bra ke toko pakaian dalam saja sudah bikin lemas, apalagi harus memandunya! 

Tapi, karena ia sudah benar-benar butuh, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajaknya ke mall. Aku pilih pagi hari saat toko baru buka, pasti masih sepi. Saat sarapan, aku pun mengajaknya ngobrol terlebih dahulu.

 “Jadi, kamu butuh bra? Yang seperti apa yang kamu butuh?” tanyaku. 

“Hmm, yang kaya di iklan yah, yang ada kawatnya,” jawabnya masih ragu. 

Oke, kayanya di mall pasti ada dan nggak susah carinya. Sebagai seseorang yang pernah menikah, tahu lah bentuk bra itu seperti apa. Tapi, beli bra untuk anak itu beda kasus. 

Sesampainya di mall, kami langsung menuju ke bagian pakaian dalam di sejenis hipermarket untuk menghindari pramuniaga (agar aku tidak malu). Sesuai dugaan, toko masih sepi. Tapi, yang bikin khawatir, ternyata memilih bra itu susah sekali! 

Kami melewati berbagai lorong dengan pilihan bra yang begitu banyak. Ada yang berkawat, tanpa kawat, busa tebal, tanpa busa, hingga baju tidur berenda. Aku heran, bagaimana para wanita bisa memilih?! 

Syukurlah, akhirnya kami menemukan bra untuk anak (yang belakangan baru aku tahu sebutannya adalah miniset). Bentuknya semacam bra untuk berolah raga tapi ukurannya kecil. Nah, ini masalah berikutnya. Ukuran! 

“Kamu pakai ukuran apa?” tanyaku pelan. 

“Nggak tahu,” jawabnya sambil menaikkan bahu. Iya juga ya, kan baru pertama beli. Kenapa juga aku tanya…

Daripada harus bertanya ke mbak-mbak pramuniaga, terlintas ide untuk mengukurnya sendiri. 

“Hmmm, gini aja, coba kamu tempel bra ini di luar kaosmu. Kalau kegedean, berarti kita beli satu ukuran di bawahnya, gimana?” 

Ia pun menurut sembari mencoba mengepaskan sebuah bra di badannya. Beberapa kali dicoba kok enggak ada yang pas. Ia pun mulai geli sendiri, padahal aku panik luar biasa. Bagaimana tidak, mulai banyak orang yang melintas, melihatku berlutut di depan anak perempuan yang sedang menempelkan bra di dadanya!

Kepanikan ini akhirnya terlihat oleh seorang pramuniaga, yang aku yakin sudah mengamati kami dari tadi. Ia pun menghampiri sembari berkata, “Boleh saya bantu, Pak?”

Setengah malu, aku pun memintanya mencarikan bra untuk anak perempuanku. 

“Ooh, miniset ya? Kakak bantu cari ukuran yang pas ya, Dek. Yuk sini!” ucapnya sambil mengajak anakku ke bagian lain. Terima kasih Tuhan!

Akhirnya, anakku kembali dengan membawa beberapa miniset pilihannya.

Kini, ia sudah berusia 33 tahun, tentunya sudah pintar memilih bra. Aku tak akan lupa hari itu, hari kecanggungan ayah dan anak saat harus membeli bra ketika keduanya tak paham apa-apa…

Dari kisah nyata tersebut, kita belajar..

Tiga puluh tiga tahun yang lalu, toko online masih belum ada. Ayah tunggal tentu harus “berani” datang sendiri ke toko untuk membelikan miniset anaknya, walau bisa juga meminta tolong kerabat perempuan untuk membelikannya.

Agar pengalaman memalukan di atas tak terulang pada Anda para ayah tunggal, tips di bawah ini bisa dicoba:

1. Payudara anak perempuan tumbuh secara bertahap, jadi perhatikan apa kebutuhannya saat ini. Baca artikel 5 Tahap Pertumbuhan Payudara Saat Pubertas.   

2. Ketika sudah tahu di mana tahapan pertumbuhan payudara anak, barulah kita menggali informasi pakaian dalam seperti apa yang cocok untuk kebutuhannya. 

3. Kalau tidak nyaman mencarinya di toko secara langsung, bisa cari dulu informasinya secara online. Seperti apa sih bentuk bra yang dibutuhkan? Kalau sudah oke dengan modelnya, baru deh cari di pusat perbelanjaan. 

4. Saat di toko, ajak anak untuk konsultasi atau bertanya pada pramuniaga ukuran apa yang pas untuknya. Biarkan ia mencoba beberapa pilihan sampai menemukan yang pas.

5. Anak mungkin juga akan canggung memperlihatkannya pada kita, ayahnya. Jadi, beri saja kebebasan untuknya memilih mana yang terasa nyaman untuknya. 

6. Pakaian dalam perlu dicuci setiap habis pakai, jadi pastikan kita membelikannya dengan jumlah yang sesuai. Jangan cuma belikan satu, ya! 

7. Ingatkan anak untuk mengganti pakaian dalamnya secara berkala sesuai dengan pertumbuhannya. Sehingga ketika mereka mulai tumbuh dan punya kebutuhan baru, mereka tak segan menyampaikannya pada kita. 

Bagaimanapun cara kita menyikapi puber yang terjadi pada putri tercinta, sesulit apapun tahapannya, pastikan tetap hadir mendampinginya dan lewati bersama ya, Ayah!

 

Kisah di atas disadur dari fatherly.com 

 



Tanya Skata