Awalnya, Anna (16 tahun) masih terbuka pada ibunya waktu mulai puber. Ia nyaman saja cerita soal hari pertamanya “dapet”, soal perubahan tubuhnya, berkeluh kesah soal jerawat yang mampir sebelum menstruasi. Walau agak malu-malu bicara, tapi ia masih mau duduk bareng untuk curhat ke ibunya. Tapi kok belakangan ini, ia mulai menjaga jarak dan lebih nyaman di kamarnya ketimbang nonton TV bareng ayah ibunya. Jempolnya mulai sibuk chatting dengan teman-temannya, dan tampak asyik sendiri. Ibu dan ayah Anna akhirnya jadi “baper” alias bawa perasaan karena anaknya mulai menjauh.

Wajar saja sih, kalau mereka atau kita sedikit sedih karena perbedaan sikap anak memasuki masa remaja. Tapi, jangan kelamaan ya, karena ini hanya bagian dari proses menjadi dewasa. Sebenarnya, kita bisa lho “menarik” mereka lagi untuk dekat dengan kita. Hanya saja, perlu cara yang tepat untuk melakukannya, seperti berikut ini.

1. Tetap hadir walau mereka mulai menjauh 

Ingatkah, waktu Ananda kecil senang sekali memanggil kita cuma buat memamerkan aksinya? Saat ini pun sebenarnya mereka masih ingin dilihat dan diperhatikan. Hanya saja, kali ini dalam bentuk dukungan. Luangkan waktu untuk mendengar curhatannya, sempatkan ngobrol saat sarapan, atau ajak jalan ke suatu tempat berdua saja. Tunjukkan kalau kita juga bisa jadi teman curhat yang bisa ia percaya. 

2. Jangan masukkan dalam hati 

Oke, ia kini lebih memilih untuk jalan sama teman-temannya ketimbang menghabiskan akhir pekan dengan kita. Iya, dia lebih senang menatap layar ponselnya demi cerita ke sahabatnya dibandingkan sama kita. Tak perlu kecil hati, ingat ini adalah proses ia menjadi pribadi baru yang lebih mandiri dan proses menumbuhkan rasa percaya kita padanya. 

3. Lebih sabar untuk mengerti 

Kalimat seperti “Ayah/Ibu enggak adil” atau “kalian enggak seperti orang tua si A atau B yang bolehin ini itu!” mungkin akan terlontar dan terasa menyakitkan. Saat ini terjadi, jangan reaktif dan membalas dengan kalimat serupa. Justru, kita perlu lebih sabar dan berempati karena ini adalah momen mereka belajar memproeses emosi dan bagaimana menghadapinya. Dengan mencoba memahami perasaan mereka, mereka akan memercayai kita sehingga komunikasi akan lebih mudah terjalin ke depannya. 

4. Kesampingkan dulu masalah disiplin, coba untuk lebih banyak mendengarkan

Makin anak besar, kecenderungan kita untuk menuntut anak lebih disiplin pun makin besar pula. Jika hari-hari anak dipenuhi dengan aturan dan kritikan agar anak disiplin, mereka bisa jengah dan makin “alergi” dekat-dekat kita. Prinsipnya, connection before correction. Jalin hubungan dulu sebelum mengoreksi perilaku anak, jangan semua-semua kurang ini, belum ini, harus begitu. Kalau kita dekat dengan anak, mereka akan lebih mudah lho mendengarkan kita. Jadi, coba untuk lebih banyak mendengarkan. Karena terkadang, kesalahan yang mereka perbuat bukan karena kesengajaan, tapi karena mereka masih belajar mengatur emosi dan keinginan.

Baca: Tidak Harus Hukuman, Cara Ini Lebih Efektif Agar Remaja Tidak Mengulang Kesalahannya

5. Peraturan screen time, perlu tetap ada

Kalau Ananda mulai sering di kamar, kemungkinan besar ia sibuk dengan gagdetnya. Entah chatting bersama teman, main game online, atau scrolling laman Instagram. Usia mereka memang lagi senang bersosialisasi, tapi jangan lengah karena di usia ini juga mereka mulai meniru apa yang mereka “yakini”. Salah mencontoh influencer, bisa jadi bumerang bagi mereka, juga kita. 

Jadi, kita tetap perlu mengawasi apa yang mereka lihat dengan tetap menghargai privasinya. Gimana caranya? Tentukan aturannya bersama, apa yang boleh ia lihat, apa yang tidak beserta alasannya. Cari tahu influencer yang ia senangi, lalu beri masukan kalau memang ia punya pengaruh negatif. Jika tidak, dukung untuk hal baik yang dilakukan. Batasi juga waktu penggunaannya, saat ia sedang dalam waktu mainnya, jangan diganggu. 

Rasa tak nyaman yang orang tua rasakan saat anak mengalami puber, sama halnya dengan yang mereka rasakan. Kali ini, yuk mengalah sedikit untuk lebih mengerti posisinya. Apalagi, kita pernah mengalami hal yang sama. Jadi harapannya, kita bisa paham apa yang perlu kita lakukan dan yang sebaiknya kita hindari supaya komunikasi dengan Ananda terjalin baik. Supaya tak ada lagi tuh istilah baper. Setuju, enggak? 

 

Photo created by 8photo - www.freepik.com



Tanya Skata