Bagi para pengguna IUD, melakukan kontrol atau pemeriksaan berkala wajib hukumnya. Masalahnya, banyak yang terlupa atau malah sengaja melewatkannya karena merasa tak ada keluhan. Padahal, rutin kontrol IUD bisa mengurangi faktor risiko terjadinya efek samping. Lalu, berapa kali kita harus kontrol dalam setahun? Cukupkah sekali saja melakukan kontrolnya? Apakah ada risiko apabila tidak kontrol sama sekali? Yuk, kita bahas sama-sama.

Kapan waktu untuk kontrol IUD?

Kontrol IUD dilakukan secara berkala dan berulang, sebaiknya dilakukan pada: 

  • 1 minggu setelah pemasangan 
  • 2 bulan setelah pemasangan
  • setiap 6 bulan berikutnya 
  • 1 tahun setelah pemasangan
  • bila terlambat haid 1 minggu 
  • terjadi perdarahan banyak dan tidak teratur 

Akan tetapi, kunjungan yang harus dilakukan adalah: 

  • kunjungan ulang pertama kali yaitu 1 minggu setelah pemakaian IUD
  • saat terdapat keluhan apapun bentuknya
  • setelah menstruasi pertama

Kenapa? Karena, pada saat-saat itulah periode yang paling berisiko tinggi terjadinya perubahan posisi dan ekspulsi (keluarnya) IUD secara spontan. Baca di sini.

Apa saja pemeriksaan yang dilakukan saat kontrol IUD ?

Sebenarnya, “misi utama” dokter/bidan saat kontrol IUD adalah memastikan IUD berada tepat di tempatnya dan tidak bergeser. Untuk itu, kita akan diminta untuk berbaring dalam posisi kaki terbuka seperti saat bersalin. Kemudian, mulut rahim akan dibersihkan, lalu dibuka dengan bantuan spekulum/cocor bebek agar dokter dapat melihat langsung posisi IUD. Rasanya tentu akan sedikit tidak nyaman.

Pada saat kontrol, kita juga sebaiknya berkonsultasi mengenai IUD. Jangan ragu untuk bertanya apa saja seputar IUD, termasuk keluhan yang muncul yang biasanya dirasakan oleh pengguna baru. 

 

 

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang bisa kita tanyakan atau ditanyakan oleh bidan/dokter saat kontrol IUD: 

• Riwayat menstruasi setelah menggunakan KB IUD 

Seperti, berapa kali menstruasi dalam sebulan, lamanya berapa hari, jumlahnya banyak atau tidak, apakah ada nyeri perut.

• Riwayat perdarahan

Perdarahan yang di maksud disini yaitu spotting atau bercak darah bahkan bisa sampai perdarahan yang banyak dari jalan lahir. 

• Benang IUD

Apakah benangnya masih ada (dapat diraba), apakah pasangan merasakan tidak nyaman saat berhubungan. Panjang benang IUD ini bisa disesuaikan dengan kondisi kita, lho.

Baca: Apakah Benang IUD Mengganggu Hubungan Seks?

Bolehkah “kontrol” sendiri di rumah?

Pemeriksaan ini sebenernya juga bisa dilakukan secara mandiri di rumah, dengan cara merasakan adanya benang sewaktu haid atau dengan memasukan jari telunjuk yang dicuci bersih untuk meraba ke dalam vagina. 

Jika kita berniat melakukan pemeriksaan secara mandiri di rumah, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter/bidan yang biasa menangani.

Kunjungan ulang setelah pemasangan IUD sangat disarankan karena bertujuan untuk memeriksa kondisi setelah pemasangan. 

Seandainya timbul masalah atau efek samping seperti terlambat datang bulan, merasa sakit di bawah perut/vagina, tidak enak badan (demam, menggigil), benang IUD tidak terlihat atau lebih pendek atau lebih panjang, dan ketika berhubungan seksual pasangan merasakan adanya IUD, bidan/dokter bisa dengan cepat mengambil tindakkan. 

 

 

Photo created by jcomp - www.freepik.com

Referensi:

Sofian, A. (2015) Rustam Mochtar Sinopsis Obstetri : Obstetri Operatif dan Obstetri Sosial. Jilid 2 Ed. Jakarta : Penerbit EGC. 

Manuaba, I. B. G. (1998) Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta : EGC 

 



Tanya Skata