Garis merah, warna kuning, hijau, duh….apa ya artinya? Tak perlu bingung saat membuka KMS atau Kartu Menuju Sehat. Sebenarnya cara membacanya tak sulit, hanya penampilannya yang penuh garis dan warna terkadang membuat para ibu menganggapnya rumit. 

Pada intinya, KMS memiliki 3 komponen saja kok, yaitu umur, berat badan, dan jenis kelamin. Warna dan garis yang ada digunakan untuk memudahkan kita melihat status gizi anak, apakah normal atau perlu tindakan. Setelah mengisi KMS dengan cara menarik garis berat badan hingga bertemu garis umur dalam satu titik, kini saatnya membaca arti dari plot tersebut.  

Bila titik pertemuan berada di bawah garis merah, tandanya anak mengalami kurang gizi tingkat sedang hingga berat atau disebut kurang energi protein (KEP).

Yang harus dilakukan:

- pemberian makanan tambahan (PMT) oleh orang tua maupun petugas kesehatan,

- mencari informasi tentang gizi seimbang dan mempraktikannya pada anak,

- konsultasi ke dokter anak atau dokter anak subspesialis metabolik yang fokus terhadap kasus gizi buruk untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Umumnya, dokter akan bertanya seputar kebiasaan makan si kecil dan meminta kita melakukan beberapa perubahan.

Bila titik pertemuan berada di pita kuning di atas garis merah, kita perlu waspada karena anak mengalami kurang gizi tingkat ringan atau KEP tingkat ringan.

Yang harus dilakukan:

Evaluasi pemberian makan pada si kecil, apakah sudah memenuhi prinsip gizi seimbang atau belum. Konsultasikan ke dokter jika perlu, untuk memastikan perlu tidaknya PMT.

Bila titik pertemuan berada di pita hijau muda (di atas pita kuning), anak mempunyai berat badan cukup atau disebut gizi baik.

Pertahankan pola makannya, ya!

Bila titik pertemuan berada di pita warna kuning paling atas, anak mengalami berat badan berlebih

Yang harus dilakukan:

Konsultasikan ke dokter, klinik gizi, atau pojok gizi di puskesmas. Perlu diingat bahwa anak yang kelebihan berat badan mudah terkena berbagai penyakit, seperti obesitas atau serangan jantung.

Jangan hanya sekali ukur lalu berhenti, ya! 

Apalagi jika anak kondisinya aman di garis hijau, kita rentan lupa. Pengukuran yang dilakukan satu kali pada dasarnya hanya menunjukkan ukuran pada saat itu dan tidak memberikan informasi tentang pertumbuhan anak. KMS efektif melihat pertumbuhan anak jika setiap bulan kita disiplin mengisinya. Dengan menghubungkan tiap titik per bulan dengan garis, akan terlihat apakah berat badan anak naik, turun, atau tetap. 

Jika garisnya naik mengikuti garis pertumbuhan, artinya anak sehat, gizinya cukup. Kita tetap perlu memperhatikan gizinya untuk mempertahankan status gizinya. 

Berat badan juga dianggap naik jika kenaikannya sama dengan KBM (Kenaikan BB Minimal) atau lebih. Kita bisa melihat KBM di tabel bagian bawah kurva KMS. Angka KBM berubah-ubah sesuai usia anak.

Tenaga kesehatan akan menuliskan huruf N (NAIK) di kolom di bawah berat badan. 

Nah, jika garisnya mendatar maupun menurun (hingga memotong garis pertumbuhan di bawahnya), kemungkinan ada gangguan kesehatan dan atau mutu gizi yang dikonsumsi tidak seimbang. Kenaikan BB yang kurang dari KBM juga dianggap tidak terjadi kenaikan berat badan.

Tenaga kesehatan akan menuliskan huruf T (TIDAK NAIK) di kolom di bawah berat badan. 

Konsultasikan ke dokter atau tenaga kesehatan, yang biasanya diikuti penyuluhan gizi seimbang dan anjuran pemberian makanan tambahan untuk anak.                                                   

Kini terlihat kan, betapa besar manfaat KMS untuk memantau pertumbuhan anak. KMS juga berguna untuk deteksi dini apabila anak mengalami pertumbuhan yang tidak baik seperti berat badan anak tidak kunjung naik meski nafsu makannya baik.

Jadi, jangan lupa selalu bawa KMS saat anak menemui tenaga kesehatan, isi KMS, dan lakukan pembacaan KMS setiap bulannya ya!

Masih bingung? Tonton IG Live "Membaca KMS & KKA: Grafik Hijau Bisa Jadi Ranjau" bersama dr.Tan Shot Yen, M.Hum dan Safrina Salim, SKM, M.Kes (Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN) di IG TV @skata_id! 

 

 

 

Referensi:

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 155/Menkes/PER/I/2010/ Tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi Balita

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata