Mungkin kita pernah bertanya-tanya, “Normal tidak ya, kalau anakku usianya 2 tahun sedangkan beratnya 10 kg? Seharusnya berat badannya berapa kilogram, sih?” Tak perlu bingung, jawaban dari pertanyaan tersebut dapat diketahui dengan membaca Kartu Menuju Sehat atau biasa disingkat KMS.

IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menyebutkan, ada dua macam alat untuk memantau atau melakukan deteksi dini pertumbuhan anak, yaitu Kartu Menuju Sehat (KMS) dan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA).  Badan kesehatan dunia (WHO) pun mencantumkan KMS sebagai pemantau pertumbuhan anak dengan standar internasional. 

Apa itu KMS?

KMS adalah kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak usia 0-5 tahun berdasarkan berat badan, usia, dan jenis kelamin. 

Untuk apa sih KMS itu?

Dalam KMS, kita bisa mencatat pertumbuhan serta memantau perkembangan balita setiap bulannya. Dengan demikian, kita bisa mendeteksi gangguan pertumbuhan sejak dini, sehingga tindakan pencegahan dapat diambil sebelum masalah menjadi semakin berat. Bisa dikatakan, KMS adalah “rapor” pertumbuhan anak. 

Seberapa sering KMS harus diisi?

Layaknya rapor, KMS harus diisi secara rutin setiap bulan agar kita bisa melihat tumbuh kembang anak secara akurat.

Bagaimana cara mengisinya?

1. Pilih KMS biru untuk anak laki-laki dan merah muda untuk anak perempuan.

2. Isi identitas anak dan orang tua pada halaman muka KMS, agar memudahkan jika sewaktu-waktu data tersebut dibutuhkan.

3. Tulis bulan lahir anak pada kolom umur 0 bulan. Lalu, isi semua kolom bulan penimbangan berikutnya secara urut. Misal, anak lahir bulan Maret, maka kolom berikutnya adalah April, Mei, Juni, dan seterusnya.

4. Letakkan titik pada pertemuan garis tegak (umur) dan garis datar (berat badan). 

5. Tulis berat badan di bawah kolom bulan saat penimbangan 

6. Hubungkan titik berat badan bulan ini dengan bulan yang lalu dalam bentuk garis lurus.

7. Catat aktivitas lain seperti imunisasi, pemberian kapsul vitamin A, dan pemberian ASI eksklusif.

8. Catat pula setiap kejadian yang dialami anak –seperti saat sakit- agar riwayatnya terekam secara faktual dan komprehensif. 

Mau pakai versi online-nya juga boleh, meskipun data yang dimasukkan tak akan sedetail versi cetak.

Nah, mengingat KMS umumnya diisi oleh tenaga kesehatan, maka jangan lupa selalu membawa KMS saat mengunjungi posyandu atau fasilitas kesehatan, termasuk dokter/bidan. Mereka akan memberikan catatan tambahan jika diperlukan, sehingga kita bisa melihat riwayat kesehatan anak. 

Jika pertumbuhan anak terekam rapi di KMS, mau berganti dokter pun tak masalah karena siapapun bisa membaca riwayat kesehatan anak dalam kartu. Ini pun memudahkan dokter atau bidan mencari penyebab dan memutuskan tindakan yang sesuai jika didapati gangguan.

Meskipun demikian, kita pun bisa membaca hasil KMS secara mandiri, lho. Tak terlalu rumit kok caranya, baca di sini. 

Cukup mudah kan, memantau pertumbuhan anak? Kuncinya adalah disiplin mengisi KMS. Jangan lupa, simpan KMS di tempat yang mudah diingat, ya.

 

 

Referensi:

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 155/Menkes/PER/I/2010/ Tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi Balita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata