Maria (bukan nama sebenarnya) akhirnya tak lagi tahan dengan perbuatan menantu terhadap anaknya, Ratri (nama samaran). Ia tahu, anaknya selama ini diperlakukan tidak baik oleh menantunya. Ratri dilarang memasang kontrasepsi oleh suaminya, namun saat hamil dan melahirkan ia dan anak-anaknya ditelantarkan. Berhubungan intim seringkali dipaksa sehingga menimbulkan luka. Tak ingin penyiksaan berlanjut, ia akhirnya melaporkan kejadian pada Bidan Septri Penyuluh KB Bekasi di tahun 2016. Saat itu, keadaannya memprihatinkan dengan luka sekitar vagina dan lebam di bagian paha. 

Melihat kondisi luka, bidan pun menyatakan Ratri mengalami marital rape 

Menurut European Institute for Gender Equality (EIGE), marital rape adalah penetrasi vagina, anal, atau oral tanpa persetujuan pada tubuh orang lain dengan bagian tubuh atau objek apapun atau tindakan non-konsensual lain yang bersifat seksual oleh pasangan dalam ikatan pernikahan. Terkadang, marital rape dilakukan dengan kekerasan, ancaman kekerasan, atau intimidasi ketika tidak menyetujui hubungan seks. 

Ternyata, di Indonesia jumlah kasus marital rape cukup mengejutkan

Menurut catatan tahunan Komisi Nasional Perempuan di tahun 2020 tercatat sebanyak 299.911 kasus kekerasan pada perempuan, yang di dalamnya terdapat 6.480 kasus (79%) Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan sebanyak 3.221 (49%) kekerasan pada istri, di mana marital rape adalah salah satunya. 

Kebanyakan kasus dilaporkan pada lembaga non pemerintah dengan berbagai alasan seperti tabu atau merasa ini adalah masalah pribadi sehingga tak ingin diperbesar. Bahkan tak jarang pula yang seperti Ratri, di mana justru keluarga atau kerabat yang melaporkan karena yang bersangkutan lebih memilih untuk diam. 

Baca: Vagina Berdarah Setelah Hubungan Seks, Ini Penyebabnya

Sayangnya, banyak kasus marital rape yang dibiarkan menggantung...

Alasannya, karena keluarga tidak mau memperpanjang, atau pihak istri masih merasa iba pada pasangan. Karena menggantung, terjadi kekerasan berulang. Karenanya, melaporkan ke pihak kepolisian sangat dianjurkan untuk memberikan efek jera, dan keamanan bagi istri. 

Jika pasien masih ragu dan takut, ini panduan yang bisa kita berikan padanya.

Ketika korban memilih untuk melaporkan ke bidan, apa yang perlu dilakukan?

• Saat ada laporan kasus marital rape, bidan akan melakukan pemeriksaan awal dengan pemeriksaan inspekulo lalu pemeriksaan dalam. Bidan juga membantu pendampingan saat kehamilan, proses persalinan hingga penggunaan alat kontrasepsi. 

• Jika korban ingin lanjut ke ranah hukum, maka bidan akan membantu mekanisme rujukan ke RSUD untuk dibuat visum et repertum serta laporan kasus untuk dilaporkan ke pihak kepolisian. Bidan juga membantu mengkoordinasi pelayanan medis. 

• Sebaliknya, jika korban enggan melanjutkan ke proses hukum, bidan bisa memberikan layanan penyembuhan medis, penyuluhan, perawatan, serta konseling dengan bidan maupun volunteer ruang ramah perempuan. 

• Bidan siap dalam memberi dukungan psikologis dari awal hingga penyembuhan. 

Ragu untuk melaporkan karena tak paham hukum?

Perlu diketahui, saat ini marital rape sudah masuk dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) yang mencakup kekerasan fisik, psikis, seksual serta penelantaran rumah tangga. Sehingga, sebagai bidan kita perlu meyakinkan korban untuk melindungi dirinya agar terhindar dari kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis atau ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

 

Photo created by jcomp - www.freepik.com

 



Tanya Skata