Pernah ngerasa bosen nggak, kok hubungan seks kita dan pasangan gitu-gitu aja? Atau, sebenarnya kita pengen gaya ini dan itu tapi mau bilang ke pasangan bingung caranya. Hmmm, nggak usah minder. Masalah ini ternyata banyak dialami oleh pasangan suami istri di Indonesia. Meskipun pasangan muda saat ini sudah lebih terbuka mengenai masalah seks, namun memulai duluan untuk ngomong ke pasangan adalah masalah yang berbeda.

Memang penting ya harus diomongin?

Penting, dong. Bila selama ini rutinitas seks yang terjadi adalah mengajak/diajak- berhubungan- selesai, begitu terus selama bertahun-tahun, suatu saat rasa jenuh dan bosan bisa muncul. Getar-getar itu hilang. Seks hanya jadi pemuas hasrat semata, bagi yang akhirnya puas. 

Jika tidak puas, godaan untuk berselingkuh bisa saja datang. Bagaimana jika istri hampir selalu tak menikmati seks tapi keyakinan yang dianut mengajarkan untuk patuh pada suami? Atau, suami sering ditolak “proposalnya”. Ini bisa jadi gunung es masalah rumah tangga. Kecanduan pada pornografi juga bisa muncul ketika kehidupan ranjang jauh dari harapan.

Padahal, seks dalam rumah tangga bagaikan lem perekat bangunan untuk membangun keintiman dan kedekatan. 

Karena itu, ngomongin seks (ada maupun tak ada masalah) penting untuk dilakukan.

Gimana caranya? 

Mengingat urusan seks adalah hal yang cukup sensitif, pikir baik-baik sebelum memulai omongan. Beberapa poin penting yang harus diingat adalah:

1. Pilih waktu yang tepat

Timing atau pemilihan waktu akan menentukan sukses tidaknya pembicaraan ini. Pilih waktu di saat kita dan pasangan sedang rileks, tak terburu-buru, dan suasana hati sedang bagus. Saran dari Asosiasi Perencanaan Keluarga di Inggris dalam theguardian.com adalah membicarakannya sebelum atau sesudah berhubungan seks, bukan pada saat berhubungan. 

Kecuali, omongan tersebut menyangkut fantasi seks kita. Fantasi seks memang lebih baik diutarakan dalam posisi terangsang sehingga mendengarnya tidak terkesan jijik (karena fantasi memang biasanya “unik”).

2. Gunakan kata “aku” 

I-message atau memakai kata ganti “aku” daripada “kamu” ternyata juga bisa dipakai saat ingin bicara seks dengan pasangan. Misalnya, “Aku seneng lho kalau pemanasannya lama kaya tadi” lebih enak didengar daripada “Kamu maunya langsung tembak aja”. Kalimat yang menggunakan i-message tidak berkesan menuduh atau memojokkan sehingga lebih mudah diterima.

Baca: 4 Manfaat Foreplay

3. Beri masukan sebelum beri kritikan

Ketika omongan soal seks yang ingin kita sampaikan ternyata berupa kritik, awali dulu dengan pujian. Katakan apa yang kita suka dari pasangan, sehingga ini bisa menjadi masukan berharga baginya, dan tentu ia akan mengulanginya lagi. Setelah itu, baru ungkapkan apa yang kurang kita sukai, tentu masih menggunakan sudut pandang “aku”. 

Baca: Istri Sering Mengkritik, Suami Gemar Menghindar. Apa Solusinya?

4. Dengarkan juga apa kata pasangan

Karena fokus ke “gimana cara ngomongnya” dan “apa yang harus diomongin”, kita kadang lupa untuk mendengarkan pasangan setelahnya. Jadilah pendengar yang baik, terima pendapatnya (karena seringnya kita menganggap diri ini paling benar), minta pasangan untuk bercerita atau mengungkapkan perasaannya lebih banyak. Jika komunikasi berlangsung efektif, tentu apa yang ingin kita perbaiki dari hubungan seks dengan pasangan akan lebih mudah dicapai.

Seni mendengarkan pasangan tak harus dimulai dari adanya uneg-uneg dari kita dulu, lho. Coba tanyakan apa ia merasa sudah senang dengan kehidupan seksnya, apakah ada lagi yang ia inginkan tapi belum kesampaian. Siapa tahu kita merasa baik-baik saja, tapi pasangan merasa sebaliknya.

Yuk, jangan ragu ngomong seks dengan pasangan, jangan ragu pula mulai duluan. Apalagi, jika ada yang mengganjal. Jangan dipendam karena bisa menjadi bom waktu, setuju?

 

Photo created by jcomp - www.freepik.com

 

 



Tanya Skata