Saat masih menyusui, pilihan kontrasepsi lebih sedikit karena takut proses menyusui terganggu. Hormon pada beberapa jenis KB memang bisa membuat ASI terhambat. Terus kalau anak sudah disapih bagaimana? KB apa yang paling cocok? Nih, Skata bantu berikan gambaran.

1. KB alamiah 

Metode alamiah seperti menggunakan kondom, metode kalender, atau senggama terputus boleh kok menjadi pilihan kontrasepsi. Tapi, tingkat keberhasilannya sangat rendah, jadi risiko ditanggung penumpang ya.

2. Pil KB

Buat yang enggak mau ambil risiko gagal tadi, bisa konsumsi pil KB. Karena sudah selesai menyusui, tidak ada pil KB yang jadi pantangan lagi. Bebas mau pilih yang ada kandungan progesteron saja atau yang kombinasi estrogen-progesteron, asal tidak ada riwayat darah tinggi. Tidak masalah mau pilih yang 21 hari atau yang ada kandungan plasebonya (pil kosong).

Baca: Penderita 5 Penyakit Ini Harus Lebih Cermat Pilih Metode KB 

3. Suntik KB

Sama dengan pil KB, jika sudah menyapih tidak perlu galau suntiknya mengandung estrogen atau tidak. Asyiknya, kita tinggal memilih mau suntik sekali sebulan atau tiap 3 bulan. 

4. Implan

Bila kita ingin efek kontrasepsi yang lebih lama, pemasangan implan bisa dipertimbangkan. Bahkan, ada implan yang efeknya sampai 5 tahun. Plus, tidak perlu bolak-balik ke faskes atau atur jadwal minum pil.

5. IUD (AKDR/Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)

IUD merupakan pilihan lain kontrasepsi jangka panjang selain implan. Ibu boleh pasang IUD yang mengandung hormon, pakai yang non-hormonal pun dipersilakan.

6. Tubektomi 

Jika ibu sudah stop menyusui dan tidak berencana hamil kembali, kontrasepsi pilihan utama adalah tubektomi. Jenis kontrasepsi ini sifatnya invasif melalui operasi sehingga keputusan untuk melakukan tubektomi harus dipikirkan matang-matang. Jangan lupa melibatkan suami karena persetujuan suami akan diminta oleh dokter sebelum pelaksanan tubektomi. 

Baca: Setelah Tubektomi, Apakah Masih Bisa Hamil?

Penting untuk diketahui sebelum ber-KB

Setiap jenis kontrasepsi -bahkan yang tergolong alamiah pun- dapat menyebabkan efek samping. Misal, penggunaan kondom bisa menyebabkan gatal dan keputihan akibat reaksi alergi dengan bahan lateks. Kontrasepsi yang mengandung hormon pun bisa berisiko menyebabkan gangguan haid. Kontrasepsi mantap semacam tubektomi pun tak luput dari kegagalan. 

Supaya tidak salah pilih, konsultasi dulu dengan tenaga kesehatan sebelum memutuskan ber-KB merupakan langkah tepat. 

 

Referensi:

1. Permenkes No 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual 

2. Buku rekomendasi Praktik Terpilih pada penggunaan kotrasepsi edisi ketiga 2016

3. Perka BKKBN Nomor 24 Tahun 2017 tentang Pelayanan Keluarga Berencana Pasca Persalinan dan Pasca Keguguran 

 

Photo by Reproductive Health Supplies Coalition on Unsplash

 



Tanya Skata