Jika selama ini para ibu sering dibuat pusing oleh anak yang kurus karena sulit makan, ternyata banyak juga yang anaknya malah kelebihan berat badan hingga mengalami obesitas. Sayangnya, hal ini sering tidak terdeteksi mengingat balita yang gemuk dianggap sehat dan menggemaskan. Begitu pula dengan anak usia sekolah. Rasanya tidak tega membatasi apa yang mereka makan mengingat “ini kan masa pertumbuhan”. Padahal, sekitar 80% remaja berusia 10-15 tahun yang mengalami obesitas akan mengalami obesitas pula pada usia 25 tahun. Artinya, kita harus segera melakukan tindakan sebelum Ananda memasuki usia tersebut. Tapi, bolehkah mengajak mereka berdiet?

Diet tak sekadar turunkan berat

Diet sering diartikan sebagai membatasi porsi dan jenis makanan untuk turunkan berat badan. Padahal, turunnya berat badan bukan menjadi tujuan utama diet untuk anak obesitas, melainkan mengubah kebiasaan makan atau mengubah pola makan menjadi lebih sehat. Pola makan sehat itu yang seperti apa? Tentunya yang bergizi seimbang, baik dari jenis nutrisi maupun porsinya, disertai aktivitas fisik. Jika asupannya sesuai kebutuhan tubuh, tentu anak bisa mencapai berat badan yang ideal. Dengan definisi seperti ini, diet boleh dilakukan untuk usia berapapun.

Baca: Obesitas pada Anak Balita, Apa Indikatornya

Mulai dari mana? 

Mulai dari kita, orang tuanya. Anak meniru kebiasaan makan orang tuanya. Ketika anak terkena obesitas, coba evaluasi pola makan dan gaya hidup kita. Jangan-jangan, kitalah yang selalu menyediakan makanan tinggi kalori kosong nutrisi untuk sekeluarga. Kita pula yang mengenalkannya pada makanan “bermerk” alias makanan pabrikan yang rasanya bikin ketagihan. Kita juga yang menuruti permintaan makanannya ketika ia mogok makan sayur dan buah, hanya ingin sosis dan nugget. 

Jadi, ini yang sekarang bisa kita lakukan:

• Singkirkan makanan dan minuman penyebab obesitas dari rumah

Makanan ultra proses yang tinggi gula, garam, lemak tak hanya memicu obesitas namun juga menurunkan nafsu makan makanan sehat. Kita dapat melakukannya secara bertahap, misal mulai dari mengurangi jenisnya maupun jumlahnya. Melarang anak untuk sama sekali tidak makan semua jenis junk food yang selama ini ia konsumsi bisa membuatnya lebih tertarik pada makanan yang dilarang. Sebagai gantinya, sediakan camilan sehat. Jika anak biasa minum susu yang manis, ganti dengan susu rendah lemak tinggi kalsium. 

• Makan bersama anak dengan menu yang sama

Penelitian di Inggris menunjukkan bahwa keluarga semakin jarang makan bersama. Padahal, makan bersama keluarga tak hanya melatih balita untuk makan dengan benar, mengasah kemampuan sosial dan bicaranya, namun juga membuat balita terdorong untuk mencoba berbagai jenis makanan. Orang tua pun lebih mudah memantau apa yang anak makan. Jadi, usahakan untuk makan bersama meskipun hanya sekali sehari. Yang perlu diingat, samakan menu anak dan orang tua. Juga, pastikan momen makan bersama ini menyenangkan.

• Sediakan sayuran, buah, dan pangan kaya serat lainnya

Kita bisa menyediakan berbagai jenis makanan sehat bergizi seimbang saat makan bersama. Khusus untuk sayur, sediakan 1 sayur yang pasti anak mau, dan 1-2 jenis lain yang belum ia sukai. Tawarkan untuk mencoba sedikit, lalu tawarkan lebih banyak jika anak mau. 

• Pilih protein yang rendah lemak

Hindari kulit ayam, berikan lebih banyak ikan, daging tanpa lemak, atau tempe. 

• Biasakan anak banyak minum air putih

• Terpenting, biarkan mereka bergerak aktif! 

Anak perlu bergerak aktif tiap harinya, setidaknya 180 menit dalam sehari untuk anak usia 3-5 tahun (bisa dilakukan 15 menit per jam), atau 60 menit sehari untuk usia 6 tahun ke atas. Jika anak malas melakukannya, kita bisa cari cara kreatif seperti jalan pagi bersama, bersepeda di sore hari, melakukan kegiatan olahraga yang mereka senangi. Jika anak masih balita, biasakan untuk berjalan sendiri tanpa sering digendong.

Satu hal yang tak boleh kita lupa, beri pemahaman pada anak mengenai pentingnya makan sehat. Jangan sampai mengganti menu dengan alasan “kamu kegemukan” tanpa penjelasan. Jelaskan asal mula makanan, apa fungsinya bagi tubuh, bagaimana jika kita banyak memasukkan makanan “jahat” ke tubuh kita. Banyak buku dan video yang bisa kita gunakan untuk menjelaskan ini. 

Jangan utamakan hasil, ya. Nikmati prosesnya, agar tercipta gaya hidup sehat untuk anak sehingga mereka nyaman menjalaninya. Jika dilakukan dengan menyenangkan, percayalah hasilnya tak akan mengecewakan!

 

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Pika Novriani Lubis

Food photo created by tirachardz - www.freepik.com

 



Tanya Skata