Apa jadinya jika setiap harinya anak akrab dengan berbagai biskuit, roti, minuman bergula tinggi (termasuk susu, dipadukan dengan sereal yang juga manis), makanan cepat saji? Jika ditambah dengan jarang makan sayur dan buah, plus jarang bergerak karena hiburannya adalah gadget dan layar televisi, bisa-bisa anak menjadi overweight, lalu terkena obesitas.

Obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidakseimbangan antara energi yang masuk ke tubuh dengan energi yang digunakan. Kabar buruknya, jumlah anak balita yang mengalami obesitas di dunia mencapai 41 juta (tahun 2016), di mana setengahnya berada di Asia, termasuk Indonesia. Angka obesitas pada anak di Indonesia pun berada di kisaran 7,44%, (tahun 2017) melebihi standar WHO yang maksimal 5%.

Memangnya anak dikatakan obesitas kalau berapa kg beratnya?

Standar yang digunakan untuk mengetahui apakah anak obesitas atau tidak adalah kurva pertumbuhan (growth chart) berat badan berbanding tinggi badan (BB/TB) dari WHO tahun 2006. Kita bisa melihatnya di buku KIA atau mengunduh di situs IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Kurva ini berbeda antara anak laki-laki dan perempuan, jadi jangan sampai tertukar. Biasanya, garis tepi kurva berwarna biru untuk anak laki-laki dan tepi merah muda untuk anak perempuan. 

Perhatikan pula jenis kurvanya, karena ada pula kurva tinggi badan berdasar usia (TB/U) dan kurva berat badan berdasar usia (BB/U).

 

Cara mengetahui status gizi anak adalah dengan menarik garis berat badan dan tinggi badan anak hingga bertemu di satu titik. Jika plot atau titik pertemuantersebut berada di garis hijau, tandanya status gizinya baik. Tapi, jika berada di garis merah (+2 SD) atau lebih, tandanya ia mengalami overweight. Nah, jika berada di garis hitam (+3 SD) atau lebih, ia mengalami obesitas. Untuk lebih jelasnya, baca di sini.

Apakah penyebabnya?

1. Faktor lingkungan (pola makan dan aktivitas fisik)

Asupan makanan berlebih menjadi sebagian besar penyebab obesitas. Ketika asupan makanan berlebih namun aktivitas fisik kurang, energi yang berlebih ini disimpan dalam bentuk jaringan lemak di seluruh tubuh. Inilah mengapa anak obesitas dapat juga diketahui dari ciri fisik seperti dagu rangkap, pipi tembem, perut buncit, leher pendek, payudara membesar, paha dalam saling menempel, dan penis “terbenam” pada anak laki-laki.

Selain kurang gerak, kelebihan energi ini juga bisa disebabkan oleh rendahnya metabolisme tubuh dan banyaknya konsumsi makanan berlemak yang cederung sulit dipecah dibanding karbohidrat dan protein.

Yang menarik, obesitas pada balita juga dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan gizi sang ibu, tidak diberi ASI eksklusif, ibu yang bekerja, daya beli keluarga yang tinggi, dan sebaliknya, daya beli keluarga terlalu rendah.

2. Faktor genetik

Anak yang memiliki salah satu orang tua yang obesitas, memiliki 40-50% peluang hal yang sama. Sementara untuk mereka dengan kedua orang tua yang obesitas, peluang mengalami hal sama menjadi 70-80%. 

3. Faktor obat-obatan dan faktor hormonal

Jika anak mengonsumsi jenis steroid (biasanya digunakan untuk terapi asma, alergi, dan osteoarthritis), biasanya nafsu makannya menjadi tinggi. Selain itu, hormon leptin, ghrelin, tiroid, insulin dan estrogen juga bisa menyebabkan obesitas.

Baca: Stunting Waktu Kecil, Obesitas Saat Dewasa. Kok Bisa?

Apakah akan permanen?

Obesitas pada balita masih bisa diusahakan untuk kembali ke berat badan normal. Tapi, semakin kecil usia balita terkena obesitas, makin sulit pula untuk menurunkan berat badan. 

Karena itu, perhatikan benar apa saja yang kita berikan pada anak, juga aktivitas fisiknya.

Sehat sekarang, investasi kita untuk masa depan.

 

 

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Pika Novriani Lubis

Photo created by jcomp - www.freepik.com

 

 

 

 



Tanya Skata