Selain pada remaja putri dan ibu hamil, anemia defisiensi besi juga kerap kali menyerang anak-anak khususnya balita dan anak sekolah. Tak tanggung-tanggung, dari laporan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di tahun 2007 hampir ½ populasi anak dari kategori usia tersebut mengalami anemia. Akibat anemia, anak jadi pucat, malas makan, malas bergerak. Pada anak sekolah, gejala yang paling jelas terlihat adalah anak jadi sering bengong dan mengantuk. 

Apa penyebab anemia defisiensi besi pada balita?

1. Pertumbuhan pesat

Masa balita adalah masa pertumbuhan yang pesat. Banyaknya kebutuhan zat gizi harus dipenuhi oleh nutrisi yang masuk ke tubuh. Bila tidak, akan terjadi kekurangan zat gizi termasuk zat besi.

2. Pilih- pilih makanan

Anak yang picky eater (pemilih makanan) cenderung mengalami anemia karena kurangnya variasi jenis makanan.

Baca: 8 Cara Ampuh Mengatasi Anak yang Suka Pilih-Pilih Makanan

3. Infeksi

Antara infeksi dan anemia defisiensi besi seperti lingkaran yang saling terhubung. Proses infeksi dalam tubuh akan menyebabkan anemia karena bakteri menggunakan zat besi sebagai sumber tenaga untuk “menguasai” tubuh manusia. Tidak hanya infeksi bakteri, anak-anak juga sering kali mengalami infeksi akibat kecacingan yang menyedot zat besi tubuh. Di sisi lain, anemia defisiensi besi menjadi pintu masuknya infeksi.

4. Perdarahan

Keluarnya darah dalam tubuh dalam jumlah banyak otomatis akan menurunkan hemoglobin dan kadar zat besi dalam tubuh.

5. Pica

Pica adalah gangguan makan pada anak yang ditandai dengan kegemaran makan sesuatu yang tidak lazim misalnya tanah, kertas, batu dan lain-lain. ‘Hobi’ yang tidak biasa ini akan menyebabkan tubuh kekurangan zat besi. 

Baca: Apa yang Harus Dilakukan Bila Terkena Anemia

Diagnosis anemia defisiensi besi

Bila anak terlihat mengalami gejala dan tanda di atas, orang tua harus konsultasi ke dokter untuk memastikan penyebab keluhan anak. Kalau dokter curiga anak mengalami anemia defisiensi besi, anak akan dirujuk untuk melakukan pemeriksaan darah di laboratorium. 

Diagnosis anemia defisiensi besi dipastikan dari turunnya kadar Hb yang disertai rendahnya kadar MCV (Mean Corpuscular Volume), hematokrit, status cadangan besi tubuh (Serum Iron dan Total Iron Binding Capacity), dan feritin.

Pengobatan anemia defisiensi besi

Jika benar anak mengidap anemia defisiensi besi, dokter akan memberikan obat tetes atau sirup yang berisi suplemen zat besi. Untuk mengurangi efek samping, obat harus dikonsumsi setelah makan, bersama dengan air putih. Setelah diberikan obat, dokter akan menganjurkan kembali pemeriksaan darah untuk mengecek apakah kadar Hb sudah naik atau belum. Bila nilainya sudah normal, konsumsi obat harus diteruskan sampai 2-3 bulan setelahnya untuk mempertahankan cadangan zat besi dalam tubuh. 

Pencegahan anemia defisiensi besi

Anemia defisiensi besi dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal, berikut:

• Stop kebiasaan memberikan anak teh saat makan. Asam tanat dalam teh akan menghambat penyerapan zat besi. Lebih baik berikan jus buah yang kaya kandungan vit C supaya zat besi dapat diserap lebih mudah. 

• Batasi konsumsi susu. Hindari memberi susu bila anak sulit makan karena susu bukanlah pengganti  makanan. Kalsium yang ada dalam susu dapat menghambat penyerapan zat besi. 

• Variasikan menu agar anak mendapat zat gizi dari berbagai sumber makanan yang berbeda. Pastikan terdapat menu makanan kaya zat besi dalam piring anak misalnya dari daging, hati, atau ikan.

Mari kita cegah anemia pada anak kita demi tumbuh kembang optimal. 

 

Photo created by rawpixel.com - www.freepik

 

Referensi:

Rekomendasi Besi untuk Anak IDAI 2011

 



Tanya Skata