Saat kita menikah dulu, sudah terbayang mau punya anak berapa? Satu dulu, langsung yakin dua, atau mungkin pasrah diberi berapa aja. Zaman berganti, orang makin sadar kapasitas dan keinginan diri sehingga punya anak tak mesti dijabani. Childfree, atau menikah tanpa anak (karena memang tak ingin, bukan tak mampu), sedang menjadi perbincangan di Indonesia. Mendobrak budaya dan agama, namun ternyata mulai banyak dijalani. Apa alasannya? 

1. Tak ingin mengulang kesalahan pengasuhan yang sama

Psikolog Zoya Amirin dalam wawancaranya dengan tirto.id mengungkapkan bahwa internet membuat orang lebih aware (sadar) dengan konsekuensi dari pilihan hidupnya, lebih aware tentang kesehatan mental, termasuk bagi mereka yang dibesarkan oleh orang tua toxic ("beracun" alias membawa dampak buruk). 

Jika mereka memilih untuk mempunyai anak di saat luka pengasuhan yang ditimbulkan oleh orang tua mereka belum sepenuhnya sembuh, maka konsekuensinya bisa jadi terulangnya kesalahan pengasuhan yang sama terhadap anak mereka, baik secara sadar atau tidak. 

Baca: Luka Pengasuhan di Masa Lalu, Dapatkah Disembuhkan?

2. Sadar bahwa punya anak itu pilihan

Gita Savitri, seorang influencer yang memilih untuk childfree sempat bertanya pada ibunya, mengapa dulu ingin punya anak. Ibunya menjawab, bahwa yang ia tahu memiliki anak bukanlah opsi, tapi sepaket dengan pernikahan. Namun, generasi sekarang lebih paham akan hak dan kewajibannya, juga hak atas tubuhnya. Bahwa, tidak ada yang bisa memaksa dirinya untuk memiliki anak. Jika tidak ingin, ya tidak usah dijalani, meski konsekuensi sosialnya di Indonesia masih tinggi. 

3. Belum sanggup mengasuh anak

Tanggung jawab sebagai orang tua tak main-main, hampir di semua aspek kehidupan, dan tanpa jeda. Citra orang tua ideal di media sosial yang bisa mengatur emosi, selalu membersamai, penyedia pangan bergizi, membuat diri yang penuh kekurangan ini seperti tak sanggup menjalani. Apalagi, orang tua harus menjadi role model, sekaligus penunjuk jalan dengan peta rencana pengasuhan sehingga potensi baiknya mewujud. Diri sendiri saja masih bergulat dengan setumpuk masalah.. 

Baca: Siapkah Kita Menjadi Orang Tua? Cek Dulu di Sini!

4. Tak ingin kebebasan berkarir, studi, dan kehidupan sosial terganggu

Tumbuh dalam pola pikir di mana karir dan pendidikan adalah pencapaian, seseorang bisa saja menganggap anak adalah hambatan, juga membatasi  kebebasan kehidupan sosial. Daripada kelak harus mengorbankan salah satunya? 

5. Merasa belum siap secara finansial

Tidak semua pasangan yakin anak membawa rezeki. Apalagi, jika mereka masih menjadi tulang punggung adik-adik dan orang tua. Persaingan dunia kerja yang makin keras, (tak terpikir pula terjadi pandemi) menyurutkan niat untuk memiliki anak. Atau, setidaknya menunda hingga kondisi finansial aman. 

6. Takut anak menderita di dunia yang makin "kejam"

Sepuluh tahun lagi, 100 juta anak diperkirakan mengalami kelangkaan pangan. Ini belum termasuk ancaman kenaikan air laut, kekeringan ekstrim, atau kepunahan sebagian spesies di bumi 30 tahun dari sekarang. Bagaimana dengan pelecehan seksual, pedofilia, atau pornografi? Membayangkan anak yang kita sayang berpotensi mengalami semua ini membuat sebagian pasangan memutuskan untuk childfree

Baca: Begini Cara Pornografi Merusak Otak

Setuju tidak setuju, pilihan ini membuka sudut pandang kita bahwa tak semua orang menganggap anak adalah anugerah, tak semua orang bersedia menjalani lika-liku pengasuhan, dan ada sebagian dari mereka yang berani berkata tidak untuk hal yang tak sanggup mereka lakukan. Apapun pilihan kita, jalani dengan sepenuh hati dan penuh syukur..

 

 

Photo created by pressfoto - www.freepik.com



Tanya Skata