Periode kritis pada dua tahun pertama kehidupan anak harus terus dipantau karena pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung optimal. Bila ada masalah tumbuh kembang, harus segera ditangani agar tidak terjadi kelainan permanen. Berikut beberapa penyakit yang bisa memengaruhi berat badan anak berusia di bawah dua tahun (baduta).

1. Anemia 

Anemia dapat menyerang siapa saja termasuk bayi, dengan kasus terbanyak disebabkan oleh kekurangan zat besi. Sebanyak 61,3% bayi berusia dibawah 6 bulan mengalami anemia defisiensi besi dan sebanyak 64,8% bayi berusia 6-12 bulan terkena anemia defisiensi besi. 

Efek yang muncul adalah bayi menjadi kurang aktif, terlihat pucat, dan gampang terkena infeksi. Anak yang terkena anemia tidak hanya mengalami penurunan berat badan, namun juga keterlambatan tumbuh kembang. 

Bila anak memang terkena anemia, dokter akan memberikan suplemen zat besi untuk menaikan kadar Hb dalam darah. Sebagai pencegahan, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) merekomendasikan pemberian zat besi pada anak sampai usia 5 tahun dengan dosis 2-4 mg/kg berat badan per hari. 

2. Covid-19

Anak-anak juga tak luput dari infeksi Covid-19. Sekitar 12,5% kasus terkonfirmasi positif Covid menyerang anak-anak dengan 50% di antaranya adalah usia balita. Sama seperti dewasa, anak bisa tidak bergejala namun bisa juga muncul keluhan demam, pusing, tidak nafsu makan, bahkan ada yang sampai perlu dirawat di RS. 

Pada saat sakit, nafsu makan akan menurun dan berat badan anak akan berpengaruh namun perlahan-lahan akan mencapai berat badan normal kembali bila segera ditangani. Meskipun, anak-anak juga bisa mengalami long covid, dengan gejala akan terus muncul walaupun sudah dinyatakan sembuh. 

Baca: Vaksin Kala Pandemi, Tunda atau Lanjutkan?

3. Hipotiroid kongenital 

Hipotiroid kongenital adalah gangguan fungsi kelenjar tiroid yang dialami sejak lahir (kongenital), sehingga bayi memiliki kadar hormon tiroid yang rendah (hipotiroid).

Penyakit ini sering terabaikan karena pada kondisi awal kebanyakan tidak menampakan gejala. Memantau berat badan dan tumbuh kembang anak dapat membantu deteksi dini hipotiroid kongenital, meski idealnya dilakukan pada 1-3 hari setelah lahir. 

Bila bayi terlihat lemas, tidak aktif, badannya kuning, atau kesulitan makan dan minum, bayi perlu dicurigai mengalami hipotiroid kongenital. Jika terlambat ditangani bisa menyebabkan cacat fisik dan gangguan intelegensia. 

4. Penyakit jantung bawaan

Bayi yang mengalami penyakit jantung bawaan bisa mengalami kesulitan menyusu/minum susu, sering terlihat sesak napas, berat badannya sulit naik, atau sering batuk pilek. Bila kelainannya besar, anak akan terlihat membiru, khususnya saat menangis. 

Tidak semua penyakit jantung bawaan akan berakhir di meja operasi. Ada jenis penyakit jantung bawaan yang hanya perlu observasi saja, artinya anak harus dipantau nutrisinya agar berat badan dan tinggi badannya sama dengan anak seusianya. Pada anak yang lebih besar, bisa diberitahu agar menghentikan aktivitas bila sudah capek atau sulit bernapas. Akan lebih baik bila anak didampingi saat bermain. Supaya anak tidak gampang terkena penyakit infeksi, perlu diberikan imunisasi lengkap. 

Baca: Mengenal Imunisasi Dasar Lanjutan dan Ulangan Booster untuk Anak

Penting banget ya, ternyata memantau berat badan anak. Bila berat badan anak lebih rendah dari se-usianya atau tidak lagi berada pada zona hijau di KMS (Kartu Menuju Sehat), jangan segan untuk konsultasi ke tenaga kesehatan, ya. 

 

 

Referensi :

1. https://www.saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/594/529

2. Panduan Praktik Klinis Diagnosa dan Tata Laksana Hipotiroid Kongenital Ikatan Dokter Anak Indonesia 

3. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mengenal-kelainan-jantung-bawaan-pada-anak

 

 



Tanya Skata