Finger food adalah makanan yang mudah dipegang, digigit dan dikunyah sendiri oleh bayi. Macamnya beragam, bisa sayuran, buah-buahan atau jenis protein. Di media sosial, banyak ibu memperlihatkan bayinya menikmati MPASI berbentuk finger food di saat bayi lain masih makan bubur. Jadi, kapan sebaiknya mengenalkan buah hati dengan finger food?

Ketika bayi sudah mengenal makanan padat sebagai makanan pendamping ASI dan mulai pintar mencoba memasukkan tangannya sendiri ke dalam mulut, voila! Ini adalah momen tepat mengenalkannya pada finger food.

Biasanya, pencapaian tumbuh kembang (milestone) ini terjadi di usia 7 bulan ke atas saat bayi sudah semakin kuat, sudah bisa duduk tanpa ditopang, serta mulai bisa memindahkan barang dari satu tangan ke tangan yang lain. Mulailah dengan memberikan potongan-potongan kecil dan dengan tekstur yang lembut sehingga mudah dicerna. 

Pilihan finger food seperti apa yang boleh diberikan?

Makanan dengan 4 D alias bisa Digenggam, mudah Digigit, Dikunyah dan Ditelan. Ingat ya, yang bisa digigit dan dikunyah (walau bayi belum punya gigi). Kalau kita sudah mengenalkan bayi dengan tesktur puree, kini kita bisa perkenalkan bahan matangnya tanpa harus dihancurkan. Misal, berikan potongan wortel yang sudah dikukus hingga lembut sehingga mudah digigit, dikunyah, dan ditelan. 

Besarnya seperti apa?

Tentunya disesuaikan dengan kemampuan genggaman anak ya, jangan terlalu besar juga jangan terlalu kecil karena akan sulit untuk digenggam. 

Apalagi ya, pilihan finger food yang bisa diberikan?

Banyak pilihan finger food yang sudah bisa dicoba oleh bayi, di antaranya:

Sayuran kukus

Pilih sayuran seperti wortel, brokoli, atau buncis. Tapi, perlu diingat, sayuran ini perlu dikukus hingga lembut agar bayi tidak tersedak. Sementara hindari sayuran berdaun yang sulit dicerna, seperti bayam, kangkung, atau sejenis seledri.

Buah lembut

Buat bayi menjadi pencinta buah sejak dini. Berikan buah-buahan yang lembut seperti pisang atau buah pir yang sudah dikupas dan dipotong-potong. Buah mangga, naga, atau alpukat bisa jadi opsi asalkan semua sudah dikupas dan dipotong. Namun, hindari dulu buah apel (walau sudah dikupas) karena tekstur dan seratnya masih sulit untuk dicerna bayi yang baru mengenal finger food.

Ikan minim duri

Produk ikan seperti ikan dori yang minim duri bisa menjadi pilihan tepat untuk finger food karena selain teksturnya yang memenuhi 4D, ikan juga kaya akan protein, kalsium, dan zat besi serta omega 3 yang penting untuk tumbuh kembang dan energi. 

Lele juga sebenarnya oke lho untuk finger food, hanya saja kita harus memastikan betul tidak ada duri satupun yang tertinggal. Oh ya, kita juga tetap perlu waspada dengan jenis ikan yang (mungkin) mengandung merkuri seperti makarel dan ikan todak, ya. Jenis ini mengandung alergen tinggi yang bisa berbahaya pada bayi. 

Biskuit juga boleh kok

Walaupun sebisa mungkin kita menghindari makanan kemasan, tapi biskuit tidak dilarang untuk diberikan, asal… sesuai dengan tahapan usianya. Biasanya biskuit bayi terdapat keterangan usia di kemasan, ini berhubungan dengan tekstur yang diberikan. Semakin tinggi usia, teksturnya semakin padat dan mengeras. 

Tahu (tanpa tempe)

Mau memberikan finger food protein? Tahu bisa menjadi pilihan hanya dengan merebusnya bersama dengan kuah kaldu. Gurihnya kaldu akan meresap ke dalam tahu sehingga membuatnya lezat saat dimakan. Tapi, karena tahu bisa memicu alergi tunggu hingga tiga hari untuk melihat reaksi alergi dan baru kenalkan bayi dengan pilihan protein lainnya, ya. 

Di usia ini, tempe belum dianjurkan karena kandungan kacangnya masih sulit untuk dicerna dan bisa menyebabkan tersedak. Berikan tempe ketika anak sudah pintar mengunyah hingga halus, ya. 

Wah semakin banyak pilihan untuk memberikan bayi finger food, tapi tunggu dulu tak semua bahan makanan bisa diberikan. Kita perlu hindari… popcorn, kacang-kacangan, kismis, sayuran mentah (termasuk wortel), serta buah anggur. Ini bisa berbahaya dan membuat bayi tersedak karena tak mudah dicerna. 

Jangan lupa, siap memberi finger food berarti harus siap kotor, ya! Biarkan bayi bebas “berkenalan” dengan makanannya, kelak kita akan merasakan “bayarannya” saat ia lahap makan di usia yang lebih besar. Yang penting pastikan kita memenuhi standar keamanan pangan seperti anjuran WHO. Unduh e-book nya di sini.

 

 

Photo by Polina Tankilevitch from Pexels

 



Tanya Skata