Mungkin kita pernah mendengar berita tentang bayi 4 bulan yang meninggal karena diberi nasi utuh selama seminggu. Ada pula berita bayi tersedak karena diberi pisang sebelum waktunya. Dua contoh ini setidaknya menjadi bukti bahwa tak semua ibu mengerti, mengapa sih harus menunggu 6 bulan untuk bisa memberi makan bayi? Apalagi, jika ibu, mertua, maupun para tetangga meyakinkan kita bahwa, “kita dulu makan pisang umur 5 bulan dan sehat sampai detik ini”. Hmmm, mitos semacam ini bisa berakibat fatal. 

Kenapa berbahaya?

Ada beberapa alasan, yaitu:

1. Sistem pencernaan bayi belum cukup matang untuk mencerna makanan padat karena produksi air liur dan enzim masih sedikit.

2. Sistem imun juga belum matang, sehingga berisiko menimbulkan alergi makanan.

3. Sistem otot dan saraf belum berkembang sempurna untuk bisa mengunyah.

4. Adanya risiko MPASI menjadi pengganti ASI, bukan pendamping.

Bayi bisa saja tak tersedak dan terlihat mudah menelan makanan, tapi efek samping pemberian MPASI pada bayi yang cukup umur tidak selalu dalam hitungan jam, hari, atau bulan. Menurut Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum., memberikan makanan pada bayi di usia kurang dari 6 bulan memilik efek jangka panjang. Bayi bisa terkena diare, gangguan pencernaan, mengalami kurang gizi kronis (stunting), hingga obesitas yang berujung komplikasi kesehatan seperti diabetes, kolesterol, dan lainnya di kemudian hari. 

Baca: Stunting Waktu Kecil, Obesitas Saat Dewasa. Bagaimana Bisa?

“Kalau gitu, MPASI saat anak usia setahun aja biar aman..”

Eh, jangan terlalu lama juga. Ketika bayi lahir, ia hanya membutuhkan ASI. Kenapa? Karena ASI terbukti mampu memenuhi semua kebutuhan mikro dan makro nutrien lengkap yang dibutuhkan bayi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Tapi, pada usia 6-24 bulan, kalori dari ASI tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan energi bayi. Karenanya, harus diberi makanan pendamping. 

Jadi, kapan donk boleh diberikan MPASI?

Saat bayi sudah bisa menahan kepalanya dengan tegak tanpa bantuan, sudah mulai ada ketertarikan untuk makan apa yang kita makan, dan menunjukkan tanda lapar, di saat itulah bayi siap makan. Umumnya, kemampuan ini bisa dilakukan bayi di usia 6 bulan. 

Perlukah ASI dihentikan saat sudah mulai MPASI? 

Tentu tidak, MPASI hanya pendamping ASI bukan pengganti. ASI harus tetap diberikan hingga bayi berusia dua tahun karena ASI masih dibutuhkan sebagai nutrisi tumbuh kembang sekaligus menjaga daya tahan tubuhnya. 

Baca: Rahasia di Balik 1000 Hari Pertama Kehidupan yang Tentukan Masa Depan

Meskipun hanya pendamping ASI, kita perlu memerhatikan benar nutrisi MPASI. Otak anak berkembang pesat pada 1000 hari pertama kehidupannya, yaitu sejak masih dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Setelah itu, perkembangan otak akan melambat. Karena itu, memberi MPASI bernutrisi akan mampu:

  • meningkatkan kemampuan kognitif
  • mencegah stunting (kurang gizi kronis) 
  • menurunkan risiko anemia yang mungkin terjadi di usia 6-24 bulan
  • mencegah infeksi saluran pencernaan, pernafasan, dan diare yang lazim terjadi karena bayi belum memiliki sistem imun yang kuat
  • menjaga kesehatan mental dan emosional anak. 

Ketika menyiapkan MPASI pastikan juga ya, bahan pangan yang diberikan adalah bahan utama yang dibutuhkan. Cukup lemak sehat dan tinggi zat besi heme. Lalu, selalu pastikan kebutuhan bayi kita pada ahli gizi, bukan semata-mata melihat dari internet atau bahkan perkataan orang lain.

 

  

Foto dari www.freepik.com  

 

 

 



Tanya Skata