Hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2015 menunjukkan data kematian ibu telah menembus angka 305 per 100.000 kelahiran hidup. Perhitungan Angka Kematian Ibu ini penting sebagai indikator kesehatan ibu. Tingkat kesehatan ibu dianggap baik bila grafiknya terus menurun dan sesuai target pembangunan nasional. Untuk itulah, selalu digaungkan pentingnya pemeriksaan antenatal atau kontrol kehamilan. 

Frekuensi kontrol kehamilan yang ideal

Idealnya, ibu hamil minimal kontrol selama 4 kali, satu kali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga kehamilan. Tapi, jangan segan untuk kontrol bila memang ada keluhan atau bila ibu dan janin memiliki penyakit atau gangguan yang perlu pengawasan ketat. Kontrol bisa dilakukan di bidan, dokter umum, atau dokter kandungan. Bila fasilitas kesehatan memadai, lakukan setidaknya sekali saja pemeriksaan USG agar kondisi janin dapat dinilai lebih detail.

Apa saja yang dilakukan saat kontrol kehamilan?

Selama kontrol kehamilan, terdapat pelayanan 10T yang akan ibu peroleh untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu dan perkembangan janin, antara lain.

1. Timbang

Ibu hamil perlu melakukan penimbangan berat badan secara berkala. Pada ibu yang Indeks Massa Tubuhnya normal, diharapkan kenaikan berat badan selama hamil sekitar 8-12 kg atau kira-kira 1 kg per bulan. Pengukuran tinggi badan juga jangan dilupakan karena ibu yang pendek dengan tinggi badan <150 cm akan berisiko memiliki bayi stunting dan juga menyulitkan saat proses persalinan tiba. 

Baca: Alasan Mengapa Makan Bergizi Harus Dimulai Sebelum Hamil

2. Tekanan darah

Tekanan darah harus selalu diukur tiap kali kunjungan. Ibu yang terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi >140/90 mmHg harus diedukasi untuk mengubah pola hidup, mengonsumsi obat darah tinggi bila perlu.

3. Tentukan status gizi

Secara sederhana, status gizi ibu dapat dilihat dari hasil pengkuran Lingkar Lengan Atas (LLA). Ibu yang LLA-nya dibawah 23,5 cm-dianggap kurang gizi dan ibu dengan gizi lebih yang LLA-nya diatas 33 cm harus melakukan diet (pengaturan pola makan) sebagai bentuk pencegahan komplikasi kehamilan. Misalnya, ibu dengan gizi kurang akan melahirkan bayi berat lahir rendah yang erat kaitannya dengan stunting, sementara jika gizi berlebih/obesitas akan muncul diabetes gestasional dan bayi terlahir besar.

4. Tinggi puncak rahim (fundus)

Pengukuran tinggi fundus bertujuan untuk mengetahui apakah besar rahim dan janin sudah sesuai dengan usia kehamilan atau tidak. Pengukuran ini umumnya dilakukan mulai usia kehamilan 20 minggu menggunakan pita pengukur.

5. Tetanus

Bila sampai sebelum hamil, ibu sudah mendapat 5 kali suntikan tetanus, imunisasi tetanus tidak perlu lagi diberikan karena ibu sudah mendapat perlindungan selama lebih dari 25 tahun. Namun, jika tidak diketahui riwayat imunisasi atau status imunisasi belum lengkap, paling tidak ibu sudah mendapt T2 (mendapat 2 kali suntikan tetanus saat hamil).

Baca: Imunisasi untuk Ibu Hamil, Seberapa Penting?

6. Tablet tambah darah

Untuk cegah anemia, ibu hamil disarankan untuk konsumsi tablet tambah darah yang mengandung asam folat dan zat besi minimal 90 tablet. Paling baik dikonsumsi selama trimester pertama, saat pembentukan organ janin terjadi sangat pesat. 

7. Tentukan presentasi dan denyut jantung janin

Presentasi janin adalah bagian janin yang terbawah, dapat diketahui dengan pemeriksaan manual (Leopold) atau via USG. Selain presentasi janin, juga akan dinilai letak janin-apakah ada kelainan letak sungsang atau melintang, serta menghitung denyut jantung janin (normalnya 120-160 kali per menit). 

8. Temu wicara (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi)

Saat temu wicara, ibu akan diberitahui kondisi normal, kapan harus waspada dan periksa ke RS, tanda persalinan, konseling laktasi, serta perencanaan kontrasepsi pasca persalinan.

9. Tes laboratorium

Agar tidak mubazir dan tepat indikasi, sebaiknya lakukan pemeriksaan atas anjuran dokter/dokter kandungan. Beberapa pemeriksaan yang sering dilakukan saat hamil adalah cek Hb, analisa urin, dan golongan darah (biasanya untuk persiapan operasi). Hasil lab yang abnormal tidak serta merta harus diwaspadai, untuk itulah perlu peran dokter dalam melakukan interpretasi hasil. 

10. Tatalaksana kasus

Bila ada kasus gawat darurat, bidan/dokter akan segera melakukan penanganan atau merujuk ke yang lebih ahli jika memang perlu tindakan spesialisasi.

Kontrol kehamilan selama pandemi Covid-19

Selama pandemi, jika konsultasi tatap muka memang diperlukan, sebaiknya lakukan janji temu dan terapkan protokol kesehatan. Ibu juga dapat melakukan telekonsultasi, terutama bila ada kontak erat dengan pasien Covid-19 atau sedang melakukan isolasi mandiri. Bila diperlukan, dokter akan menganjurkan pemeriksaan rapid antigen sebagai skrining atau PCR jika ada rencana persalinan caesar. 

Ibu hamil yang menjadi penyintas Covid, diharapkan melakukan USG pada hari ke 14 setelah dinyatakan sembuh untuk memantau kondisi janin

Saat ini ibu atau istri sedang hamil? Jangan malas untuk cek ke dokter atau bidan terdekat ya. Sayangi diri atau pasangan Anda dan si buah hati.

 

 

Referensi:

1. Profil Kesehatan Indonesia Kemenkes 2018

2. Buku Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer Edisi Revisi Tahun 2014

3. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan Edisi Pertama 2013

4. Permenkes No 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual 

5. Rekomendasi Penanganan Virus Corona (covid-19) pada Maternal (Hamil, Bersalin dan Nifas)

 

Photo by Mick Haupt on Unsplash