“Aduh, takut ah nanti bayinya kenapa-kenapa” 

“Lagi mual gini, nggak nafsu deh”

“Malu sama suami, badannya lagi gemuk” 

Sebagian orang punya alasan untuk menghindari aktivitas seks dengan pasangan ketika hamil. Bisa jadi, kondisi tubuh yang sedang mengalami perubahan seperti mual, muntah, sakit kepala, kerap menjadi penggugur hasrat. Ada pula yang justru tetap bergairah namun tak yakin apakah aman berhubungan saat hamil, baik karena alasan kesehatan janin atau sekedar takut merasa tidak nyaman. Tak berbeda dengan ibu hamil, suami pun kerap mengkhawatirkan kondisi calon ibu dan janinnya sehingga acapkali patah semangat. 

Sebenarnya aman nggak sih, berhubungan seks di kala hamil?

Menurut dr. Aswin W Sastrowardoyo, SpOG, melakukan hubungan seks di masa kehamilan sangat aman asalkan tidak ada indikasi kesehatan yang memberatkan. Misal, adanya riwayat keguguran, adanya pendarahan, kontraksi, atau plasenta previa. Tapi, juga tidak boleh terlalu sering, ya. Seminggu sekali, diperbolehkan kok. Kenapa demikian? 

1. Cairan semen pria, selain sperma mengandung zat lain seperti prostaglandin yang bisa menimbulkan kontraksi, 

2. Ketika wanita orgasme, keluar hormon oksitosin dalam darah perempuan, yang juga bisa menimbulkan kontraksi. 

3. Berhubungan seks bisa menyebabkan kuman masuk ke vagina dan serviks (leher rahim), yang juga menjadi penyebab kontraksi. 

Walau kontraksi pasca berhubungan tidak menimbulkan persalinan, namun bisa timbul rasa nyeri dan tidak nyaman. 

Gairah seks saya meningkat seiring perjalanan trimester kehamilan, namun kembali menurun di trimester akhir. Normalkah?

Wajar jika di trimester awal hubungan seks menimbulkan rasa enggan karena adanya rasa mual, muntah, kelelahan, dan sakit kepala. Ditambah lagi, area vagina menjadi lebih kering sehingga perlu ekstra pelumas saat penetrasi. 

Namun, hal ini berubah seiring memasuki trimester kedua di mana umumnya keluhan sudah mulai berkurang. Area miss V pun lebih “basah” sehingga lebih nyaman saat berhubungan. Sayangnya, memasuki trimester ketiga dengan tubuh dan perut yang kian membesar, kebanyakan wanita kembali enggan melakukan seks karena merasa tidak pede dengan tubuhnya, ditambah posisi seks yang menjadi lebih terbatas. Nafas pun terkadang jadi lebih berat akibat tertekan oleh bayi yang mulai membesar, sehingga di masa ini hubungan seks kembali minim.

Bagaimana supaya hubungan seks bisa tetap nyaman dan menyenangkan? 

Pertama, komunikasikan dengan pasangan keinginan masing-masing. Ingat, seks dilakukan untuk dinikmati bersama. Jangan sampai ada yang merasa tidak nyaman, sehingga seks menjadi beban. 

Kedua, cari posisi ternyaman. Semakin besar usia kehamilan, posisi pria di atas (man on top) menjadi tidak nyaman dilakukan. Selain itu wanita hamil tidak dianjurkan dengan posisi telentang karena rahim yang tumbuh bisa menekan pembuluh darah utama, serta bisa terkena supine hypotensive syndrome yang mengakibatkan perubahan detak jantung serta tekanan darah sehingga berakibat pusing dan gejala lainnya.

Ini ragam posisi seks terbaik (dan aman) selama kehamilan yang bisa dicoba

  1. Posisi pria di belakang atau dikenal dengan doggy style 
  2. Wanita di atas alias woman on top 
  3. Menyamping atau biasa disebut spooning dimana pria berada di belakang wanita dengan posisi menghadap samping 
  4. Posisi berdiri berhadapan jika masih di trimester awal atau wanita membelakangi pria saat perut sudah mulai membesar. 
  5. Oral sex diperbolehkan asal tidak melakukan blowing (meniup vagina). 
  6. Demi kenyamanan, menggunakan bantal untuk mengganjal bagian panggul juga bisa menjadi opsi. Penggunaan lubrikan dan sex toys juga tidak masalah. Tak perlu berlama-lama saat penetrasi untuk kenikmatan maksimal, fokus pada stimulasi klitoris untuk mendapatkan orgasme. 

Intinya, jadikan seks sebagai momen intimasi bersama pasangan yang perlu disiapkan dengan senyaman mungkin untuk bisa dinikmati berdua. 

 

 

 

 



Tanya Skata