Jargon yang menjadi judul di atas sontak membuat saya tertampar. Kalimat pendek yang saya baca dari majalah wanita terlihat lugas namun bernas. 

 

Tak ayal, segera saya catat dan resmi tertasbihkan sebagai resolusi. Keluarga yang sehat dan bahagia. Sederhana saat dieja namun kompleks saat berkomitmen untuk mewujudkannya. Membangun dan merealisasikan impian kebahagiaan bukanlah pencapaian spontan namun berkelanjutan. 

 

Tahun ini, usia pernikahan saya dan pasangan telah menginjak lima tahun. Banyak pendapat mengatakan bahwa angka ‘5’ adalah angka keramat. Apalagi jika dikorelasikan dengan hubungan rumah tangga. 

 

Konon, masa adaptasi terberat adalah di tahun kelima sejak pasutri mengucapkan janji suci sehidup semati. Konflik rentan bermunculan, mulai dari persoalan kebiasaan, masalah keuangan, anak-anak, problema dengan mertua ataupun saudara ipar, hingga permasalahan seputar ranjang. 

 

Timbul perselisihan bahkan pertengkaran yang jamak bermula dari ekspektasi berlebihan terhadap pasangan.

 

Tidak dipungkiri, pernikahan kami tidak melulu mulus seperti jalan fly over yang baru diresmikan pejabat negara. Tentu banyak kerikil-kerikil yang menganggu kenyamanan berdua. Namun, menilik perjalanan pernikahan kami, konflik justru timbul di tahun-tahun pertama.

 

Penyesuaian dua kepala yang dibesarkan oleh dua keluarga berbeda. Ego kami saling berbenturan. Dulu, kami sering terheran-heran dengan kebiasaan pasangan. Tak jarang, diakhiri dengan adu argumentasi bernada tinggi dan isakan tangis di penghujung hari.

 

Belum lagi kami mengalami ‘teror’ psikologis dari lingkungan sekitar karena belum adanya buah hati. “Kapan punya momongan?” menjadi ‘sapaan’ khas di awal usia pernikahan. 

 

Setelah menginjak dua tahun, pertanyaan mulai bergeser pada stigma yang cukup memojokkan. Misalnya, “Tuh, si X yang baru menikah beberapa bulan saja istrinya sudah hamil, kamu kapan?”. Atau, “Si Y, temen SMA mu, anaknya udah dua, kok kamu masih anteng-anteng aja?”.

 

Untunglah, riak-riak di awal pernikahan tidak cukup kuat menenggelamkan komitmen saya dan pasangan. Logika dan kedewasaan lah yang berperan. Memelihara pernikahan pun butuh strategi tersendiri. 

 

Saat mengalami masalah, kami sama-sama berkontemplasi. Mengingat kembali tujuan pernikahan dan alasan mengapa kami memutuskan hidup bersama. Secara ajaib, seulas senyuman efektif mengakhiri perdebatan. 

 

Jika menyinggung masalah anak, kami sama-sama menyadari, bahwa anak adalah hak prerogatif Ilahi. Kami hanya bisa berusaha, Tuhan-lah yang menentukan hasilnya.

 

“Meraih itu mudah. Memelihara itu susah”. Saya setuju dengan kalimat tersebut. Di awal mengenal pasangan, atau dikenal dengan masa-masa penjajagan/ pedekate, cinta terasa luar biasa. Pasangan terlihat sempurna di tiap sudutnya. Begitu pula saat kami menapaki gerbang pernikahan. 

 

Segalanya terasa mudah dan indah. Letupan cinta kepada pasangan terlihat menggebu-gebu. Padahal esensinya, bukan seberapa dahsyat api cinta kita namun lebih pada totalitas dan kerja keras pasangan untuk menjaga nyala api agar tetap hangat selamanya.

 

Dalam lima tahun ke depan, saya memiliki banyak impian untuk menjaga keharmonisan keluarga. Saya dan pasangan kembali berkomitmen untuk memelihara cinta dan menikmati hidup bersama. 

 

Orientasi kehidupan rumah tangga kami adalah kebahagiaan. Kami akan membahagiakan diri kami sendiri barulah membahagiakan orang lain. Kebahagiaan itu menular, bukan? Beberapa impian yang telah kami rancang bersama diantaranya adalah:

 

 

1. Mulai rutin berkonsultasi ke dokter kandungan

 

Rutin berkonsultasi ke dokter kandungan dan mempertimbangkan opsi bayi tabung demi hadirnya buah hati. Kami akan terus men-support satu sama lain dan saling menguatkan. 

 

Disamping memperkaya wawasan dengan mencari berbagai referensi/ mengikuti seminar mengenai program bayi tabung.

 

 

2. Menabung dan menghindari hutang

 

Bersama-sama konsisten untuk menabung dan berusaha menghindari hutang. Sebagai pegawai bergaji kecil, selama ini kami susah mendisiplinkan diri untuk saving.

 

Sisa penghasilan selalu terdesak oleh kebutuhan. Niat menabung pun sering terabaikan. Saya akan mulai (kembali) belajar mengenai perencanaan dan pengelolaan keuangan rumah tangga.

 

 

3. Mencoba Berwirausaha

 

Mulai melirik peluang untuk berwirausaha. Bagi saya, tujuan berbisnis tidak selalu ingin memperkaya diri tetapi lebih pada melatih endurance, kesabaran, keuletan, dan bagaimana berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, sebagai istri, tak dipungkiri, saya ingin membantu menopang perekonomian keluarga. 

 

Mungkin dalam 5 tahun kedepan saya sudah mulai membuka peluang usaha yang berdasarkan passion.

 

 

4. Lebih Banyak Bersyukur 

 

Memperbaiki kualitas keimanan kepada Tuhan serta membina hubungan sosial. Lima tahun kedepan saya berharap hati saya lebih kaya akan rasa syukur.

 

Tidak banyak menuntut apa yang belum kami miliki, namun lebih bersyukur atas apa yang telah kami raih selama ini. Keluarga yang hangat dan penuh dukungan, hunian yang nyaman, kesehatan, pekerjaan yang menyenangkan, dan para sahabat yang menyejukkan.

 

‘Menikah’ adalah kata kerja, Itu artinya saya dan pasangan harus mengusahakan. Kami akan berusaha menikmati berkah kehidupan. 

 

Lima tahun kedepan berarti usia pernikahan kami menginjak 10 tahun. Masih jauh dari tolok ukur pasangan inspiratif, namun bukan berarti kami pasif. 

 

Menikmati hidup bukan semata rutin merancang agenda liburan berdua. Bukan pula bertarget pada kuantitas pencapaian duniawi. 

 

Di tahun ke 10 pernikahan, kami berharap sudah berada pada level matang. Menikmati setiap segi kehidupan, mensyukuri tiap detik kebersamaan, mencintai kesederhanaan, dan menghayati ujian yang Tuhan berikan. 

 

Keluarga yang bahagia berawal dari konsep diri yang bahagia pula. Saya sadar, pernikahan menuntut kerja sama. Membutuhkan komitmen agar tercapai optimalitas tujuan bersama. Tentu dengan tetap bersandar pada Tuhan sebagai penolongnya.