"One less thing to worry about. Kerja dipikirin, tagihan dipikirin, masa' pas birahi pun masih harus mikir?" Mengutip ucapan seorang pria ketika ditanya apa yang mendorongnya untuk mempertimbangkan vasektomi sebagai salah satu metode kontrasepsi. Seloroh yang disampaikannya secara ringan, namun ada unsur keseriusan di dalamnya.

 

Ketika pria tadi ditanya mengapa tidak meminta istrinya saja yang menggunakan alat kontrasepsi seperti pil atau IUD, dia menjawab, "Kalau semua keputusan kontrasepsi ada di tangan istri, keputusan untuk bersenggama atau tidak semuanya jadi ada di tangan dia juga dong? Gue sih ngelihat vasektomi sebagai semacam male empowerment ya."

 

“Yah, kan lain ya dengan dulu waktu belum punya anak," ujar pria lain. "Sekarang waktu private dengan istri saja jarang. 

 

Terkadang salah satu dari kita harus lembur, atau sedang ke luar kota, atau membantu anak bikin PR, atau ya capek aja. Ketika momennya sedang pas, harus nyari-nyari kondom lagi itu merusak mood. Belum lagi kalau ternyata kondomnya habis. Celana sudah lepas harus dipasang lagi untuk beli kondom? Enggak deh."  

 

“Kontrasepsi itu seharusnya membebaskan. Bebas hubungan seks dengan istri sendiri. Free. Gak perlu repot. Gak perlu khawatir. Bingung kondom ada atau tidak. Bingung sudah minum pil belum ya hari ini. Buat apa lagi pakai kontrasepsi kalau masih bingung.”

 

Sebagai sebuah metode kontrasepsi, vasektomi bukanlah sebuah metode baru. India adalah negara yang pertama kali melakukan vasektomi sebagai metode kontrasepsi 62 tahun yang lalu. Disusul oleh Amerika Serikat sejak tahun 1970an.  

 

Hingga kini, di Amerika Serikat diperkirakan ada 750 ribu laki-laki yang menjalani vasektomi. Metode ini paling populer di kalangan ekonomi menengah ke atas dan tingkat pendidikan tinggi.

 

Pria biasanya khawatir prosedur vasektomi akan mempengaruhi gairah dan kemampuannya dalam melakukan hubungan seksual. Kekhawatiran ini tidak memiliki landasan ilmiah. 

 

Johns Hopkins Medicine, salah satu institusi pelayanan kesehatan terkemuka di Amerika Serikat menemukan bahwa banyak pria bahkan merasakan kebebasan dan menikmati hubungan seksual yang spontan setelah vasektomi.  

 

Hal ini seringkali di kalangan para istri menjadi pisau bermata dua karena khawatir suami menjadi rentan atas perselingkuhan. Oleh karena itu vasektomi dilakukan harus dilandasi dengan komitmen dan hubungan suami istri yang kuat dan sehat. 

 

Vasektomi adalah prosedur yang diambil ketika pasangan menyakini untuk tidak memiliki anak lagi karena itu prosedur ini dianggap permanen.

 

Prosedur vasektomi aman. Prosedur vasektomi tergolong prosedur rendah risiko dan komplikasi. Rasa sedikit tidak nyaman atau nyeri setelah operasi tentunya umum terjadi dan biasanya berlangsung beberapa hari setelah prosedur saja. 

 

Bahkan dikatakan proses sunat lebih sakit daripada vasektomi.

 

Vasektomi dilakukan oleh seorang dokter di fasilitas kesehatan tanpa pembiusan umum. Setelah melakukan vasektomi,  pria perlu istirahat dan tidak melakukan aktivitas berat selama 1-2 hari dan umumnya bisa melakukan hubungan seksual segera setelah 1 minggu. 

 

Namun demikian pria tetap mesti menggunakan kondom atau pasangan menggunakan metode kontrasepsi lain selama 3 bulan setelah prosedur vasektomi untuk memastikan tidak ada sel sperma tersisa.

 

Setelah 3 bulan, pria yang sudah melakukan vasektomi juga diminta untuk memeriksakan air maninya untuk meyakinkan bahwa air mani tersebut tidak mengandung spermatozoa/sel sperma lagi. Untuk keperluan ini, pria diminta menyimpan air mani di dalam botol bersih atau air mani yang ada di dalam kondom dan memeriksakannya ke laboratorium. 

 

Apabila sudah ada pernyataan dari laboratorium bahwa air maninya tidak mengandung spermatozoa lagi, barulah boleh melakukan hubungan seksual tanpa alat pencegah kehamilan.

 

Jika Anda mempertimbangkan vasektomi sebagai salah satu metode kontrasepsi, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan. Berkonsultasilah dengan dokter umum yang terlatih atau Urolog/dokter spesialis urologi, yaitu cabang kedokteran yang mempelajari segala sesuatu terkait saluran kemih dan genital. 

 

Anda juga bisa menghubungi Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI) sebagai salah satu komunitas vasektomi di Indonesia. Anda bisa bertukar pengalaman dan pikiran dengan mereka yang sudah melakukan prosedur vasektomi.  

 

Saat ini PKMI dikepalai oleh Dr. dr. Nur Rasyid, Sp. U. Beliau juga adalah Urolog di RS Cipto Mangunkusumo. PKMI dapat dihubungi di 021 3155122 atau melalui email ke pkmi.pusat@yahoo.com.