Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun salah satu tantangan terbesar bagi orang tua yang bekerja adalah terkait membagi waktu untuk anak agar anak tetap merasakan kasih sayang dan perhatian orang tua meski ayah atau ibu atau keduanya mesti meninggalkan mereka untuk bekerja. Ketika orang tua menghabiskan sebagian besar harinya di luar rumah, ke kantor dan bekerja, otomatis waktu bersama anak menjadi berkurang. Lantas bagaimana menyeimbangkan ini? 

 

Memiliki anak bukanlah hanya sekedar menghadirkan mereka atau memberi mereka asupan dan kebutuhan dasar.  Lebih jauh lagi anak memerlukan lingkungan yang positif yang dapat mendukung tumbuh kembangnya sehingga mereka memiliki jiwa yang sehat dan dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Lingkungan yang positif, aman, sejahtera, dan penuh cinta kasih salah satunya dapat terealisasi jika orang tua meluangkan waktu yang cukup dan berkualitas untuk anak-anaknya.

 

Berikut adalah tujuh tips dalam menciptakan waktu yang berkualitas bersama anak:

  1. Berikan anak penjelasan tentang apa yang dikerjakan orang tuanya ketika sedang tidak bersama mereka. Jelaskan pada anak apa yang dimaksud dengan bekerja dan ceritakan rutinitas yang dilalui ayah dan ibu sehari-hari di kantor atau di tempat bekerja. Ajaklah anak untuk belajar menghargai waktu, tanggung jawab, dan peran-peran yang dimainkan orang dewasa di sekitarnya.
  2. Jika masih memungkinkan, makanlah bersama keluarga setidaknya satu kali dalam sehari. Jika tidak saat sarapan atau saat makan malam.  Untuk makan malam, anak dapat diberikan makanan ringan dulu di sore hari agar tidak terlalu lapar dan kemudian makan malam bersama orang tua, sekitar jam 7 atau 8 ketika orang tua sudah pulang kerja. Yang terpenting adalah waktu kebersamaan di sekitar meja makan. Gunakan waktu itu untuk saling bercerita. Satu jam bersama secara intensif setiap hari membuat orang tua menjadi tahu perkembangan anaknya dan dapat memantau serta mengetahui secara cepat jika ada sesuatu yang tidak biasa terjadi pada anak.  
  3. Upayakan untuk memiliki ritual bersama. Ritual bersama ini bisa seperti: berkumpul di ruang keluarga meski masing-masing mengerjakan aktivitasnya sendiri, beribadah, berkebun, memasak makanan, berjalan-jalan sore, atau berakhir pekan ke suatu tempat.  Apapun ritualnya, momen kebersamaanlah yang akan diingat oleh anak, hingga sampai mereka dewasa nanti.
  4. Sedapatnya dimungkinkan, tinggalkan beban pekerjaan di luar rumah. Berikan perhatian tak terbagi ketika sedang bersama anak-anak, terutama ketika mereka sedang bercerita. Usahakan tidak memegang-megang HP dan mengecek pesan singkat yang masuk atau tidak juga sambil menonton TV atau menyambi mengerjakan yang lain. Dengarkan cerita anak, beri respon dan tanyakan hal-hal yang terkait yang menunjukkan Anda berminat pada ceritanya serta ingin tahu lebih banyak lagi.
  5. Turut aktif dalam kegiatan yang mereka suka, termasuk jika mereka menyukai materi-materi tontonan tertentu. Manfaatkan waktu-waktu tersebut untuk mendengarkan sudut pandang mereka. Contoh, ketika sedang menonton TV atau menonton YouTube, tanyakan apa yang mereka suka dari tontonan tersebut.
  6. Bacakan buku untuk anak. Penelitian-penelitian terbaru mengungkapkan manfaat membacakan cerita bahkan sejak anak masih dalam kandungan ibu. Tumbuhkan budaya baca di dalam rumah. Luangkan waktu sebelum mereka tidur untuk membacakan buku yang mereka suka. Biarkan mereka memilih sendiri bukunya. Jika anak sudah bisa membaca sendiri, orang tua masih tetap bisa membahas buku-buku bacaan bersama-sama. 
  7. Kebersamaan itu tidak selalu berarti harus mengerjakan hal yang sama secara bersama-sama.  Berada dalam satu ruangan dengan aktivitas  yang berbeda-beda juga bisa disebut kebersamaan. Anak merasakan orang tuanya ada dalam jangkauannya dan sebaliknya orang tua pun bisa melihat anak-anaknya.

 

 

Selamat menjalankan tips-tips di atas. Pada akhirnya yang diharapkan adalah agar anak selalu merasa aman dan memiliki kepercayaan bahwa orang tuanya selalu ada untuk anak-anaknya.  Anak tidak pernah sendirian, meskipun ada saat-saat dimana orang tua harus meninggalkan mereka bekerja. Orang tua adalah tempatnya berlindung dan kembali.  Dengan cara ini ketika anak mendapatkan pengaruh negatif di luar, anak dapat selalu kembali dan melihat orang tua dan saudara-saudaranya sebagai oase yang nyaman.