Jika mendengar nama Kartini, ingatan kita akan serta merta terpaut pada sosok Ibu RA Kartini yang setiap tanggal 21 April kita peringati hari kelahirannya sebagai hari perjuangan hak wanita.  Lantas apa hubungannya Ibu Kartini dan KB  atau Keluarga Berencana?

 

Saat ini di seluruh Indonesia ada pejuang-pejuang perempuan seperti Ibu Kartini, yang dengan sukarela, tulus, dan ikhlas memperjuangkan hak Pasangan Usia Subur (PUS) terhadap akses informasi dan layanan atas Keluarga Berencana.  Para wanita luar biasa ini menyadari bahwa masih banyak masyarakat di luar sana yang tidak memiliki pengetahuan terhadap keluarga berencana, salah persepsi, bahkan mendukung gosip-gosip tak berdasar yang jika dibiarkan akan membahayakan kualitas anak-anak Indonesia di masa akan datang.

 

“Di Brebes, satu rumah sakit tempat saya bekerja saja, ada 300 kelahiran tiap bulan. Setiap harinya saya memandikan 30 bayi.” ujar Ibu Nafi’ah salah seorang kader dari Muslimat, yang juga seorang bidan. “Jika kehamilan tidak direncanakan, kami khawatir akan banyak keluarga yang memiliki anak terlalu banyak atau terlalu rapat. Orang tua apa bisa memberikan perhatian yang optimal untuk anak-anaknya.  Tak jarang dapat terjadi juga, ibu meninggal karena melahirkan dan meninggalkan anaknya.“

 

Inilah yang mendorong para Kartini KB ini turun ke lapangan untuk mempromosikan gaya hidup keluarga yang terencana. 

 

Saat ini di bawah organisasi Aisyiyah dan Muslimat, ada sekitar 600 motivator/kader perempuan yang bekerja untuk menjangkau keluarga Indonesia dengan informasi yang akurat tentang KB. Mereka bekerja secara sukarela menyadari bahwa masyarakat membutuhkan informasi, dukungan, dan motivasi untuk berbicara tentang perencanaan keluarga.

 

“Masyarakat itu rindu pada penyuluhan. Jika sudah menyuluh, saya bisa pulang baru sore hari atau malam. Saking banyaknya pertanyaan.” ujar Ibu Nafi’ah lagi.

 

Pekerjaan menjadi motivator atau kader ini pun bukannya tanpa risiko. Ada di antara mereka yang menerima ancaman atau ejekan dari pihak-pihak yang menganggap apa yang mereka lakukan salah. Namun demikian itu semua tak pernah menyurutkan langkah mereka.

 

KB bukanlah alat untuk menghentikan atau menolak rejeki dari yang Di Atas. Merencanakan keluarga dengan mengatur kehamilan adalah ikhtiar manusia untuk mempersiapkan generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Bagi para Kartini KB inilah esensi perencanaan keluarga.  Itulah yang menyebabkan Aisyiyah dan Muslimat sebagai dua organisasi Islam wanita terbesar di Indonesia mendukung gerakan KB di tengah masyarakat.

 

Kartini KB ini menyadari masih banyak persepsi yang keliru tentang KB. Bahkan masih banyak pula ketakutan-ketakutan tak berdasar atas efek samping metode kontrasepsi yang lahir dari tidak dimilikinya pengetahuan mendalam tentang manfaat dan cara kerja sebuah metode di dalam tubuh.

 

“Para Ibu yang saya temui di lapangan banyak sekali pertanyaanya. Oleh karena itu sering kali saya berikan nomor hp pribadi saya untuk dihubungi kapanpun. Saya bahkan bersedia untuk mengantar mereka langsung ke bidan dengan motor agar puas mendapatkan informasi yang paling detail langsung dari sumbernya. Jangan hanya percaya katanya, katanya, katanya saja.” ungkap ibu Asmawati seorang kader Aisyiyah dari Kab Gowa di Sulawesi Selatan.

 

Jika ditanya soal lelah dan bagaimana membagi waktu antara kegiatan di keluarga, kantor, dan penyuluhan, jawabannya sungguh sederhana. “Kalau lelah, istirahat saja dulu sebentar. Lelahnya sudah selesai, ayo bekerja lagi. Masih banyak masyarakat yang perlu kita jangkau. Bekerja itu kan harus ada target.” ujar  ibu Sastrawati yang sejak usia 16 tahun sudah dekat dengan dunia penyuluhan. Kini di usianya yang menginjak 64 th, nenek dari 6 cucu ini, memiliki setumpuk kegiatan sosial.  Aktif di Majelis Pembinaan Kader di Aisyiyah Kota Medan.

 

 “Tidak pernah capek melakukan ini. Justru puas setiap kali masyarakat menerima pencerahan. Namun jika masih ada yang belum percaya, itu malah kami anggap sebagai tantangan untuk bekerja lebih baik lagi.” ujar Ibu Asmawati.

 

Bekerja dengan cerdas juga menjadi motto dari para Kartini KB ini. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kami selalu berusaha menyambungkan para Motivator dengan petugas dan bidan yang ada di lapangan.” Jelas Ibu Fitria Koordinator Kabupaten Program dan juga Ketua Yayasan Kesejahteraan Muslimat. “Kami rutin melakukan koordinasi bulanan antara Dinas, Petugas, dan kader.”  Sebagai koordinator kader sudah menjadi tugas dan tanggung jawab Ibu Fitria untuk bisa melakukan problem solving  atas masalah-masalah yang ditemui motivatornya di lapangan.  “Masalah koordinasi, masalah penguatan SDM, atau bahkan masalah pembagian daerah kerja serta menyambung-nyambungkan potensi kader dengan mitra di lapangan, itu semua mesti dilakukan. Kita mesti lihat potret besarnya, tidak hanya sepotong-potong. Hasil akhirnya adalah bagaimana masyarakat kita bisa lebih berdaya dengan menggunakan metode kontrasepsi yang tepat untuk dirinya.” 

 

“Dengarkan apa kata PUS  dan rajin-rajin berjejaring masuk ke semua kelompok yang ada di masyarakat.” Itu dua tips dari Ibu Kusniati, Kader Muslimat di Cilacap tentang bagaimana menjadi penyuluh cerdas.

 

Hanya ada semangat, inspirasi, dan energi positif yang dirasakan SKATA ketika berbincang-bincang dengan perwakilan Kartini KB ini.  Tidak ada rasa gentar, lelah, atau pesimis. 

 

“Menyuluh itu sudah seperti hobi.” bagi Ibu Susilowati, Motivator Aisyiyah dari Kabupaten Asahan Sumatra Utara. Sejak gadis dulu pekerjaan ini sudah dilakukannya dengan rutin. Kini hobi ini pun diikuti oleh anak perempuan Ibu Susi yang bernama Sri Widarsi. Suami pun mendukung keputusan istri, bahkan ketika Ibu Susi harus meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai penyuluh ketika anak masih berumur 3 bulan. “Ya, kadang-kadang kami gantian mengasuh anak. Suami mendukung.”  

 

Inilah sekelumit cerita para Kartini KB. Di 11 kab/kota tempat program percepatan KB dilakukan oleh program Pilihanku, ada setidaknya 600 motivator yang bekerja. Di seluruh Indonesia ada ribuan kader di bawah Badan KB nasional. Mereka pejuang KB di lapangan yang imbalannya adalah kepuasan pribadi dan semangat untuk berbuat baik bagi sesama demi Indonesia yang lebih baik.

 

Bagi para Kartini KB lapangan ini hanya ada satu keyakinan: maju terus menyebarkan kebaikan.