Diandra, 15 tahun, sedang sibuk dengan smartphonenya sambil tersenyum-senyum. Sang Ibu, mulai penasaran akan apa yang diliat anaknya. Mulai ada kegalauan jika Ia bertanya, sang anak belum tentu mau jujur. Jika sembunyi-sembunyi mengecek HPnya, tentu akan merusak kepercayaan sang buah hati. Lalu harus bagaimana?

Orangtua tentu kadang dilanda rasa ragu akan perlunya “mengintip” aktivitas anak. Terutama mereka yang sedang beranjak dewasa, di era remaja. Bagaimana kita menghargai privasi mereka, dan sebatas apa kita boleh memantau secara diam-diam apa yang mereka lakukan. 

Sebelumnya, perlu Anda tau bahwa kebutuhan privasi anak tentu berbeda di tiap umurnya. Ketika Ia kecil, tentu tak ada batasan privasi antar orangtua dan anak karena mereka masih harus dalam pengawasan penuh. Namun, ketika anak beranjak dewasa dan berkembang, “perpisahan sehat” pun dimulai. Misal saat dimana anak pergi ke kamar mandi sendiri dan menutup pintunya karena Ia butuh privasi, dan merasa malu jika ada orang yang tak sengaja masuk. 

Remaja perlu terpisah. Maksudnya, mereka butuh mencari jati diri dan mulai memiliki pandangan sendiri di usianya. Yang perlu orangtua paham, bahwa proses ini meliputi batasan. Batasan untuk anak, dan juga Anda. Sejauh mana batasannya? Sejauh keduanya bisa menepati aturan dan perjanjian yang sudah ditetapkan bersama. Contoh, Anda boleh memberikan anak privasi di kamar, dengan syarat Ia tidak  boleh mengakses internet tanpa pengawasan. Atau, Anda memperbolehkan remaja untuk pergi bersama teman tanpa terganggu, tapi Ia harus tetap mengabari Anda. Semua tergantung kebutuhan Anda dan anak, akan berbeda di tiap keluarga. 

Saat anak bisa menepati janji dan bertanggung jawab, Anda tidak boleh melanggar privasinya dengan mengecek atau mengintip barang pribadinya. Namun, jika Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan pada aktivitas anak, ditambah dengan adanya ketidakjujuran maka Anda berhak mencari tau. Anda punya kewajiban menjaga anak dan menghindarinya dari sesuatu yang buruk. Jika “spying” bisa menjadi jawaban, maka lakukanlah. 

Kepercayaan dan tanggung jawab bukan hal yang sepele. Semua berawal dari rumah untuk bekal anak bertindak, baik di dalam maupun di luar rumah. Maka, penting adanya untuk membangun kepercayaan antar orangtua dan anak. Komunikasikan segala perhatian Anda pada anak, agar anak mengerti segala tindakan yang Anda lakukan. Klik di sini juga yuk untuk tau mengenal lebih jauh tentang pandangan remaja. 

 



Konsultasi dengan dokter