Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak menuju dewasa, dari segi pemikiran, fisik, hormon, dan seksualitas. Karena kemampuan pertimbangan dan pengambilan keputusan secara rasional belum sempurna, maka orangtua berperan sebagai pembimbing dan pendamping remaja dalam memaknai pengalamannya.

Tugas remaja adalah memahami diri dan berlatih untuk mengendalikan dirinya, termasuk secara seksual. Kemampuan seksualitas remaja sama dengan orang dewasa, tetapi kemampuannya di aspek lain, terutama tanggung jawab, belum sepenuhnya berkembang. Di sinilah peran orangtua sangat penting dalam berkomunikasi dan berdiskusi, menjelaskan pada remaja, bersama-sama mempertimbangkan segala kemungkinan, dan membantu mereka untuk mengendalikan diri. 

Menurut Alzena Masykouri, M. Psi, Psikolog Klinik Kancil, Sentra Tumbuh Kembang Anak, Orangtua adalah figur yang paling tepat untuk menjadi teman bicara mengenai pubertas dan seksualitas. Untuk itu, orangtua perlu memiliki informasi yang sesuai dan menyiapkan diri untuk berkomunikasi dengan remaja. Gaya komunikasi, cara bicara, dan pembahasan yang sesuai dengan kebutuhan remaja akan membuat remaja lebih terbuka dan nyaman berdiskusi dengan orangtua.

Idealnya kedua orangtua siap untuk berdiskusi dengan anak, tetapi bila bercerita mengenai pengalaman, tentu lebih nyaman pada yang pernah mengalami bukan? Ibu dengan remaja putri, dan ayah dengan remaja pria. 

Jelaskan bahwa salah satu tugas perkembangan orang dewasa adalah reproduksi. Untuk dapat melakukan reproduksi, tentu diperlukan aktivitas seksual, yang secara alamiah memerlukan ketertarikan dengan lawan jenis. Jadi ketika pubertas, perubahan hormon menyebabkan ketertarikan dengan lawan jenis. Mulai tertarik, mulai memperhatikan, mulai naksir dengan lawan jenis. 

Untuk menyiasati hal ini, orangtua dapat menyepakati value apa saja yang dianut dalam keluarga. Yang perlu diingatkan pada remaja bahwa mereka juga punya tugas untuk mengendalikan hasrat/dorongan seksualitas karena ada norma, baik norma agama maupun norma kepantasan. Norma ini ada supaya hidup juga teratur dan siap secara fisik dan mental. Hamil dan melahirkan tentu memiliki konsekuensi, baik secara fisik, maupun psikis. Kondisi ini yang harus dijelaskan kepada remaja, karena mereka tidak punya pengalaman dan pengetahuan mengenai hal ini.

Tertarik dengan lawan jenis perlu diolah agar perilakunya tepat. Dengan bimbingan orangtua, remaja dapat belajar dan berlatih untuk dapat mengendalikan dan menunjukkan perilakunya dengan sesuai. 

Konsep pacaran di setiap keluarga bisa berbeda-beda definisinya. Termasuk beda juga batasannya. Keterlibatan remaja dalam menyusun definisi dan batasan-batasnya sangat penting, karena mereka adalah subjeknya. Orangtua dapat bersikap menerima informasi bahwa remaja meminta izin untuk pacaran atau memberi tahu sudah punya pacar. Ingatkan kembali mereka akan batasan dan value keluarga. Wajar jika muncul rasa takut kehilangan, namun ingatlah bahwa remaja sedang menapaki fase kehidupannya menjadi dewasa.

Penting diingat bahwa proses diskusi mungkin akan berlangsung berkali-kali, tidak harus satu kali diskusi selesai. Sepakati dulu mengenai definisi pacaran, termasuk tujuannya. Orangtua boleh menyampaikan pendapatnya, termasuk alasannya, bahkan pengalamannya. Remaja pun dipersilakan untuk mengajukan argumennya. Bila terjadi perbedaan pendapat, terima dulu semuanya, jangan langsung mengambil keputusan bahwa orangtua yang paling benar. Berikan argumen penguat, kemudian beri waktu pada kedua belah pihak untuk memikirkan pendapat pihak yang lain.

Yang juga harus dibahas dalam kesepakatan ini, ada beberapa hal yang bentuknya aturan, yang artinya tidak bisa ditawar karena merupakan haknya orangtua untuk memberikan aturan, tentu dengan alasan yang jelas. Misalnya, orangtua hanya menyetujui pacaran dengan yang seagama, atau dengan yang berlatar belakang baik (bukan kriminal, dll). 

Dengan keterbukaan dan pola komunikasi yang baik antara orangtua dan remaja, diharapkan perkembangan konsep diri mereka pun menjadi positif, sehingga mereka mampu mempertahankan dirinya. Menjadi orangtua berarti mencintai anaknya tanpa syarat, menerima mereka apa pun kondisinya dengan tetap membimbing dengan penuh kasih sayang.  

 

 



Konsultasi dengan dokter