Nilai bagus, ranking sepuluh besar di kelas, memiliki beberapa piala perlombaan, adalah beberapa tolak ukur anak berprestasi saat kita masih menjadi pelajar. Kini, zaman sudah jauh berubah. Kemajuan teknologi harus diakui membawa pengaruh besar pada pola pikir dan kebiasaan mereka. Kita menghafal pelajaran, mereka membuat presentasi. Profesi impian mereka pun bukan lagi seputar dokter, insinyur, dan polisi. Karena itu, sebagai orangtua generasi Z, kita harus memahami karakter mereka agar anak dapat mencetak prestasi sesuai dengan sudut pandang mereka. Jangan sampai kita masih menganggap nilai 100 adalah segalanya sementara remaja kita lebih bangga bisa membuat Youtube channelnya sendiri.   

Pahami karakter mereka

Anak dan remaja kita dapat digolongkan ke dalam Generasi Z, yaitu mereka yang lahir di generasi internet (1995-2014). Dengan segala kemudahan yang diperoleh sebagai efek dari hadirnya teknologi, mereka digambarkan memiliki karakter yang lebih tidak fokus dari generasi milenial, tapi lebih serba bisa, lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja, lebih berjiwa wirausahawan, dan lebih ramah teknologi.  

Ketahui minat dan bakat 

Biasanya, minat dan bakat sudah nampak saat anak masih kecil. Namun, seiring dengan bertambahnya pengetahuan mereka, kegemaran mereka akan suatu hal akan berubah. Cermati hal tersebut. Jika anak terlihat sangat menyukai suatu aktivitas dan hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip yang kita anut, tawarkan untuk mendalami ilmu tersebut, baik melalui les, mengikuti kompetisi, menyediakan peralatan penunjang, serta memperbolehkannya mengalokasikan waktu untuk belajar secara otodidak. 

Tentukan target

Bisa saja hal yang remaja sukai hanyalah kegemaran musiman atau sekadar tuntutan pergaulan. Untuk membedakannya, tantang mereka untuk menentukan target. Mereka yang memiliki kemampuan akademis yang baik, bisa menggunakan nilai tugas dan ujian di sekolah sebagai acuan. Bagi yang menyukai seni, menargetkan jumlah karya yang dibuat atau dipublikasikan bisa menjadi hal yang menantang. Penggemar olahraga dapat mengikuti klab dan kompetisi sebagai acuan. Jangan lupa, ajak mereka untuk membuat target jangka panjang sehingga mereka tahu semua usaha mereka akan menghasilkan apa. Anak usia remaja biasanya sudah bisa menentukan impian mereka dalam tahap yang lebih serius. Bantu mereka untuk menjadikan target tersebut tetap realistis.

Disiplin waktu

Di luar jam sekolah, remaja memiliki banyak waktu luang. Untuk melepas penat akan rutinitas, mereka boleh-boleh saja asyik dengan gadgetnya karena orang tua milenial pun demikian. Namun, ingatkan mereka bahwa salah satu kunci kesuksesan adalah memanfaatkan waktu dengan baik. Jangan sampai waktu habis untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat. Diskusikan dengan anak mengenai definisi “bermanfaat”, karena bisa saja update status Instagram bagi mereka bermanfaat bagi track record mereka di dunia maya sementara kita menganggap hal tersebut tidak berguna.

Asah karakter positif

Yakinlah, remaja kita jauh lebih cerdas daripada kita pada usia mereka. Namun, banyak yang mengeluhkan bahwa kecerdasan mereka tidak diiringi dengan kemampuan berempati, bersosialisasi, sopan santun, seiring dengan individualisme yang makin menjadi karakteristik generasi instan ini. Ketangguhan anak masa kini pun perlu diuji, dengan semakin mudahnya mereka memenuhi kebutuhan mereka tanpa harus mengeluarkan upaya sebanyak generasi sebelumnya serta pola pengasuhan orangtua yang semakin egaliter.

Karena itu, kita sebagai orangtua harus mampu menanamkan pendidikan karakter sejak dini. Cara yang paling efektif adalah dengan menjadi contoh hidup dari nilai-nilai yang ingin kita internalisasi pada diri anak. Kabar baiknya, kita “terpaksa” membenahi diri serta harus menyesuaikan pola pikir dengan anak sekarang.

Pendidikan agama yang baik

Senada dengan karakter positif, membesarkan anak yang memahami ajaran agama dengan baik akan membentengi mereka dari berbagai hal negatif yang mengincar remaja saat ini. Nilai-nilai agama dan keluarga yang dipegang dengan baik juga dapat membantu mereka menentukan tujuan hidup, memberi motivasi saat gagal, serta menemukan lingkungan yang suportif dan apresiatif.

Menjadi orangtua suportif

Betul, poin terakhir adalah tentang kita sebagai orang tua. Membantu anak untuk mencetak prestasi harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan: apresiasi mereka ketika berhasil, beri dukungan ketika gagal. Hindari memaksakan impian kita kepada mereka ataupun membuat mereka stres dengan target-target yang membebani. Sering-sering membuka cakrawala mereka akan masa depan yang penuh kesempatan akan membuat mereka lebih bersemangat mencapai cita-cita daripada sekadar menjalankan kewajiban belajar. 

 



Konsultasi dengan dokter