*Takbir berkumandang*

Genap 30 hari berpuasa menahan hawa nafsu, akhirnya kita sampai di puncak hari. Hari dimana umat muslim merasakan keberhasilannya. Hari dimana keluarga saling berkumpul bersilahturahmi dan saling memaafkan untuk menyempurnakan ibadahnya. 

Di Indonesia, ada ritual yang biasa dilakukan. Setelah shalat Ied sekeluarga, dilanjutkan dengan silahturahmi antar keluarga. Sanak keluarga usia muda, mengunjungi kerabat yang lebih tua atau berkumpul di satu tempat bersama. Inilah momen dimana komunikasi saling terjalin. Tak hanya dewasa, tapi juga anak-anak. Layaknya budaya timur yang santar dengan keramahan dan sopan santun, tentu kita ingin anak-anak pun memiliki bekal manner yang baik saat bersilahturahmi. Yuk, ajarkan sedari dini. 

Gunakan dua kata ajaib

Selalu biasakan anak untuk menggunakan dua kata ajaib, “tolong” dan “terima kasih”. Ini adalah kata dasar yang perlu anak ingat untuk menjaga sopan santun.  Sopan santun membuat kita lebih bersyukur dan empati, ini yang ingin disampaikan pada anak. Saat mereka tidak bisa mengambil sesuatu sendiri, atau membutuhkan pertolongan, ingatkan mereka untuk berkata tolong dan akhiri dengan terima kasih. Mulai sejak dini, dari rumah. 

Jabat tangan 

Tradisi kita mengajarkan untuk selalu berjabat tangan saat bertemu dengan kerabat. Anak-anak dibiasakan untuk mencium tangan yang lebih dewasa. Ada yang menerapkan hal ini pada anak, ada yang tidak. Semua pilihan. Namun, mencium tangan atau berjabat tangan adalah bagian dari sopan santun yang layaknya kita jaga. 

Berkata sopan 

Ajarkan anak untuk mengucap salam atau mengatakan “permisi” saat masuk dalam rumah kerabat. Biasakan untuk menunggu dibukakan pintu dan jangan masuk tanpa seizin pemilik rumah. Begitupun saat berbicara dengan saudara sebaya terutama yang lebih dewasa, utamakan berkata sopan dan tidak menyela atau menginterupsi orang lain. 

Aturan meja makan 

Ini penting karena saat bersilahturahmi tentu akan ada jamuan makan. Ajarkan anak untuk berlaku sopan saat makan. Misalnya tidak berbicara ketika mulut penuh makanan dan mengambil makan seperlunya supaya tidak membuang makanan saat perut kenyang. Hindari berkomentar negatif tentang makanan dan menggunakan alat makan secara benar. 

 



Konsultasi dengan dokter