Di tengah kegembiraan menjelang hari raya, muncul kegalauan apakah kehamilan Anda tidak akan bermasalah dibawa mudik ke kampung halaman. Kekuatiran bertambah jika usia kehamilan sudah memasuki trimester akhir. Haruskah berlebaran sendiri? Jika memberanikan diri untuk mudik, apa saja hal-hal yang harus diperhatikan agar kehamilan tetap aman?

Perhatikan usia kehamilan

Sebetulnya, traveling saat mudik paling aman dilakukan pada trimester kedua. Mual muntah sudah jauh berkurang (atau bahkan hilang), janin pun sudah menempel pada dinding rahim sehingga lebih aman dari goncangan kendaraan atau jalan berlubang, dan perut belum seberat ketika kehamilan memasuki trimester tiga.  Namun, jika Anda terpaksa harus mudik, pastikan Anda mengetahui hal terburuk yang dapat terjadi dalam perjalanan. Misalnya, kehamilan di bawah 12 minggu rentan flek, kram, hingga keguguran, sementara di atas 37 minggu Anda dapat kontraksi, pecah ketuban, hingga melahirkan. Konsultasi terlebih dahulu dengan bidan atau dokter kandungan akan lebih menenangkan. 

Moda transportasi yang aman

Pilihan tentang jenis kendaraan saat mudik sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kehamilan. Motor sangat tidak disarankan untuk usia kehamilan di atas 32 minggu, sementara maskapai penerbangan memiliki aturan yang lebih ketat tentang penumpang yang sedang mengandung. Kereta cukup aman dari goncangan, tersedia toilet dalam gerbong, lorong untuk sekadar meregangkan tubuh, namun tiket terbatas. Jalan darat tidak bebas macet, namun jika ada kondisi darurat lebih mudah mengakses rumah sakit. Intinya, semua memiliki kekurangan dan kelebihan, sesuaikan dengan batas kemampuan Anda.

Menjaga kehigienisan

Saat hamil, frekuensi berkemih menjadi sering. Sayangnya, kondisi toilet di tempat umum saat mudik bisa dipastikan lebih penuh dari biasanya. Dalam perjalanan darat, hal ini bisa menjadi masalah. Selain mengantre, kondisi air juga belum tentu bersih. Karena itu, antisipasi dengan selalu membawa air mineral kemasan, tisu, maupun celana dalam cadangan di dalam tas untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dan jamur di area vagina. Anda juga bisa memilih moda transportasi dengan jarak tempuh yang paling pendek jika memungkinkan, meskipun lebih tidak ramah di kantong. Yang penting, kehamilan Anda lebih minim risiko.

Tidak ada komplikasi

Beberapa kondisi yang termasuk komplikasi antara lain: diabetes gestasional, riwayat keguguran, preeklampsia, masalah plasenta, riwayat persalinan prematur, masalah pada serviks, kehamilan kembar, serta kehamilan pertama pada usia di atas 35 tahun. Dalam kasus seperti di atas, sebaiknya Anda mempertimbangkan untuk sedikit “mengorbankan” tradisi mudik demi keamanan dan keselamatan janin. 

Persiapkan keadaan darurat

Meskipun kita tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tidak ada salahnya melengkapi diri dengan informasi tentang fasilitas kesehatan yang bisa dihubungi selama perjalanan. Selain P3K pribadi, bawalah foto catatan kehamilan Anda jika perlu. Charger dan powerbank juga menjadi komponen penting untuk kondisi darurat. Lebih baik lagi jika Anda memiliki asuransi.

Jaga asupan makanan 

Selalu bawa makanan sehat dalam perjalanan, baik makan berat maupun kudapan, tergantung lama perjalanan. Jika biasanya mudik identik dengan camilan MSG dan minuman ringan dalam kemasan, Anda bisa memilih opsi yang lebih sehat. Jangan lupa, tetap konsumsi vitamin prenatal dan cukup minum. 

Perhatikan kenyamanan

Perjalanan mudik dengan mobil, bus, atau travel memungkinkan Anda untuk mengalami kemacetan, khususnya menjelang hari H. Posisi duduk terlalu lama bisa membuat punggung bawah pegal. Beruntunglah jika Anda membawa mobil pribadi karena dapat berhenti untuk meregangkan badan dan beristirahat sesuka hati. Sayangnya, jika angkutan umum yang menjadi pilihan, Anda harus pintar-pintar memanfaatkan waktu berhenti untuk sekaligus melakukan peregangan badan. Bawa bantal leher atau bantal untuk punggung jika perlu. Pilih pakaian dan alas kaki yang nyaman, sesuai moda transportasi pilihan.

 



Konsultasi dengan dokter