Bulan Ramadhan, saatnya kita menahan hawa nafsu. Lapar dan haus mungkin masih lebih dapat ditahan dibandingkan menahan diri dari rasa rindu bagi anak remaja kita. Apalagi, jika mereka sudah memiliki pacar dan rutin menghabiskan waktu berdua. Sebagai orang tua, kita dapat memanfaatkan momen puasa ini untuk menjelaskan esensi dari berpuasa sekaligus mengingat kembali komitmen dengan anak tentang seberapa jauh batasan berpacaran yang dapat mereka lakukan. Tujuannya, agar mereka tidak menyia-nyiakan pahala di bulan suci ini karena aktivitas mereka yang “berlebihan” ketika berpacaran.

Alih-alih membuat sekian peraturan untuk remaja kita, diskusikan dengan anak (dan pasangan, juga dengan pacar anak jika memungkinkan) tentang apa saja yang sebaiknya dihindari saat berdua dengan pacar dan aktivitas bernilai ibadah apa yang perlu ditingkatkan untuk mengalihkan perhatian mereka dari kegiatan yang dapat membangkitkan hawa nafsu. Ingatkan kembali bahwa agama mengatur bagaimana hubungan dengan lawan jenis demi kebaikan masing-masing, karena Yang Menciptakan lebih tahu tentang karakteristik “produk”Nya. Jika kita membolehkan anak berpacaran asal sesuai dengan nilai-nilai keluarga misalnya, maka kita pun harus siap dengan segala konsekuensinya. 

Secara garis besar, beberapa hal di bawah ini bisa dijadikan contoh batasan berpacaran saat bulan puasa:

 

Kurangi intensitas bertemu 

Jika benar-benar ingin khusyuk beribadah, menghindari bertemu pacar adalah salah satu caranya. Apalagi, jika frekuensi pertemuan anak dan pacarnya termasuk tinggi, atau mereka termasuk pasangan yang terbiasa mengungkapkan sayang dengan sentuhan. Meskipun tidak dapat bertemu, komunikasi tetap dapat dilakukan dengan gadget, kan? Namun, jika ananda satu sekolah dengan kekasih, ajak ia untuk menghindari berduaan sepulang sekolah.  

 

Hindari berdua saja

Ide pertama tampak terlalu berat? Kalau begitu, tetap perbolehkan ia untuk bertemu pacar namun tidak hanya berdua saja, apalagi di tempat sepi dan di waktu malam, baik itu bioskop, rumah saat kosong, bahkan mobil. Buka bersama teman-teman dan bersama keluarga kita, bahkan datang ke kajian bisa menjadi alternatif akhir pekan. Anak senang, orang tua tenang, ilmu didulang.

 

Hindari kontak fisik

Jelaskan pada remaja kita, bahwa laki-laki lebih mudah terangsang melalui sentuhan yang bagi perempuan merupakan sentuhan biasa. Karena itu, sebisa mungkin anak dan pacar saling menahan diri. Tanyakan beberapa aktivitas alternatif yang dapat ia lakukan atau beri usulan, seperti membuat Ramadhan To-Do-List yang dapat menyibukkannya memenuhi target tadarus, tarawih, kajian yang bisa ia check list tiap hari. Anak juga dapat mengajak pacarnya membuat daftar serupa, sehingga mereka bisa saling berlomba dan saling mengingatkan. Kita bisa membantu memberi reward, lho jika anak bisa memenuhi sekian persen target. Dengan demikian, anak akan lebih fokus dengan ibadahnya.

Sebenarnya, baik bulan puasa atau bulan biasa, berpacaran memang harus menjaga diri dari aktivitas yang dapat mendorong timbulnya aktivitas seksual. Karena itulah tidak ada istilah pacaran dalam Islam. Remaja mungkin bisa melakukan refleksi diri saat Ramadhan, apa yang sebenarnya dicari dalam hubungan tersebut. Jika ternyata lebih banyak hal yang tidak sesuai dengan nilai agama dan keluarga, bisa jadi mereka akan mempertimbangkan kembali kelanjutannya, atau mungkin sekadar mengubah gaya berpacaran. Semoga saja, kebiasaan positif yang mereka lakukan saat Ramadhan bisa membawa hubungan percintaan remaja ke arah yang lebih baik.

Masih ragu, remaja kita sepaham atau tidak dengan batasan pacaran menurut orangtua? Yuk, ketahui pandangan mereka tentang pacaran di sini.

 



Konsultasi dengan dokter