“Bu, kenalin ini Dimas, ‘teman dekat’ Aisyah,” ujar Aisyah (16 tahun) pada Ibunya. Untuk Ibu yang memiliki remaja ini bisa menjadi berita yang mengejutkan. Bagaimana tidak, Aisyah putri sulungnya yang menginjak usia 16 tahun, sudah berani mengungkapkan perasaan pada pria. Masih santar diingatannya, Aisyah kecil yang ditimang dan diajaknya bermain kini telah beranjak dewasa dan memulai fase baru di dunia pubertasnya. 

Tak hanya Aisyah, ini juga menjadi fase baru untuk Ibu. It happened, walaupun Anda mungkin tak menyangka akan secepat ini. Anda bangun di satu waktu mengetahui sang anak sudah bukan anak-anak lagi, ada hormon, perasaan romantis yang muncul dan kian berkembang dengan lawan jenis. Saatnya Anda merubah cara berkomunikasi dan mengantarkan mereka pada pacaran yang sehat. Bagaimana caranya?

Pertama, jelaskan apa itu pacaran yang sehat 

Komunikasikan pada remaja tentang landasan pacaran sehat yang datang dari rasa hormat, saling mengerti, percaya, jujur, terbuka dan saling mendukung. Sebuah hubungan harus memiliki batasan yang disepakati kedua belah pihak secara berimbang. Pasangan yang baik akan menerima apa adanya, mendukung pilihan positif dan saling mendoakan dalam kebaikan. Pacaran sehat juga memperbolehkan masing-masing memiliki kehidupan sosial pertemanan, dan tidak mengikat kebebasan satu sama lain. 

Lalu, jelaskan antara cinta, tergila-gila atau nafsu 

Membedakan perasaan ini memang pasti sulit untuk remaja yang baru saja merasakan berbagai macam jenis perasaan untuk pertama kalinya. Beri waktu untuk menjelaskan pada mereka, bahwa atraksi dan nafsu itu berbeda dengan cinta. Ia bisa memberikan kita perasaan berdebar, tak bisa makan dan tidur tapi berbeda dengan cinta. Cinta butuh waktu untuk tumbuh, sementara nafsu bisa terjadi secara instan. 

Terakhir, beri batasan dan ungkap ekspektasi 

Sangat penting untuk memberi batasan dan menjelaskan ekspektasi Anda pada remaja sebelum Ia melangkah terlalu jauh. Biarkan mereka tau aturan apa yang Anda terapkan. Misal, jam malam, dengan siapa mereka boleh berpacaran, sejauh mana mereka boleh berinteraksi dan hal lain yang tentu bisa berbeda antar satu orangtua dan yang lain. Jangan lupa juga, edukasi tentang batasan fisik yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jadikan momen ini sebagai momen diskusi dan komunikasi dengan mereka. Kepercayaan Anda dan mereka akan menjadi sangat krusial dalam memulai perjalanan baru. Baik untuk Anda, maupun untuk mereka. 

Lalu bagaimana ya kira-kira pandangan remaja akan hal ini atau masalah sosial lainnya? Yuk, cek dokter genz untuk tau dari sudut pandang remaja saat ini. 

 

 



Konsultasi dengan dokter