Salah satu kemampuan dasar yang dipelajari sejak masa kanak-kanak adalah self regulation, atau kemampuan untuk mengontrol dirinya dalam situasi sulit. Jika self control berkaitan dengan individu, maka self regulation berkaitan dengan cara seseorang bereaksi dengan situasi di lingkungannya. Bagi anak, situasi yang menuntut kemampuan meregulasi diri antara lain, ketika anak ingin bermain gadget sepuasnya tetapi orang tua membatasi, ketika anak ingin marah dengan cara merusak dan menyakiti, atau ketika anak merasa malas melakukan kewajibannya sebagai siswa.

Baca juga: http://skata.info/article/detail/341/mengenal-self-regulation-pada-anak   

Anak cenderung berperilaku impulsif dan lebih dapat mengendalikan diri sesuai pertambahan usianya. Karena itu, wajar jika kita melihat anak usia 4 tahun tantrum dan anak usia 12 tahun sudah bisa menahan diri. Jika pada usia 12 tahun anak masih sering tantrum, berarti ada yang salah dengan regulasi dirinya. Nah, pada bulan puasa ini, kita pun dapat memanfaatkannya untuk melatih kemampuan self regulation anak, yang secara otomatis melatih kontrol diri kita sebagai orang tua. Mengapa? Karena orang tua menjadi pembentuk pertama self control pada anak. Cara orang tua menegakkan disiplin, cara orang tua merespon kegagalan anak, gaya berkomunikasi, cara orang tua mengekspresikan kemarahan (penuh emosi atau mampu menahan diri) merupakan awal anak belajar tentang kontrol diri.

Cara melatih self regulation di bulan puasa ini bisa kita sesuaikan dengan usia anak maupun kebiasaan tertentu anak dimana ia masih berjuang untuk mengendalikan responnya terhadap situasi. Secara umum, anak usia 4 tahun sudah dapat diperkenalkan dengan konsep puasa, mengendalikan rasa lapar, haus, amarah, beserta alasan-alasan yang mendasarinya. Jika ternyata belum, kita dapat menyederhanakan penjelasan atau menunggu hingga usia yang tepat.

Beberapa contoh di bawah ini dapat dilakukan sebagai upaya melatih self regulation pada anak di bulan puasa:

Memberi contoh

Jika kita menemui hal yang memancing emosi, misalnya melihat rumah berantakan atau pengendara motor yang ugal-ugalan, kita bisa berusaha tetap tenang. Tambahkan komentar seperti, “Ibu bersyukur tadi tidak marah -meskipun ibu bisa saja marah- karena hampir saja kita tertabrak motor itu. Kita tidak boleh marah di bulan puasa, agar kita terbiasa menahan diri dari perbuatan tidak baik.”

Mengungkapkan perasaan

Anak terkadang sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan hingga akhirnya mengungkapkannya dalam luapan emosi. Kita bisa membantunya mengungkapkan apa yang ia rasakan, misalnya, ”Kakak kesal ya, enggak jadi beli es krim? Besok kalau kakak bisa berhasil puasa sampai Maghrib, kita beli es krim ya! Sekarang kakak masih kesal? Mau main ular tangga biar senang lagi?”

Mencari cara yang lebih baik

Jika anak sering mengungkapkan emosi negatifnya secara fisik, kita bisa memintanya memasukkan tangan ke dalam saku celana, atau memegang bola yang dapat diremas, saat ia sudah mulai kehilangan kendali. Berikan kalimat penenang seperti, “Tenang yuk, marah pergi ya.. Adik udah pinter, nggak mau mukul lagi, mau dapet pahala..” 

Membuat peraturan yang jelas

Adanya peraturan membuat anak lebih mudah memahami perilaku yang kita harapkan. Jika perlu, tulis dan tempel di dinding, beri ilustrasi sederhana. Misalnya, peraturan untuk membereskan mainan, menyiapkan tas malam hari sebelum sekolah, tidak makan minum di depan orang yang berpuasa, tidak berteriak jika meminta sesuatu. Kita dapat menambahkan ayat atau hadis yang sesuai dengan peraturan tersebut. 

Beri pujian

Jika anak berhasil menunjukkan self regulation yang baik di situasi yang sulit, beri ia pujian. Pujian sebaiknya spesifik, seperti, “Kakak hebat lho, bisa tidak membalas pukulan adik. Padahal Ibu tahu, rasanya sakit.”

Semoga contoh di atas bisa membuat kita dan anak berlatih mengontrol diri di bulan puasa, ya!

 



Konsultasi dengan dokter