Seorang Ibu pernah bercerita tentang anak remajanya yang mudah sekali marah. Ia berumur 14 tahun. Saat Ia tidak diperbolehkan untuk pergi bersama temannya atau mematikan gagdetnya, Ia bisa meninggikan suara bahkan berteriak karena marah. Kemarahannya terkadang membuat sang Ibu takut, hingga berfikir sang anak mengalami kondisi kejiwaan. Tapi tidak, Ia adalah anak remaja yang normal. 

Walaupun kemarahan anak remaja bisa menakutkan, bukan berarti itu adalah tanda kondisi kejiwaan yang serius. Bahkan hal ini bisa terjadi pada remaja yang terlihat manis diluar, namun bisa mengeluarkan amarah hebat saat berada di rumah. Anda juga mengalami masalah yang sama? Jangan khawatir, berikut adalah cara untuk mengatasi yang layak Anda coba. 

Pertama, mengerti bahwa tidak nyaman juga bagi anak merasa marah

Mereka tidak memilih untuk menjadi anak yang berkelakuan buruk. Sebuah perasaan tidak nyaman sedang mereka rasakan, baik fisik maupun pikiran. Mereka ingin berperang dengan keadaan yang tidak mereka sukai namun terkadang belum bisa mengontrol dengan baik. Ingat, anak yang marah adalah anak yang tertekan. Jadi, tenangkan diri Anda untuk mengerti mereka. 

Saat anak marah, usahakan tetap berada di dekatnya 

Jangan biarkan mereka sendiri untuk waktu yang terlampau lama. Tak usah mengintervensi, cukup ada di dekatnya untuk mengawasi karena beberapa remaja memiliki risiko menyakiti diri sendiri saat mereka terlampau marah. Penting untuk selalu mengawasi keamanan mereka. 

Jangan ajak diskusi saat emosi

Ingat, ketika anak remaja sangat marah, sebagian dari otaknya berada di “attack mode” – dimana Ia akan mudah menyerang dan tidak menerima input. Sinyal komunikasi dan berfikir pun menjadi tak berfungsi. Biarkan Ia tenang, sebelum Anda mengajak bicara. 

Sebaliknya, coba berempati dengan situasi

Alih-alih mencari alasan atau berargumen dengan anak, beri waktu untuk menenangkan diri Anda. Katakan pada diri, “anak remaja saya sedang tertekan” saya harus mengerti. Lalu, katakan kalimat yang membangun, seperti ;

“Ibu minta maaf kamu harus melalui ini semua, pasti enggak enak ya rasanya kecewa atau marah.”

“Ibu bisa lihat betapa kamu marah, maaf ya kamu harus melaluinya.” 

Katakan sekali saja, tak usah berulang-ulang. 

Ketika mereka sudah tenang, saatnya Anda berbicara

Tak semua remaja sama, ada yang bisa berbicara secara langsung, ada yang harus lewat media tertentu. Bisa dengan whatsapp atau bahkan melalui email. Tapi Anda harus tetap melakukan ini saat mereka sudah dalam keadaan tenang. Jadikan komunikasi ini tentang mereka, bukan Anda. Alih alih memberi nasehat apa yang harus mereka lakukan, baiknya Anda tanyakan keadaan mereka. Apa yang membuat mereka marah, apakah mereka tersakiti, bagaimana cara Anda mengerti mereka, bagaimana menurut mereka cara menyelesaikannya. 

Perbaiki situasi bersama-sama 

Penting untuk mengajarkan anak remaja Anda memperbaiki situasi dan hubungan ketika mereka terlanjur mengeluarkan amarah atau berkata kasar. Bersama mencari solusi adalah yang terbaik. Dengarkan apa masukan mereka, dan beritau apa yang Anda rasakan. Mencari solusi termasuk meminta maaf, kata-kata yang sebaiknya dilontarkan, kapan dan bagaimana. 

Mengatasi kemarahan anak adalah cara salah satu cara bicara yang bisa mendekatkan hubungan antar orangtua dan anak, terutama anak remaja. Sekaligus juga membangun kepercayaan anak akan orangtuanya. Lalu bagaimana pandangan anak remaja mengenai hal ini atau problematika remaja lain? Cari tau yuk di sini.

 

 

 



Konsultasi dengan dokter