Bulan Ramadhan tinggal dalam hitungan hari. Sudah siapkah kita menjalaninya? Tidak sekadar menahan lapar, bulan puasa juga dapat dijadikan momentum perbaikan diri, lho. Kapan lagi kita bisa termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, mengingat amarah membatalkan puasa. Kapan lagi kita bisa menjadi pribadi yang suka menolong, mengingat pahalanya berlipat ganda. Kapan pula kita berpikir dua kali untuk tidak berbohong, bergunjing, atau memikirkan mereka yang kelaparan kala kita mengeluarkan sekian ratus ribu rupiah hanya untuk sebuah hidangan berbuka puasa?

Nah, kini saatnya kita membenahi diri dengan sungguh-sungguh. Siapa tahu, niat awal sekadar menaati aturan di bulan suci ternyata berubah menjadi kepuasan diri menjadi pribadi yang lebih baik untuk periode yang lebih lama.

Mulailah dari mengaudit diri sendiri dengan mencari tahu apa saja hal-hal yang ingin kita ubah dari diri sendiri. Kita bisa membaginya dalam tiga aspek, yaitu hubungan kita dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan Tuhan. Dalam praktiknya, semua saling terkait.

Jika kita mendadak bingung tentang apa yang harus diubah atau ditingkatkan, kembalilah ke prinsip hidup yang kita anut. Mungkin kita menganut kebaikan universal, namun ada baiknya kita menengok kembali prinsip-prinsip yang diatur dalam agama kita. Banyak yang menganggap agama hanyalah tentang ibadah ritual, padahal agama mengatur segala aspek kehidupan.

Dalam hubungannya dengan diri sendiri, salah satu poin yang cukup penting adalah kejujuran. Bulan Ramadhan, kita seolah “dikekang” oleh lebih banyak lagi aturan. Jika biasanya hanya solat 5 waktu, kini ada puasa, tarawih, tadarus, sedekah, yang mungkin bagi sebagian orang terasa memberatkan. Melewatkan hal-hal tersebut bisa saja dilakukan, tetapi nilai kejujuran akan mengingatkan kita bahwa orang lain bisa saja tidak tahu, namun kita dan Tuhan tahu. Kita bisa menilai diri sendiri dengan jujur, apakah pribadi kita sudah cukup baik dari kacamata Ramadhan, atau baik dalam ukuran duniawi saja. Dengan kejujuran ini, kita akan dapat melihat sifat-sifat apalagi yang akan kita benahi selama sebulan ke depan.

Karena bulan Ramadhan menciptakan lebih banyak interaksi dengan orang lain, kita akan lebih mudah menilai seberapa baik hubungan kita dengan orang lain. Apakah kita termasuk istri yang lemah lembut, orang tua yang sabar, anak yang perhatian, teman yang solider, atasan yang pengertian, tetangga yang suka menolong, atau orang yang dermawan? Jika belum, masih ada waktu mempersiapkan daftar orang yang akan kita beri kebaikan maupun daftar kebaikan yang akan kita lakukan kepada orang lain. Selain berpahala, memberi ternyata dapat menimbulkan rasa bahagia, lho! 

Membenahi diri pribadi sekaligus hubungan dengan orang lain secara tidak langsung memperbaiki hubungan kita dengan Yang Diatas, karena ajaran agama tidak lain adalah untuk menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Terbukti, agama tidak sekadar solat dan puasa. Ini belum menyangkut ibadah ritual lain yang berkali lipat pahalanya di bulan Ramadhan, yang membuat kita makin bersemangat menjalaninya. 

Yang perlu diingat, perbaikan diri ini adalah sebuah proses. Sama seperti rasa lemas dan tak bersemangat pada hari-hari awal menjalankan puasa, mengubah kebiasaan menahun juga tidak mudah. Kuncinya ada dua, motivasi dan konsistensi. Berikan motivasi yang kuat untuk membenahi diri, apakah demi balasan dariNya atau demi kebahagiaan anak dan pasangan melihat diri kita yang lebih positif. Yang kedua, konsistensi. Apresiasi sekecil apapun perubahan yang kita alami. Jangan terlalu bersedih jika satu hari kita gagal menahan marah, masih ada hari esok untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena itulah bulan Ramadhan berlangsung selama 30 hari bukan? Agar kita tetap bersemangat untuk senantiasa memperbaiki diri, lahir dan batin.

Selamat menjalankan ibadah puasa!

 

 

 



Konsultasi dengan dokter