Anna, 40 tahun, merasa kesulitan saat berkomunikasi dengan Dina, anak semata wayangnya yang berusia 17 tahun. . Padahal, masa kecil Dina dilewati berdua Ibunya dengan penuh kedekatan. “Tak sulit berkomunikasi dengan Dina kala itu, tapi ketika Ia beranjak remaja seolah menutup diri dan sulit sekali berbicara tanpa ‘ribut’,” ujar Anna. “Saya merasa Ia memiliki dunia sendiri, membuat saya merasa kehilangan,” tambahnya. 

Masa kecil diingat sebagai masa yang bahagia antar orangtua dan anak, layaknya bulan madu antar keduanya. We are best buddies! “KITA adalah sahabat!” Kalimat yang mungkin tepat untuk menggambarkannya. Namun seiring waktu, anak akan tumbuh berkembang di lingkungan sosial yang baru dan menjadi tantangan menarik untuknya, sehingga Ia akan senang bereksplor dengan pandangan baru dan seolah menjauh dari pelukan orangtua. Ini adalah bagian dari proses hidup yang akan dialami baik orangtua dan anak. Kata “kita” pun akhirnya berubah menjadi “kami” dan “mereka”.

Wajar adanya pergeseran perubahan kelekatan orangtua dengan anak dan orangtua dengan anaknya yang sudah beranjak remaja. Biasanya hal ini dimulai di usia 9-13 tahun. Ketika masih berusia kanak-kanak, orangtua dan anak cenderung menjadi teman dan tak ada celah antar keduanya. Saat anak beranjak remaja, ada perbedaaan pandangan antar orangtua dan anak, sehingga tercipta celah dan akan bertambah lebar jika tidak segera disikapi. Tantangannya adalah bagaimana orangtua dan remaja bisa tetap saling terhubung walau dengan perbedaan yang ada. 

Psikolog Carl E. Pickhardt Ph.D di sebuah situs Psychology Today, mengungkapkan cara pandang orangtua ketika anak masih usia kanak-kanak dan ketika mereka beranjak remaja. 

Masa kanak-kanak dengan orangtua diwarnai dengan kalimat, “kita saling menyayangi satu sama lain, kita ingin menghabiskan waktu bersama, kita saling menghargai satu sama lain, kita saling peduli, kita saling membantu dan berusaha menyenangkan satu sama lain.” Saat remaja, istilah kita kemudian berubah menjadi kami (orangtua) dan mereka (remaja). 

"Kami lebih paham, mereka tidak paham. Kita butuh tanggung jawab, mereka ingin kebebasan. Kami menghargai proses, mereka ingin hasil. Kami peduli keamanan, mereka ingin berpetualang. Kami beri support, mereka beri kekhawatiran."

Perbedaan ini yang kadang menjadi hambatan komunikasi antar orangtua dan remaja. Lalu bagaimana menyikapinya?

Dalam pengasuhan, orangtua terkadang sulit move on dari pengajaran anak menjadi pengajaran remaja. Inginnya selalu “mengikat” mereka dengan sebutan kita, kembali pada masa lalu dan menganggap remaja sebagai anak kecil yang selalu ingin kita dekap. Lupa bahwa anak akan beranjak dewasa dan perlu menemukan dunia yang berbeda dan belajar menyikapi persoalan di luar rumah. Istilah kami dan mereka bukan hal yang buruk. Mereka (para remaja) butuh tumbuh mengenal identitas diri dan kami (para orangtua) bisa tetap menjaga kedekatan dengan terus melakukan supervisi. Keduanya bisa tumbuh berkembang dengan baik dengan saling menjaga nilai yang ditanamkan semenjak masa kanak-kanak. Tak perlu khawatir akan perbedaan, itu bagian dari tumbuh kembang yang harus orangtua sikapi dengan bijak. Cukup ingatkan mereka akan nilai penting yang sudah Anda tanamkan, biarkan mereka mengeksplorasi prakteknya dengan gaya dan caranya sendiri. 

Ingin tau lebih banyak apa yang ada di pikiran remaja? Yuk, cek serba serbinya di sini!

 



Konsultasi dengan dokter