Sebagai orangtua milenial, kita dituntut untuk mampu mendidik anak sekaligus menjadi temannya. Secara teori mungkin mudah, apalagi jika orangtua kita dahulu berhasil menjadi teman sekaligus panutan bagi kita. Tetapi, bagi mereka yang dibesarkan oleh orangtua dengan pola komunikasi satu arah serta kental dengan relasi orangtua dan anak yang tidak seimbang, hal ini tentu akan menjadi tantangan. Meskipun kita tidak setuju dengan pola asuh semacam itu, terkadang alam bawah sadar kita masih mengadopsi cara-cara pengasuhan generasi tedahulu, khususnya saat kita dalam kondisi emosi. 

Relasi orangtua yang merasa lebih berkuasa terhadap anak tersebut terwujud dalam bentuk perintah, hukuman, larangan tanpa adanya komunikasi timbal balik dan kesepakatan terlebih dahulu. Selain itu, pengambilan keputusan sering dilakukan menurut standar ideal orangtua, mulai dari masalah mengikuti les, memilih jurusan saat kuliah, pekerjaan, hingga jodoh. Dari contoh tersebut, berapapun usia anak, orangtua dapat memaksakan kehendaknya. Tidak heran jika data Kementrian PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) tahun 2018 menunjukkan bahwa kekerasan paling banyak dilakukan dalam rumah tangga sebanyak 5.736 kasus, dengan korban anak paling banyak pada rentang usia 13-17 tahun (28,60%), usia 6-12 (17.70%), dan usia 0-5 (8.90%).   

Kekerasan fisik, verbal, seksual, maupun psikologis seperti pemaksaan kehendak akan berdampak buruk pada anak tidak hanya pada saat hal tersebut terjadi, juga pada kepribadian, pola pikirnya, relasinya dengan orang lain, dan masa depannya. Karena itu, kita sebagai orangtua harus sadar bahwa anak juga manusia yang memiliki kehendak dan kelak menentukan jalan hidupnya sendiri.

Agar tidak terjebak melakukan kekerasan pada anak secara tidak sadar, kita bisa mengingat beberapa prinsip berikut ini:

Hargai Anak Sebagaimana Kita Ingin Dihargai

Terkadang, kita menganggap mereka hanyalah “anak kecil”, baik pendapatnya, haknya, keinginannya. Seolah semua bisa kita kendalikan jika ada yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Padahal, respect atau menghargai anak salah satu kunci yangbisa menghindarkan kita dari kekerasan. Jika kita ingin melakukan sesuatu pada anak, tanya diri kita sendiri, maukah kita diperlakukan demikian? Memang benar mereka membutuhkan perhatian, bimbingan, dan perlindungan dari kita, namun semua itu bisa dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyakiti perasaan.  

Putuskan Sesuatu Berdasar Kesepakatan

Ketika anak sudah mulai bisa diajak berkomunikasi, ajari mereka untuk berdiskusi tentang keputusan yang akan diambil. Hindari mengambil keputusan tentang mereka yang tidak mereka sukai karena hal tersebut merupakan pemaksaan, kecuali hal tersebut bersifat darurat seperti tindakan medis. Tentu saja, untuk mampu dapat berkomunikasi secara efektif, kita harus membiasakan diri untuk mengajak anak berdiskusi, meskipun itu sesederhana memilih menu sarapan atau pakaian. Ajak anak untuk melihat sisi baik dan buruk setiap pilihan sebelum memutuskan. Jika keputusan tersebut pada akhirnya tidak menguntungkan, disitulah anak belajar tentang konsekuensi. 

Junjung Tinggi Kejujuran

Menyerobot antrean, menyontek, sampai korupsi. Terlalu banyak contoh ketidakjujuran di lingkungan kita. Jangan sampai relasi kita dengan anak ternodai oleh ketidakjujuran kita pada anak karena kunci kepercayaan anak pada orang tua adalah pada sikap jujur. Jangan membuat-buat alasan agar mereka melakukan/menghindari sesuatu. Katakanlah alasan yang sebenarnya. Anak juga anggota keluarga yang bisa belajar memahami.

Beri Contoh, Bukan Menuntut

Orangtua memang lebih tua daripada anak, namun tidak berarti lebih berkuasa dan sah untuk menuntut anak untuk bisa ini itu. Yakinkan diri bahwa anak itu pada dasarnya baik sehingga tidak perlu disalahkan, dihukum, disogok sebagai cara untuk mempengaruhi perilaku mereka. Jika ingin anak berperilaku tertentu, beri contoh. Jika ingin mereka menghormati kita, hormati mereka. Jika ingin mereka mendengarkan kita, dengarkan mereka. Jika ingin anak menjadi orang yang baik, bersikap baiklah pada mereka.

Yang perlu kita ingat, membesarkan anak membutuhkan proses sehingga hasilnya tidak bisa langsung dinikmati. Memanfaatkan kuasa kita sebagai orang tua memang terlihat lebih mudah, anak lebih mudah diatur, lebih patuh. Tapi, apa benar tujuan kita mendidik mereka hanya sekadar agar patuh dan mudah diatur? Mungkin kita perlu tanyakan pada diri sendiri, manusia seperti apa yang ingin kita hasilkan dari proses pengasuhan ini. Fokuslah pada menjalin hubungan dengan anak, bukan sekadar membuat anak memenuhi standar kita. Jika masalah muncul, komunikasikan dengan anak alih-alih mengontrol mereka.

Coba cari tahu juga apa yang ada di benak anak, dan apa yang mereka rasakan, di sini https://doktergenz.hipwee.com/ 

 



Konsultasi dengan dokter