Halo Ibu, nampaknya mengasuh anak sekaligus menjalankan rutinitas sehari-hari kerap menguras emosi ya. Apalagi, jika anak masih kecil dan belum bisa diajak bicara secara efektif. Terkadang, rasa lelah saat membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangga, adanya deadline di kantor, sampai komentar negatif lingkungan sekitar membuat kita jadi “melegalkan” munculnya amarah dengan dalih menyalurkan emosi. 

Tidak salah sebenarnya, namun kita harus ingat bahwa emosi yang disalurkan secara salah dapat menyelesaikan masalah secara cepat namun secara jangka panjang dapat menimbulkan masalah. Khususnya, jika menyangkut dampak amarah kita pada anak. Karena itu, ada baiknya kita mencoba 5 cara berikut dari Catherine Valadez Lopez, seorang direktur Childcare Centre di New York, agar tetap dapat berbicara dengan baik saat kesabaran habis.

Tarik nafas panjang

Ketika dada seolah sudah penuh dan ingin meletup, tariklah nafas selama 5 detik, tahan nafas 5 detik, lalu buang selama 5 detik untuk memberi sinyal pada tubuh untuk rileks. Tindakan ini juga akan membuat kita mampu berpikir sejenak untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana harus berbicara. Latihan secara rutin tanpa menunggu amarah datang akan lebih memudahkan kita untuk melakukan trik ini ketika dibutuhkan.

Keluar ruangan sejenak

Mundur sejenak dari situasi yang memanas membuat kita dapat menetralkan diri dari potensi hilang kesabaran dan mengeluarkan bentakan atau kata-kata yang bisa menyakiti anak. Saat melangkah ke luar, coba hitung pelan hingga 10 atau tarik nafas dalam agar bisa kembali ke dalam ruangan lebih cepat. Pastikan anak aman di dalam ruangan, ada orang lain yang mengawasi, dan tidak berada di dekat benda berbahaya. Boleh kok, kita berteriak dengan wajah ditutup bantal atau bahkan meninju bantal tersebut jika dirasa lebih melegakan. Setelah kita bisa menguasai situasi, dekatilah anak kembali dan bicaralah dengan lebih pelan dan sabar.

Nyanyikan amarah 

Terdengar aneh memang, tapi menyanyikan kata-kata yang ingin kita ucapkan saat marah membuat emosi tersebut lebih sulit muncul, bahkan membuat kita menjadi terbahak. Dengan nada dan irama, anak mungkin akan sedikit bingung namun apa yang kita bicarakan akan lebih diperhatikan oleh mereka. Kita pun tetap dapat menyampaikan pesan dengan baik. Tentu saja, tanpa rasa bersalah karena hilang kesabaran.

Katakan apa yang kita rasakan

Saat amarah datang, kita bisa mengucapkannya secara langsung pada anak dengan nada rendah, setenang mungkin, seperti, “Ibu pengen banget marah, tolong ya, Nak, stop lompat-lompat di kasur.” Hal seperti ini selain membuat anak mengerti perasaan kita, anak juga belajar untuk mengenali emosi apa yang mereka rasakan serta bagaimana cara yang tepat untuk meresponnya. 

Melihat dari sudut pandang anak

Berhentilah sejenak untuk melihat situasi dari sudut pandang anak. Hal ini akan membantu kita memahami apa yang dipikirkan oleh anak, apa tujuan mereka melakukan hal tersebut, dan bagaimana cara bicara yang tepat agar mereka menangkap maksud kita –bukan emosi kita. Semisal anak kita tetap lompat-lompat di kasur, rasakan kesenangan kita saat seusia mereka dulu ketika melakukan hal-hal sederhana tersebut. Ketika anak menuangkan seluruh isi mainan ke lantai, pahami bahwa anak usia setahun ingin mendengar sensasi bunyi mainan jatuh dan mungkin saja ingin melihat reaksi kita.

Ucapkan “mantra”

Kita bisa memilih “mantra” atau sejenis kalimat penenang  yang terbukti ampuh untuk menguasai kembali emosi kita yang sempat terbajak situasi. Beberapa contohnya adalah:

“Masa kecil mereka hanya sebentar. Lima tahun akan cepat berlalu”

“Aku sayang anakku lebih dari …..” (sebutkan benda yang ia rusak, misal piring, karpet, dll)

“Aku tidak ingin mereka terluka karena teriakanku”

“Aku tidak ingin mereka lebih banyak mengingat amarahku daripada kebaikanku”

Cukup banyak cara yang bisa dicoba ya, Bu. Semoga kita tidak pernah berhenti berlatih menguasai diri demi emosi yang lebih terkendali. 

Yuk, cari tau juga bagaimana pandangan anak remaja akan isu sosial termasuk komunikasi di https://doktergenz.hipwee.com/ 

 

 

 



Konsultasi dengan dokter