Kaum Ibu milenial pasti akrab dengan istilah “me time”, yaitu waktu yang ditujukan bagi diri sendiri untuk sejenak terbebas dari rutinitas mengurus anak dan rumah tangga. Tujuannya, untuk menjaga “kewarasan”. Sebegitu beratnya kah mengurus anak hingga bisa mengganggu kesehatan jiwa? Tergantung dari kondisi masing-masing ibu, mulai dari pengalaman masa masa lalu, kondisi anak, keharmonisan rumah tangga, tuntutan lingkungan, kondisi ekonomi, sampai pengaruh media sosial. Ketidakstabilan emosi Ibu akan membahayakan anak, baik secara langsung maupun secara jangka panjang pada kepribadian anak. 

Beruntunglah mereka yang bisa mengendalikan amarah. Sayangnya, masih banyak Ibu yang berjuang untuk tidak meluapkan emosinya kala himpitan masalah dan rasa lelah membuat tingkah polah anak menjadi begitu menyebalkan. Jika kita adalah salah satunya, pahami hal-hal berikut ini agar kita tetap dapat membesarkan anak dengan baik.

Temukan penyebab amarah

Apa yang paling sering menyebabkan seorang Ibu marah? Tidak semua Ibu sama lho, karena munculnya amarah berhubungan dengan luka batin kita. Mungkin Ibu A tidak tahan dengan teriakan anak, sementara Ibu B langsung meledak jika anak melepeh makanan. Gobind Vashdev, penulis buku Happiness Inside, menyatakan bahwa salah satu tugas anak adalah memancing emosi orang tuanya. Saat kita kecil, banyak gesekan hubungan dengan orang-orang terdekat yang saat ini masih ada, namun kita pendam, tutupi, dan alihkan. Saat anak memancing emosi, itulah kesempatan kita untuk mengenali masalah dari dalam diri dan menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum menyelesaikan masalah anak kita. Jika perlu, tulis setiap hal yang membuat kita lekas naik pitam agar kita bisa mengantisipasi emosi negatif bila situasi tersebut datang.

Antisipasi situasi pemicu

Sekarang, kita sudah menemukan penyebab dari sikap emosional yang kerap muncul. Langkah berikutnya adalah berusaha mengantisipasi munculnya situasi tersebut. Misalnya, jika kelelahan kita memicu sumbu pendek saat anak tidak patuh, maka berikan jeda pada setiap aktivitas meskipun itu hanya 10 menit. Apabila suami seolah tidak suportif dengan kesibukan harian kita, berusahalah membuka komunikasi dengannya. Jika anak tantrum membuat kita menyakitinya secara verbal, pastikan Ia kenyang, cukup perhatian, tidak mengantuk saat kita memintanya melakukan sesuatu. 

Berbagi dengan sesama Ibu

Tindakan antisipasi ternyata tidak terlalu berhasil, apalagi jika penyebabnya adalah hal yang tidak bisa kita hindari, seperti kondisi ekonomi, masalah kesehatan, atau ketidakharmonisan rumah tangga. Jika ini yang terjadi, kita bisa bercerita pada Ibu lain yang kita percaya, bisa orang tua, saudara, sahabat, support group. Selain membuat kita lega telah mencurahkan isi hati, dari mereka kita juga belajar bahwa setiap Ibu memiliki tantangan dalam mengasuh anak. Setiap Ibu pernah marah. Kita tidak sendiri. Mereka juga dapat membantu mencarikan solusi.

Belajar kelola amarah

Ada banyak cara untuk mengelola amarah, mulai dari menarik nafas beberapa kali, meninggalkan ruangan sesaat, mendengarkan musik, hingga berolah raga. Coba beberapa alternatif hingga kita menemukan yang paling cocok. Namun, tidak bisa instan ya, semua perlu dilatih.

Turunkan ekspektasi

Sebagai Ibu, kita tentu mempunyai harapan ideal akan anak kita. Siapa yang tidak ingin anaknya mandiri, pintar, kooperatif? Namun, setiap anak dilahirkan berbeda. Jika anak ternyata susah masuk sekolah, tidak kunjung paham tentang perkalian, belum berhasil potty training, mungkin kita harus menurunkan ekspektasi. Pahami bahwa setiap anak memiliki momennya masing-masing dan kita hanya harus mengusahakannya dengan lebih sabar. 

Ingat dampak buruknya

Anak-anak bisa salah mengingat tapi tidak pernah salah meniru. Ingatlah selalu bahwa ketika Ibu atau ayah melampiaskan emosi dengan cara negatif secara berulang, anak akan melakukan hal yang sama saat Ia marah. Tidak ingin kan, anak kita menjadi orang tua yang sama emosionalnya dengan kita kelak? Atau, lebih buruk lagi, anak dapat mengalami trauma, menjadi tertutup dan pemurung, dan mengalami masalah kesehatan jiwa jika Ia ternyata menjadi korban. Bisa jadi masa tua kita akan disibukkan dengan mengurus anak kita yang bermasalah. Maka, jadilah contoh yang baik untuk anak.

Semua membutuhkan proses

Ya, inilah “mantra” terakhir. Menjadi Ibu adalah proses. Mengobati luka batin adalah proses. Menaklukkan amarah adalah proses. Membesarkan anak juga merupakan proses yang berlangsung seumur hidup karena anak pun memiliki fase hidup sama seperti kita. Tidak ada Ibu yang sempurna. Maafkanlah kesalahan kita, teruslah belajar dan memperbaiki diri, selalu ingat bahwa apa hal-hal yang kita lakukan sehari-hari akan membentuk anak kita kelak. 

Jadi, apapun masalah yang kita hadapi saat ini, yakinkan bahwa kita tetap dapat membesarkan anak dengan baik ya, Bu.

 

 



Konsultasi dengan dokter