“Mah, aku gak mau makan banyak lagi.. Aku nggak mau diejek gendut sama temenku,” ujar Dito (7) kepada ibunya. Hida (45) kaget sekaligus sedih mendengar keluhan anaknya yang baru saja masuk SD. Saat TK, Hida sempat protes ke guru kelas karena teman-temannya sering mengejek bentuk tubuh Dito dan sekarang Ia mengalaminya lagi. Haruskah body shaming ini dialami Dito hingga remaja bahkan dewasa, selama Ia masih bertubuh besar?

Body shaming, atau memberikan komentar negatif terhadap bentuk fisik seseorang dengan tujuan mempermalukan orang tersebut, sering terjadi pada anak dan remaja. Mungkin kita dulu pernah mengalaminya, baik sebagai korban atau pelaku. Mengejek teman karena fisiknya dianggap sebagai bagian dari candaan. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin serius pula candaan fisiknya, bahkan bisa menjadi kata panggilan. Padahal, hal ini termasuk verbal bullying. Korban bisa kehilangan rasa percaya dirinya , seperti yang dialami Dito tadi.  

Jika kita adalah Hida, apa yang seharusnya kita lakukan?

Dengarkan keluhannya

Mendengar anak kita disakiti tentu rasanya ingin membalas pelaku, ingin protes kepada orang tuanya, dan serangkaian aksi emosional lainnya. Namun, sebisa mungkin kita menahan diri dulu. Tetaplah bersikap tenang, meskipun anak kita datang dengan menangis atau remaja kita marah-marah. Biarkan mereka meluapkan emosinya terlebih dahulu, beri pelukan atau usapan di punggung bila memungkinkan.Setelah kita dan anak sama-sama sudah dapat menguasai diri, tanyakan pada mereka bagaimana body shaming tersebut terjadi. Dengarkan cerita mereka dengan seksama, lalu bertanyalah jika mereka terlihat sudah siap menjawab.

Berikan kalimat dukungan

Kepercayaan dirinya sedang berada di titik terendah, maka berikan anak kalimat yang bisa membuatnya berharga. Jelaskan bahwa setiap orang diciptakan berbeda-beda, setiap orang istimewa. Kita tidak perlu bersedih karena memiliki rambut, kulit, ukuran tubuh tertentu. Jelaskan pula padanya bahwa yang ia alami adalah body shaming dan hal tersebut tidak boleh dilakukan. Sebutkan kelebihan ananda, apakah punya banyak teman, jago matematika, pandai menari, dan sebagainya. Apa yang kita lakukan jauh lebih penting dari penampilan kita. Yang paling penting, ungkapkan bahwa kita menyayanginya apa adanya.

Ajari cara menghadapi pelaku

Mengabaikan ejekan teman alih-alih balas mengejek mungkin bisa menjadi langkah pertama. Namun, jika Ia masih menerimabody shaming dari temannya, ajarkan anak untuk tegas mengatakan bahwa Ia terganggu. Bagi anak dan remaja tentu akan lebih sulit tetap bersikap baik pada pelaku, apalagi jika body shaming tersebut melibatkan banyak orang, bahkan sampai ke ranah online. Anda bisa menyarankan untuk berteman saja -baik di dunia nyata dan maya- dengan teman yang membuatnya merasa nyaman.

Intervensi jika meresahkan

Bila cara halusnya tidak membuat body shaming mereda, kita bisa membantunya melapor kepada sekolah, orang tua, atau bahkan pelaku, tergantung dimana hal tersebut terjadi.

Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya: anak kita melakukan body shaming terhadap saudara, teman, atau bahkan kita sendiri?

Jangan langsung dimarahi ya. Bisa jadi Ia memang tidak paham atau terpengaruh lingkungan pertemanan atau mungkin keluarga kita sendiri. Tanyakan padanya maksud dari perkataannya dan mengapa Ia melakukan hal demikian. Sama halnya dengan tips bagi korban, pahamkan pada anak bahwa perbedaan itu hal yang wajar dan kondisi tubuh tidak menentukan kualitas kita di mata orang lain. Jika anak hanya bermaksud bercanda, ajari untuk berempati, bahwa apa yang kita ucapkan bisa saja membuat orang merasa sedih, tidak percaya diri, tidak mau berangkat sekolah, bahkan tidak mau makan. Kita bisa memberinya contoh sosok yang Ia bisa idolakan yang sesuai dengan nilai-nilai keluarga, yang mungkin bisa menjadi role model bagi sikap anak agar menjadi anak yang suka menolong, atau remaja yang berprestasi, bukan remaja yang aktif memberikan komentar tidak bermanfaat di media sosial. Jika Ia bisa menerima masukan kita, ajak untuk meminta maaf.  

Terakhir, cek diri kita sendiri. Jangan-jangan selama ini kita tidak sadar sering menilai orang lain dari anggota tubuhnya, atau sering mengeluhkan bentuk tubuh kita. Tidak perlu merasa bersalah. Masih ada waktu untuk berubah, juga merubah pola pikir anak kita akan konsep tubuh dan nilai diri.

Artikel ini adalah bagian dari hasil kerja sama SKATA untuk kampanye 1001 Cara Bicara dengan Magdalene, media feminis progresif yang menyajikan artikel dan esai untuk berpikir kritis dalam menanggapi berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat, tanpa terkecuali isu-isu seputar kesehatan seksual dan reproduksi.

 

 



Konsultasi dengan dokter