Saat anak-anak masih kecil, kesadaran orangtua untuk menyediakan makanan bergizi masih tinggi. Selain karena anak-anak berada pada periode emas pertumbuhan, mereka pun masih mudah diajak untuk mengenal berbagai jenis makanan. Hidangan keluarga biasanya menyesuaikan dengan makanan si kecil sehingga seluruh anggota keluarga ikut mengonsumsi makanan sehat. Pada masa ini, peran Ibu sangat besar dalam menentukan gizi keluarga.

Seiring bertambahnya usia anak, mereka mulai mampu beradaptasi dengan apa yang dikonsumsi oleh Ayah Ibunya. Ia sudah mulai bisa memilih makanan apa yang ia sukai dan Ibu pun akan menyediakan makanan berdasarkan seleranya dan anggota keluarganya. Pada fase inilah terkadang orangtua mulai lengah dalam menyediakan makanan bernutrisi. Penyediaan makanan beralih dari memenuhi kebutuhan gizi menjadi menghilangkan lapar dan memanjakan lidah. Tidak heran, dua dari tiga besar penyakit mematikan di dunia dipicu oleh makanan. 

Karena itu, mulailah merencanakan gizi keluarga Anda. Lihat kembali makanan keluarga yang terhidang selama ini, apakah cukup bernutrisi? Apakah dimasak dengan benar sehingga kandungan gizi tidak hilang? Apakah tinggi gula, garam, dan minyak? Apakah di rumah tersedia banyak kudapan dan minuman kaya pengawet? Atau, Anda cukup sibuk hingga sering menyajikan makanan instan? Jika ternyata makanan keluarga Anda tidak cukup menyehatkan, tidak ada kata terlambat untuk berubah.

Baik Ayah maupun Ibu, keduanya berperan penting dalam menjadi role model anak tentang pola makan. Karena mengubah pola konsumsi tidak semudah membalik telapak tangan, maka kerjasama keduanya mutlak dibutuhkan. Kedua orangtua yang telah bersepakat tentang apa yang sebaiknya dimakan dan dihindari oleh anggota keluarga akan lebih menjalani pola makan bernutrisi. Dalam prosesnya, Ibu biasanya banyak berperan dalam menentukan menu harian, dari proses perencanaan menu hingga berbelanja. Namun, Ayah juga bisa berkontribusi untuk ide menu makanan dan berbelanja juga lho! Yang penting, jalani dengan konsisten prinsipnya. Jika salah satu sedang “lengah”, yang lain mengingatkan. 

Jadi, seperti apa gizi yang baik untuk keluarga? Tak perlu bingung, pemerintah memiliki Panduan Gizi Seimbang, sebagai penyempurnaan dari prinsip 4 Sehat 5 Sempurna. Panduan ini tidak hanya menyertakan variasi makanan seperti karbohidrat, lauk, sayur, buah, susu, namun juga menyarankan porsi yang tepat untuk setiap jenis makanan. Jangan sampai sayuran yang kita konsumsi hanya tiga iris timun dengan lauk sepotong ayam goreng, dua potong tempe, dan dua porsi nasi ditambah kerupuk dan sambal. Mengenyangkan memang, namun tidak seimbang gizinya.

Baca: http://skata.info/article/detail/215/gizi-seimbang-samakah-dengan-4-sehat-5-sempurna 

Secara sederhana, komposisi makanan pokok sebanyak sepertiga piring, sayur sepertiga piring, lauk dan buah total sepertiga piring. Susu bukanlah keharusan karena kandungan proteinnya sudah dipenuhi oleh lauk-pauk. Yang lebih tepat, minum air putih dan batasi asupan gula, garam, minyak. Sama halnya dengan kudapan. Pilih makanan dan minuman yang sebisa mungkin alami, seperti buah potong dan kacang-kacangan. Namun, jika kesibukan kita tidak memungkinkan melakukan hal tersebut, pilihlah makanan selingan yang memiliki kandungan natrium, lemak jenuh, dan gula rendah. 

Tentu saja, setiap anggota keluarga memiliki kebutuhan gizi yang berbeda. Beberapa kelompok usia yang membutuhkan penyesuaian asupan gizi adalah Ibu hamil/menyusui, balita, anak usia sekolah dan remaja, serta manula. Namun, prinsip dasarnya kurang lebih sama, konsumsi setiap komponen pangan secara seimbang. 

Ayah dan Ibu memegang peranan penting untuk membentuk kebiasaan makan keluarga. Misalnya, jika Ayah gemar membeli milktea atau ibu penyuka gorengan, anak pun akan terbiasa mengonsumsi makanan serupa. Karena itu, orangtua harus mampu mengusahakan hidup sesehat mungkin demi membentuk kebiasaan buah hati.

 



Konsultasi dengan dokter