Khitan atau sunat adalah menghilangkan bagian tertentu dari alat kelamin baik laki laki maupun perempuan. Secara medis, sunat disebut sirkumsisi, Sunat terutama untuk laki laki sudah menjadi sesuatu yang lumrah yaitu dengan menghilangkan atau memotong preputium/kulup yang terdapat diujung kelamin laki laki. Sedangkan sunat untuk perempuan masih banyak diperdebatkan baik boleh tidaknya, baik buruknya dan juga bagaimana caranya, karena ditinjau dari sudut medis, sunat pada perempuan tidak memiliki manfaat sama sekali. 

Metode Sunat Perempuan Menurut WHO 

  • Clitoridectomy, yaitu insisi (sayatan) kulit di sekitar klitoris (kulup), dengan atau tanpa mengiris/menggores bagian atau seluruh klitoris atau khitan secara simboleis.
  • Eksisi, berupa pemotongan klitoris disertai pemotongan sebagian atau seluruh bibir kecil kemaluan (labia minora).
  • Infibulation, berupa pemotongan bagian atau seluruh alat kelamin luar disertai penjahitan/penyempitan lubang vagina (infibulasi).
  • Segala macam prosedur yang dilakukan pada genital untuk tujuan non-medis, penusukkan, perlubangan, atau pengirisan/penggoresan terhadap klitoris.

Di Indonesia, peraturan tentang sunat pada wanita juga menimbulkan banyak kontroversi, baik di kalangan ulama maupun kelompok lainnya. Padahal sebenarnya, padatahun  2010, Kementerian Kesehatan sudah pernah mengeluarkan Permenkes Nomor 1636 Tahun 2010 tentang sunat perempuan - walaupun kemudian dilakukan pencabutan yang tertera dalam Permenkes Nomor 6 Tahun 2014. Di Indonesia, praktik sunat perempuan sangat beragam dan tidak memiliki konsekuensi menguntungkan bagi perempuan dari segi medis.

 

Berbagai macam tipe sunat pada perempuan

 

Efek Jangka Pendek Sunat Pada Perempuan  

  • Perdarahan yang mengakibatkan syok atau kematian
  • Infeksi pada seluruh organ panggul yang mengarah pada sepsis
  • Tetanus yang menyebabkan kematian
  • Gangrene yang dapat menyebabkan kematian
  • Sakit kepala yang luar biasa mengakibatkan syok
  • Retensi urine karena pembengkakan dan sumbatan pada uretra. 

Efek Jangka Panjang Sunat Pada Perempuan 

  • Rasa sakit berkepanjangan pada saat berhubungan seks
  • Penis tidak dapat masuk dalam vagina sehingga memerlukan tindakan operasi
  • Disfungsi seksual (tidak dapat mencapai orgasme pada saat berhubungan seks)
  • Disfungsi haid yang mengakibatkan hematocolpos (akumulasi darah haid dalam vagina), hematometra (akumulasi darah haid dalam rahim), dan hematosalpinx (akumulasi darah haid dalam saluran tuba)
  • Infeksi saluran kemih kronis
  • Inkontinensi urine (tidak dapat menahan buang air kecil)
  • Bisa terjadi abses, kista dermoid, dan keloid (jaringan parut mengeras).
  • Gangguan psikis dan trauma pada wanita 

Berbeda dengan sunat pada laki-laki yang memiliki berbagai dampak positif diantaranya mengurangi risiko infeksi saluran kemih yang sering terjadi khususnya di masa balita serta mengurangi risiko infeksi pada pasangan yang berhubungan dengan Infeksi Penyakit Menular Seksual (IMS) termasuk HIV, sunat pada perempuan justru memiliki lebih banyak dampak negatif. 

Inilah mengapa sunat pada perempuan kini tidak dianjurkan dan tidak lagi dilakukan di banyak Rumah Sakit di Indonesia. Dengan edukasi yang baik dan tepat pada keluarga dan masyarakat, diharapkan praktik sunat pada anak perempuan sepenuhnya dihilangkan. Jika tetap ingin dilakukan karena tuntutan agama, sebaiknya hanya dilakukan secara simbolis dan tidak menggunakan alat-alat yang merusak atau menimbulkan luka pada alat kelamin perempuan tersebut. 

 

 

 



Konsultasi dengan dokter