Menentukan jumlah anak yang ingin dimiliki idealnya dibicarakan dengan pasangan sejak awal kita berumah tangga. Tujuannya tidak lain adalah untuk memastikan tercapainya kebahagiaan setiap anggota keluarga. Kebahagiaan tidak melulu masalah uang, lho. Mengurus anak yang masih kecil tentu membutuhkan stamina, waktu, ilmu, dan kesabaran. Tidak jarang salah satu orang tua harus mengorbankan pendidikan atau karirnya, baik untuk sementara maupun seterusnya. Karena itu, penggunaan alat kontrasepsi untuk merencanakan jumlah anak dapat memastikan setiap anggota keluarga terpenuhi kebutuhannya. 

Merencanakan jarak kelahiran juga membuat kondisi keuangan lebih stabil. Kita bisa lebih tenang karena memiliki cukup waktu untuk menabung, sembari memenuhi kebutuhan dasar anak seperti kesehatan dan hiburan, serta kebutuhan kita dan pasangan. Saat anak pertama sudah mulai mandiri, kondisi mental dan fisik sudah kembali fit, keuangan aman, maka kita bisa merencanakan kehamilan kembali. 

Bayangkan jika kita tidak mengatur jarak kelahiran. Belum sampai tiga tahun, kita sudah harus memikirkan biaya masuk sekolah anak yang lebih kecil. Belum lagi biaya imunisasi, diapers, susu yang seolah nonstop saat mereka kecil. Jika kedua orang tua bekerja, biaya daycare pun harus dikalikan dua. Ini belum termasuk cicilan rumah, pajak dan servis kendaraan, reparasi rumah jika rusak, biaya sosial jika ada yang menikah, melahirkan, dan masih banyak lagi. Bekerja bisa menjadi beban karena dikejar oleh target keuangan keluarga. 

Namun, bagaimana jika kita terlanjur memiliki anak dengan jarak dekat maupun jumlah yang banyak? Tidak usah kuatir. Tetap syukuri rejeki yang ada dan atur keuangan sebaik mungkin agar tetap survive secara finansial. Berikut adalah beberapa tips untuk mensiasatinya:

Memasak makanan sendiri 

Sebisa mungkin, masaklah makanan sendiri untuk seluruh anggota keluarga, termasuk bekal sekolah anak dan suami. Semurah-murahnya makanan beli jadi, masih lebih ekonomis jika memasak sendiri dan lebih higienis. 

Akhir pekan alternatif

Berakhir pekan tidak harus ke mal, kan? Mengunjungi taman kota, museum, playdate dengan anak kerabat, olahraga bersama, ke car free day tetaplah seru dan menyenangkan. Kita pun bisa menghemat ratusan ribu rupiah sekaligus mengajarkan anak untuk tidak konsumtif.

Menggunakan “warisan” kakak

Salah satu kelebihan memiliki anak dengan jarak dekat adalah sang adik bisa menggunakan pakaian, mainan, dan perlengkapan kakak selama kondisinya masih bagus.  

Tidak harus beli baru

Untuk peralatan bayi yang mahal seperti stroller, high chair, kita bisa mempertimbangkan untuk membeli yang preloved alias pernah dipakai atau menyewa di rental karena hanya dipakai sebentar. Namun, jika akan digunakan dalam jangka waktu lama, membeli yang awet walau lebih mahal boleh saja. Jika sudah selesai digunakan kita bisa menjualnya kembali.

Belanja online

Selain dapat memangkas biaya transportasi, belanja online meminimalisir belanja impulsif. Kita fokus pada barang yang ingin kita beli, membandingkan harga dengan online shop sejenis, dan bisa memanfaatkan diskon dan promo gratis ongkos kirim di marketplace.

Tentukan gaya hidup

Tentukan hidup seperti apa yang kita ingin jalani, meskipun itu berbeda dengan orang banyak. Apakah harus masak ayam tiap hari, anak harus les, dekorasi rumah harus mengikuti tren, harus traveling akhir tahun? Kita yang menentukan “batas cukup”. Jika tidak, kita akan selalu merasa kurang melihat keluarga lain. 

Libatkan anak dalam kegiatan harian sejak dini

Karena kita harus melakukan banyak hal sendiri, latihlah anak untuk bisa mandiri sedini mungkin. Keluarga dengan anak banyak generasi terdahulu sudah mahir melakukan tugas rumah tangga harian sekaligus mengasuh adiknya, kemampuan yang anak generasi kita jarang miliki. Jangan lupa libatkan suami juga. Hal ini tentu akan mencegah ibu merasa lelah lahir batin.

Meskipun tips di atas cukup mudah dilakukan, namun lebih mudah lagi jika kita mengatur keuangan keluarga dengan matang, termasuk merencanakan jumlah dan jarak anak yang kita miliki. 

 



Konsultasi dengan dokter