Khitan atau sunat adalah menghilangkan bagian tertentu dari alat kelamin baik pria dan perempuan. Berbicara mengenai sunat, lazim dilakukan oleh anak laki baik dari segi agama maupun kesehatan. Caranya? Dengan menghilangkan atau memotong preputum/kulup yang terdapat di ujung kelamin laki-laki. 

Banyak manfaat dari sunat pada pria, salah satunya mengurangi risiko infeksi saluran kemih yang sering terjadi khususnya pada masa balita. Pria yang disunat juga akan mengurangi risiko infeksi pada pasangan, berhubungan dengan infeksi penyakit menular seksual (IMS) termasuk HIV. Dengan catatan, tetap melakukan aktivitas seksual secara sehat dan melengkap imunisasi terkait IMS seperti imunisasi HPV.

Lalu bagaimana dengan sunat pada perempuan? Apakah perlu?

Sunat pada perempuan di Indonesia masih diperdebatkan boleh atau tidaknya, baik buruk dan juga caranya. Umumnya, sunat perempuan dengan menempelkan gunting atau menggores atau memotong kulit yang menonjol ke atas vagina atau penutup klitoris baik sebagain atau keseluruhan secara medis tidak perlu dilakukan. Ada empat metode yang dilakukan untuk sunat perempuan: 

• Clitoridectomy 

Insisi (sayatan) kulit di sekitar klitoris, dengan atau tanpa mengiris/menggores bagian atau seluruh klitoris atau sunat secara simboleis. 

• Eksisi

Pemotongan klitoris disertai pemotongan sebagian atau seluruh bibir kecil kemaluan (labia minora).

• Infibulation

Pemotongan bagian atau seluruh alat kelamin luar disertai penjahitan/penyempitan lubang vagina (infibulasi). 

• Segala prosedur yang dilakukan pada genital untuk tujuan non-medis, penusukkan, perlubangan atau pengirisan/penggoresan terhadap klitoris.

Tak seperti pada pria, sunat pada perempuan tidak memiliki manfaat medis sama sekali hanya sebagai syarat yang tidak mutlak pada agama. Pada sebagian info medis, sunat pada perempuan hanya membersihkan sebagian kecil alat kelamin yang juga tidak banyak berpengaruh pada kesehatan reproduksinya di kala dewasa. Sunat pada perempuan pun dilakukan saat anak masih bayi sehingga tidak bisa memberikan informed consent untuk tindakan yang harusnya dilakukan atas kemauan dan persetujuan yang bersangkutan karena terkait hal yang sangat pribadi. 

Di beberapa negara, sunat pada perempuan dilakukan secara berlebihan dengan memutilasi sebagian besar alat kelamin. Mereka menghubungkan dengan budaya dan adat dimana perempuan yang tidak disunat akan dianggap wanita tuna susila dan sulit mendapat jodoh. Berbeda dengan di Indonesia, sunat pada perempuan masih menjadi  polemik dimana MUI memperbolehkan dari segi budaya dan agama sementara Komnas Perempuan yang didukung Kementrian Kesehatan telah mengeluarkan larangan sunat di tahun 2006. Bahkan telah ditetapkan satu hari khusus yang diperingati sebagai Hari Internasional Anti Sunat Perempuan yang jatuh di tanggal 6 Februari. WHO pun juga menyatakan bahwa sunat perempuan melanggar salah satu hak asasi manusia. 

Saat ini, sunat pada perempuan kembali menjadi pilihan pribadi masing-masing orangtua. Namun, perlu dipertimbangkan karena sebagian besar rumah sakit sudah tidak lagi melakukan praktek sunat. Sunat pada perempuan bisa dilakukan hanya di beberapa tempat saja dan dengan metode yang berbeda-beda. Orangtua harus benar paham akan metode yang dilakukan, dan konsekuensi pasca sunat pada perempuan. 

Menurut penelitian yang dilansir BBC di tahun 2013, ada beberapa risiko sunat pada perempuan, diantaranya infeksi saluran kencing, kista, kemandulan dan komplikasi dalam kehamilan. Dampak jangka pendeknya berupa pendarahan, infeksi organ panggul, tetanus serta pembengkakan pada uretra. 

Berbagai penelitian di era modern juga menunjukkan bahwa tidak ada keuntungan medis yang didapat dengan menyunat perempuan karena ada efek dari praktik ini yang mempengaruhi gangguan seksual,reproduksi, gangguan haid dan infeksi saluran kemih kronis serta gangguan mental.

 

 



Konsultasi dengan dokter