Gerakan hidup ramah lingkungan kembali populer belakangan ini. Fakta-fakta tentang lingkungan yang menunjukkan bahwa sampah memberikan dampak buruk bagi bumi membuat banyak orang berpikir ulang tentang gaya hidup mereka. Ada yang mulai membawa kantong belanja sendiri, menolak sedotan sekali pakai, bahkan beralih ke pembalut kain. Mungkin Anda adalah salah satunya.

Tidak sulit kok, asal kita mau mencoba dan konsisten. Agar tidak terasa melelahkan, libatkan seluruh anggota keluarga. Jangan sampai niat kita untuk menyayangi bumi menjadi sumber pertengkaran karena suami selalu lupa memisahkan sampah organik dan anorganik, misalnya. Karena itu, pastikan Anda dan keluarga sudah memiliki kesepakatan tentang “sehijau apa” rumah Anda. 

Untuk lebih mudahnya, coba cek isi tong sampah di rumah. Apakah didominasi oleh bungkus kudapan, sachet kopi, atau sampah sisa makanan? Dari situ, kita bisa membuat target yang realistis mengenai apa yang harus dikurangi, dihilangkan, dan apa yang masih bisa dipertahankan. Setelah itu, bagi tugas dengan seluruh anggota keluarga, termasuk si kecil jika ia sudah bisa dilibatkan. 

Ilustrasi berikut ini mungkin bisa dicoba:

Memilah sampah

Ini adalah hal yang paling mudah. Minta suami untuk mencetak tulisan sampah organik, anorganik, kertas, botol plastik, maupun kategori lain dengan printer. Ajak anak menempelkan label pada tong sampah ataupun kardus bekas sekaligus mengajarkannya sampah mana saja yang masuk ke masing-masing tong. Melalui pembiasaan, anak akan mudah memisahkan sampah meskipun ia belum bisa membaca.

Kompos

Sampah organik seperti sisa makanan dapat dijadikan kompos maupun diberikan pada hewan peliharaan. Untuk membuat kompos, sediakan pot atau ember bekas dengan tutupnya. Sebagai awalan, suami dapat memilih ember dan melubangi bagian bawahnya, kemudian anak-anak membantu memasukkan daun kering maupun sekam ke bagian dasarnya. Pada hari-hari berikutnya, baik Anda maupun suami dapat bergantian memasukkan sisa sayur dan buah ke dalam kompos, sesekali mengaduknya dan menambahkan daun kering maupun air cucian beras. Anak-anak dapat membantu memberi sisa makanan ke hewan peliharaan jika ada, atau membantu memotong sisa buah dan sayur agar lebih mudah dikomposkan. 

Melipat plastik

Ada kalanya, kita berbelanja tanpa membawa kantong dari rumah. Akhirnya, kantong plastik pun menumpuk di rumah. Agar rapi dan dapat dimanfaatkan kembali, latih anak untuk membantu melipat kantong plastik dan menyimpannya ke dalam kotak, baik untuk digunakan lagi atau diberikan pada bank sampah. Ingatkan anggota keluarga lain untuk selalu menyimpan beberapa plastik bekas yang masih bersih di dalam tas dan kendaraan. Anak juga dapat diberi tugas menyiapkan kotak makan dan wadah minum kosong yang akan dibawa bepergian sehingga mengurangi sampah saat perjalanan.

Reuse, gunakan kembali

Karena sentra daur ulang masih sedikit di Indonesia, Anda bisa menggunakan beberapa material sampah untuk karya seni anak maupun perlengkapan rumah tangga. Gunakan kotak sepatu untuk menyimpan kaus kaki suami, kardus bekas untuk lintasan mobil balap anak, atau cup plastik untuk pot tanaman sayur. Pakaian yang sudah usang pun dapat dipotong-potong sebagai pengganti tisu, anak bisa membantu memotong atau menghiasnya.

Bank sampah dan ecobrick

Cari informasi apakah ada bank sampah di sekitar tempat tinggal Anda. Jika ada, Anda bisa meminta suami untuk menyetorkan sampah yang memenuhi syarat di bank sampah tersebut. Jika ternyata tidak ada, Anda bisa membuat ecobrick. Ecobrick adalah teknik mengisi botol plastik kosong dengan sampah plastik kering yang bersih dan sudah dipotong kecil-kecil. Ecobrick ini berfungsi sebagai batu bata untuk instalasi sederhana seperti kursi taman. Anak-anak tentu suka kegiatan mencuci bungkus plastik dan memotongnya. 

Dengan mengelola sampah bersama keluarga, Anda tidak hanya mendapat rumah yang lebih minim sampah, namun juga mendidik anak yang sadar lingkungan sejak dini. Kebiasaan di rumah akan terbawa hingga dewasa. Selain itu, mengajak semua anggota keluarga bertanggung jawab pada sampah masing-masing akan mempengaruhi keputusan saat membeli barang dan makanan. Apakah kelak mereka harus “ribet” mengurus bungkusnya di rumah, atau pilih yang tanpa wadah? Apakah mereka memerlukan barang tersebut, atau hanya ingin saja?

Pada akhirnya, tidak hanya pola konsumsi yang berubah, pengeluaran Anda dan suami pun menjadi lebih sedikit. Yuk,kita coba! 

 



Konsultasi dengan dokter