Pernah coba menghitung berapa banyak sampah plastik yang kita hasilkan dalam sehari? Katakanlah, kita membuat satu sachet sereal instan saat sarapan, kemudian konsumsi rapat kantor berwadah styrofoam, dan sebotol air mineral sepulang kerja. Ini belum termasuk kemasan minyak goreng, deterjen, toiletries, yang kesemuanya akan menghuni tong sampah. Petugas kebersihan kelak akan membawanya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau bahkan ke sungai, tergantung profesionalisme mereka. 

Menurut data Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), setiap tahun 1,29 juta ton sampah dibuang ke sungai dan bermuara di lautan. Indonesia pun “sukses” menjadi negara nomor dua penghasil sampah plastik terbanyak di dunia.

Jadi, kasus bangkai paus sperma yang terdampar di pesisir Wakatobi dengan 5 kg sampah plastik di dalam perutnya hanyalah sedikit bukti bahwa selama ini kita telah berperan banyak dalam rusaknya ekosistem di laut maupun di darat. Diperkirakan, jutaan satwa laut mati karena plastik setiap tahunnya. Ada yang tercekik jala, tersangkut cincin minuman kaleng, hingga tertusuk sedotan –selain memakan tutup botol, kresek, hingga sandal jepit.  

Fakta dari laut ini mungkin tidak menjamin orang menjadi lebih “irit” plastik. Toh, laut itu jauh. Namun, bagaimana dengan mikroplastik yang menurut riset terbaru sudah sampai di perut udang yang kita makan?

Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran di bawah 5 milimeter sebagai hasil dari terpecahnya plastik karena air, angin, dan matahari. Seperti yang kita tahu, plastik membutuhkan waktu 450 tahun untuk bisa terurai. Plastik biodegradable dari minimarket memang bisa hancur dalam dua tahun, namun tidak terurai. Serpihan plastik tersebut akan menjadi mikroplastik yang kelak dikonsumsi sapi di TPA, ikan di laut, ataupun menyatu dengan garam yang kesemuanya akan kita konsumsi. 

Karena itu, tidak mengherankan jika mikroplastik ditemukan dalam perut kita, manusia, melalui penelitian kandungan tinja pada tahun 2018. Makanan yang terbungkus plastik serta minuman dalam botol plastik juga menjadi sumber mikroplastik tersebut. Bahayanya, partikel plastik dalam usus dapat mempengaruhi respon imun sistem pencernaan maupun membantu transmisi bahan kimia beracun dalam tubuh. Meskipun efeknya bagi kesehatan manusia masih belum dapat dipastikan, namun percobaan pada hewan membuktikan mikroplastik mampu menyebabkan kemandulan hingga kanker.

Apa yang dapat kita perbuat?

Kurangi penggunaan plastik, khususnya plastik sekali pakai. Empat puluh persen sampah plastik merupakan plastik sekali pakai, seperti kantong plastik yang rata-rata dibuang setelah digunakan selama 15 menit. Coba beberapa cara di bawah ini agar hidup kita lebih zero waste alias minim sampah!

  1. Bawa tas kain atau kantong plastik bekas dari rumah saat kita berbelanja.
  2. Bawa botol minum sendiri saat bepergian maupun bekerja.
  3. Pisahkan sampah di rumah: organik dan anorganik. Sampah organik dapat dikomposkan atau diberikan pada hewan peliharaan. Sampah anorganik bisa diberikan pada bank sampah, pemulung, digunakan kembali (reuse) atau didaur ulang.
  4. Menolak pemberian kantong plastik untuk benda yang bisa langsung kita masukkan ke dalam tas atau kendaraan.
  5. Membeli sesedikit mungkin makanan dan minuman dalam kemasan.
  6. Membeli produk dalam kemasan besar atau jumlah banyak sekaligus, sehingga meminimalisir jumlah sampah sachet.
  7. Menolak sedotan plastik dan meminum langsung dari gelas atau membawa sedotan stainless sendiri.
  8. Selalu sedia sendok, garpu, wadah makan dalam tas untuk mengurangi penggunaan alat makan sekali pakai.
  9. Gunakan lap kain sebagai pengganti tisu.
  10. Memilih cloth diapers daripada popok sekali pakai, menggunakan pembalut kain daripada pembalut kemasan.

Merubah gaya hidup merupakan hal yang mudah selama tekad kita kuat. Namun, jika dirasa berat, mulailah dari yang paling mudah. Demi kesehatan kita dan lingkungan.

 



Konsultasi dengan dokter