Who’s excited for holiday?! Everyone does! Menjelang akhir tahun, liburan merupakan dambaan setiap orang untuk menyingkirkan diri sejenak dari kepenatan pekerjaan sehari-hari, dan menikmati waktu dengan orang yang dikasihi. Seringkali waktu libur dipakai oleh banyak orang untuk mengunjungi tempat-tempat yang jauh (travelling) untuk sekadar mencari pemandangan dan suasana baru demi menyegarkan hati dan pikiran. Tidak terkecuali, para ibu hamil. Lalu, apa saja sih hal yang harus diperhatikan oleh Ibu hamil yang ingin bepergian jauh?

Menurut World Health Organization (WHO) dan The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), bepergian selama masa kehamilan dianggap paling aman pada usia kehamilan trimester II (14 - 28 minggu) karena pada usia kehamilan trimester ini, risiko komplikasi kehamilan terbukti lebih rendah dibandingkan trimester lainnya, dan sang ibu biasanya sudah dalam keadaan stabil setelah melewati sindrom mual muntah kehamilan yang biasanya terjadi pada trimester I kehamilan.

Bepergian menggunakan transportasi baik darat, laut, dan udara masing-masing akan memiliki kelebihan dan kekurangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari setiap perjalanan adalah kebersihan diri dan sekitar, kemudahan akses toilet, lama perjalanan, dan tempat tujuan. Seperti pada umumnya, Ibu hamil cenderung menggunakan toilet lebih banyak dari wanita lainnya karena proses fisiologis tubuh saat hamil. Maka dari itu, kemudahan akses toilet menjadi salah satu pertimbangan penting, termasuk juga luas ruang gerak serta fasilitas penopang tubuh Ibu hamil.

Lama perjalanan yang disarankan adalah sekitar lima jam untuk transportasi darat. Apabila melebihi waktu yang disarankan, sebaiknya Ibu dapat melakukan peregangan dan berjalan kaki sejenak sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Perengangan tubuh dan kaki ibu hamil dalam perjalanan sangat diperlukan untuk menurunkan risiko kejadian sumbatan (tromboemboli) vena. Destinasi liburan juga harus diperhatikan terkait dengan kebersihan lingkungan dan  penyakit endemik di daerah tersebut, seperti sub-saharan Afrika / Indonesia timur yang endemik malaria, Afrika / Asia/ Amerika yang memiliki risiko transmisi virus Zika, risiko diare akut pada negara berkembang, dan sebagainya.

Sebelum melakukan perjalanan, Ibu hamil disarankan untuk mengunjungi dokter spesialis kandungan untuk melakukan rangkaian pengecekkan dan penggalian informasi berupa:

  • Kondisi terkait ibu-bayi dan risiko kehamilan (tanya-jawab dan pemeriksaan fisik)
  • Keluhan akut dan membahayakan (perdarahan jalan lahir, gangguan aktivitas rahim, nyeri, dan sebagainya)
  • Besarnya risiko perdarahan setelah melahirkan, persalinan prematur (preterm), pre-eklamsia, dan eklamsia
  • Pemeriksaan ultrasonografi
  • Jenis, jumlah, dan cara pemberian obat-obatan yang diperlukan terkait kondisi ibu dan janin.
  • Informasi terkait penyakit endemik pada destinasi perjalanan, cara mencegah, dan petunjuk tatalaksana darurat.
  • Surat ijin resmi /sertifikasi dari dokter spesialis kandungan untuk melakukan perjalanan terutama via udara.

Nah, kini sudah siapkah bepergian? Happy travelling, moms!



Konsultasi dengan dokter