Pernahkah terpikir oleh kita, bahwa kita adalah ibu digital alias digital mom? Mengetahui perkembangan janin lewat Babycentre, membuat masakan favorit suami dengan menonton tutorialnya di YouTube, mencari ide permainan anak di Pinterest, hingga mencari alamat memakai Google Maps. Belum lagi informasi seputar tumbuh kembang anak yang kita peroleh dari Instagram, rekomendasi dokter hanya modal bertanya di grup Whatsapp, sampai pertolongan ojek online yang bisa delivery makanan saat mood tidak bersahabat dengan dapur. Semua serba mudah.

Demikian pula yang dirasakan oleh anak. Menikmati hiburan semudah menggerakkan jari, begitu pula dengan mencari informasi. Batita belajar bernyanyi melalui video, balita bisa memainkan games edukatif, usia SD sudah bisa mencari jawaban tugas secara mandiri di internet, usia SMP membuat video tutorial, dan seterusnya. Suatu kemajuan? Tentu saja, selama orang tua bisa membentengi anak dari resiko yang mengintai dibalik kemajuan teknologi tersebut.

Generasi kita memerlukan usaha lebih untuk melakukan hal “terlarang”. Untuk mendapatkan VCD porno, kita harus menyewa di rental atau mendapatkan dari teman. Searching informasi seks? Ke warnet dulu. Sekarang, hal-hal di atas berada dalam genggaman mereka, tinggal tunggu kesempatan. Menyeramkan bukan? Tidak mencari informasi seks saja, pop up ads, friend request berbau seks bisa muncul, belum lagi cyber bullying.

Memusuhi teknologi jelas tidak mungkin. Namun, membiarkannya menjadi bagian penting dari keseharian keluarga juga menimbulkan rasa cemas. Jadi, bagaimana kita sebagai ibu digital harus bersikap?

DO’S

Pelajari 

Untuk bisa menggunakan teknologi dengan bijak, kita harus mengenal dengan baik seluk beluk teknologi tersebut, seperti manfaatnya, fiturnya, kekurangannya. Karena kita lah yang pertama memperkenalkan anak dengan teknologi, maka pastikan apa yang kita ajarkan pada anak membawa lebih banyak manfaat daripada risikonya. Ibaratnya, kitalah pemimpinnya. Berikan aplikasi yang sesuai usia, pelajari cara mengatur privasi dan keamanan agar kita tenang saat anak menggunakan gadget. Informasi ini bisa kita dapat melalui internet, buku parenting, seminar, maupun bertukar pengalaman dengan orang tua lain. 

Peraturan

Batasi screen time anak, baik itu telepon pintar, televisi, maupun laptop. Tentukan batas waktu yang aman sesuai usia. Usia 2 tahun ke bawah disarankan untuk tidak memiliki screen time, usia prasekolah bisa kita beri aplikasi dan video offline. Pembatasan waktu online untuk usia sekolah bisa diberikan berdasarkan durasi jam atau sesuai kebutuhan. 

Pengawasan

Idealnya, kita menonton terlebih dahulu video maupun game yang akan kita berikan pada anak, lalu dampingi mereka saat mengaksesnya. Jika tidak memungkinkan, jadwalkan untuk mengecek secara berkala gadget mereka atau membicarakannya dengan anak.

DON’T’S

Karena anak mencontoh perilaku kita, sebaiknya kita menggunakan gadget dengan bijak pula. Hindari mengecek telepon pintar saat makan, saat bosan menunggu, atau saat berbicara dengan orang lain. Ajari anak untuk tetap berinteraksi dengan dunia nyata dan menggunakan gadget untuk keperluan yang jelas. Sekreatif apapun video edukatif, mengajari anak berhitung secara langsung, membacakan buku, maupun membuat percobaan bersama akan memberi efek yang lebih kuat bagi hubungan ibu dan anak. Jangan sampai anak lebih rindu dengan gadgetnya daripada dengan kita.

Menjadi ibu digital memang tidak mudah. Namun, akan lebih mudah jika kita sebagai ibu selalu update dengan teknologi, khususnya yang digemari anak kita. Mereka tumbuh di dunia yang dikendalikan oleh gadget dan media sosial, yang tidak ada “antivirus”nya. Karenanya, seimbangkan dengan aktivitas nyata yang mengasah semua indera mereka. 

 



Konsultasi dengan dokter