Saat merencakan kehamilan dan menentukan menjarakkan memiliki anak, tiap orang memiliki perencanaan masing-masing sesuai dengan kebutuhannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Begitupun dengan kontrasepsi, terdapat berbagai pilihan alat sesuai dengan waktu penjarakan yang diinginkan. 

Anda yang menginginkan jarak yang lebih pendek bisa menggunakan Pil atau kondom , sementara IUD, tubektomi dan implan adalah pilihan kontrasepsi denganjarak yang lebih panjang. Sasti (28) berprofesi sebagai guru, memilih implan sebagai alat kontrasepsinya. 

Implan, dulu dikenal dengan susuk disebut juga AKBK (Alat Kontrasepsi Bawah Kulit) merupakan kapsul tipis fleksibel dan elastic yang ditanam di kulit lengan atas. Implan mengandung levonogestrel, hormon yang diproduksi guna mengendalikan kehamilan. 

“Dapat informasi tentang kontrasepsi awalnya dari mertua. Kebetulan beliau bidan, jadi paham betul  mengenai family planning dan menjarakkan anak. Anak pertama saya lahir normal lewat proses induksi, sempat trauma dan butuh waktu hampir dua tahun untuk memutuskan saya berani hamil lagi. Lain dari itu, saya terlalu cinta dengan anak pertama hingga belum rela terbagi dengan anak yang lain,” ujar Sasti mengungkap pengenalan pertamanya dengan kontrasepsi.

Awalnya Sasti berfikir untuk menggunakan IUD karena sebagian besar kerabat (termasuk Ibu) menggunakannya, namun sayang karena Ia mengalami pelengketan plasenta dan harus melewati proses kuret, dokter tidak menyarankan menggunakan IUD. “Dokter kuatir akan ada masalah karena rahim saya belum kondusif. Iapun menyarankan untuk menggunakan implan. Selain aman untuk menyusui, implan digunakan untuk penjarakan jangka panjang. Jadi saya setuju, suamipun demikian,” jelasnya. 

“Tiga tahun saya menggunakan implan. Tiga bulan sebelum tanggal kadaluarsa, saya melepasnya karena sekalian ingin program memiliki anak kedua,” ujar Sasti. Saat menggunakan Implan, Sasti sama sekali tidak haid. “Worry free, deh. Saya tak perlu bolak balik kontrol seperti layaknya kontrasepsi lain. Tak hanya itu, menggunakan implan membuat ibadah saya menjadi lebih mudah karena saya bisa terus shalat tanpa gangguan. Begitupun soal hubungan dengan suami. Dilain itu, impan tak membuat ASI saya sedikit atau berkurang. Jadi tak ada keluhan sama sekali saat menggunakannya,” jelas Sasti. 

Pemakaiannya juga cukup mudah dan cepat. Dokter akan menjelaskan tentang cara kerjanya dan memperlihatkan alatnya. Setelah pasien setuju menggunakannya, dokter dibantu seorang bidan akan menyuntikkan anestesi lokal di lengan kiri atas bagian dalam. Lalu implan dimasukkan di bawah kulit dengan bantuan suntikan. Selesai! Pantangannya? Hanya diminta untuk tidak angkat berat menggunakan tangan yang dimasukkan implan untuk sementara waktu. “Seingat saya, cuma sehari.” 

“Katanya KB hormonal bisa membuat gemuk badan. Tapi tidak untuk saya, berat badan tetap normal cenderung mengurus malah. Saya puas sekali, dan ingin merekomendasikan pada khalayak,” jelas Sasti mengakhiri perbincangan. Ingin memilih kontrasepsi jangka panjang dan sukses menggunakan implan seperti Sasti? Yuk cari tau dulu informasi lengkapnya disini https://skata.info/kontrasepsiku/informasi/implan.  

 

 

 



Konsultasi dengan dokter