Tubektomi adalah salah satu alat kontrasepsi pilihan dengan cara sterilisasi pada wanita. Caranya? Dengan memblokir saluran tuba falopi baik dipotong/dipisahkan/diikat sehingga sel telur tidak dapat mencapai uterus untuk proses pembuahan. Ini merupakan alat kontrasepsi yang permanen. Meski saluran tuba falopi dapat disatukan kembali melalui operasi, namun presentasenya hanya berkisar 50-80%. 

Seorang pegawai negeri, Wiwit (42) memilih menggunakan kontrasepsi tubektomi setelah memiliki empat orang anak. “Saya tau tentang tubektomi melalui internet dan informasi dari dokter,” jelasnya. “Setelah menjalani tiga kali operasi c-section (caesarean section) dalam waktu yang berdekatan, dokter menyarankan untuk melakukan tubektomi. Sempat ada alternatif pengikatan, tapi saya menolak karena takut hamil lagi.” 

Proses pelaksanaan tubektomi sederhana, tetapi sayatannya cukup besar. Umumnya dilakukan dibawah kendali anastesi umum dengan menggunakan prosedur laparoscopy. Tubektomi juga berkaitan dengan infeksi luka, dan kemungkinan merasa beberapa risiko dan komplikasi. 

“Karena dokter mengatakan ada risiko pelengketan, maka hamil (lagi) akan menjadi sangat berisiko. Jadi tubektomi adalah keputusan yang terbaik kala itu, walaupun memang rasanya tidak nyaman” ujar Wiwit saat ditanya alasannya melakukan tubektomi pasca melahirkan anak keempatnya di tahun 2012. “Ini keputusan sendiri yang didukung oleh suami,” tambahnya. 

Efek yang Wiwit rasakan pasca melakukan tubektomi adalah haid yang keluar lebih banyak terutama di hari kedua dan keempat. “Badan saya terasa sakit sekali dan biasanya diawali dengan demam sebelum haid. Seringkali saya menjadi emosional karena kondisi fisik yang demikian. Ini dimulai sejak pertama kali pakai enam tahun yang lalu. Saya tidak tau ini kondisi yang normal atau tidak.” 

Ini alat kontrasepsi yang pertama dan terakhir yang Wiwit gunakan, karena sebelumnya Ia belum pernah menggunakan kontrasepsi apapun. Karenanya jarak anak satu dan lainnya menjadi dekat. Atas dasar alasan medis, membuat Wiwit yakin mengambil keputusannya.

Untuk Anda yang ingin memilih tubektomi sebagai pilihan kontrasepsi, atau ingin tau lebih lanjut mengenai tubektomi bisa menemukan informasinya disini http://skata.info/kontrasepsiku/informasi/tubektomi.  

 

 

 

 



Konsultasi dengan dokter