IUD (Intrautarine Divice) atau dikenal dengan sebutan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) merupakan salah satu diantara berbagai pilihan alat kontrasepsi yang dimasukan ke dalam rahim. Dulu, mungkin Anda mengenalnya dengan sebutan spiral. Berbentuk seperti huruf T, IUD terbuat dari bahan plastik berukuran kecil dan fleksibel dengan pemasangan yang mudah dan praktis. 

Inilah yang menjadi alasan Sisca (43) memilih untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD. “Efek samping yang relatif aman dan karena saya takut minum pil membuat pilihan kontrasepsi jatuh pada IUD,” ujarnya. Sisca mencari berbagai informasi melalui internet, sampai akhirnya Ia memutuskan untuk menggunakan IUD dengan bantuan dokter dan bidan pasca salin. Keputusan ini Ia putuskan sendiri, dengan sepengetahuan pasangan tentunya.  

IUD adalah alat kontrasepsi yang cukup efektif segera setelah pemasangan. Waktu pemasangannya juga sangat cepat, dengan masa pakai hingga 10 tahun. “Saya menggunakan IUD tepat pasca salin dan tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI,” jelas Sisca. Berbeda dengan alat kontrasepsi lain yang memungkinkan bertambahnya berat badan, IUD tidak mengandung hormon sehingga tidak membuat gemuk. 

“Memang sih, sedikit nyeri saat dipasang spekulum, tapi hanya itu kekurangan IUD yang saya rasakan. Selebihnya, saya sangat puas. Ini sudah kali ketiga saya menggunakan IUD, tiap habis pakai saya mengganti dengan yang baru.” Pemasangan IUD memang harus dilakukan oleh bantuan tenaga kesehatan ahli untuk memastikan pemasangan secara benar dan akurat. IUD pun dirasa sangat akurat menurut Sisca, karena selama pemakaian tidak pernah ada kebocoran yang menyebabkan hamil. “Saya sangat puas menggunakan IUD, hingga saya ingin merekomendasikan pada khalayak. Terutama IUD yang saya gunakan saat ini, membuat saya jadi tidak haid sehinga saya tidak repot tiap bulan,” tutupnya. 

Ketahui lebih lanjut, yuk tentang penggunaan kontrasepsi IUD disini http://skata.info/kontrasepsiku/informasi/iud 

 

 

 

 

 

 



Konsultasi dengan dokter