Merencakan keluarga yang sejahtera dan berkualitas dengan mengatur jarak kehamilan, bisa dimulai dengan memilih kontrasepsi yang tepat. Beberapa ragam kontrasepsi hadir menyesuaikan kebutuhan para Ibu, bahkan Ayah. Salah satu pilihannya adalah Pil Menyusui yang dipilih oleh Dinar (39), Demand Generation Coordinator di John Hopkins Center for Communication Program (JHU) Jakarta. 

Sembilan tahun yang lalu saat Ia baru melahirkan anak pertama, Dinar memilih untuk mencari informasi tentang kontrasepsi yang akurat. Alasanya simpel, Ia ingin tuntas menyusui anak pertamanya, dan belum ingin buru-buru menambah momongan. Informasi di internet membuatnya memilih Pil KB yang aman untuk menyusui sebagai kontrasepsi pertamanya. Sang suamipun ikut aktif dalam pencarian informasi lewat bermacam sumber di portal online

“Saat itu saya hanya ingin memastikan ASI untuk anak cukup dan tidak terganggu dengan kehadiran anak berikutnya,” ujarnya saat ditanya alasannya memilih untuk menggunakan KB saat menyusui. “Tak hanya itu, karena kelahiran anak pertama yang cukup sulit, saya sedikit enggan untuk segera memiliki anak lagi. Trauma mungkin, ya.” 

Kenapa Ia memilih Pil KB, karena menurutnya pil lebih praktis disamping tidak mengganggu volume ASI. Tak ada masalah dalam penggunaan Pil, bahkan menurutnya adanya kenaikan berat badan juga tak terjadi padanya. “Kalau berat badan naik, itu karena saya menyusui dan tidak berolahraga. Bukan dari penggunaan Pil KB,” ujarnya.

“Kakak sebenarnya pengguna IUD sejak lama, namun saya tidak tergerak untuk mengikutinya. Mengaitkan dengan proses kelahiran anak pertama yang sulit jadi saya enggan menggunakan alat KB yang harus dimasukkan ke dalam tubuh. Pil KB kan sama seperti minum obat dan vitamin, yang biasa saya lakukan jadi rasanya lebih mudah.”

Awalnya Dinar merasa nyaman mengonsumsi Pil KB hingga Ia kemudian merasa bosan dengan rutinitas meminumnya setiap hari di jam yang sama. Alhasil, Ia sering lalai. Memang, butuh komitmen yang tinggi, disiplin pantang lalai saat memutuskan menggunakan Pil, berbeda dengan alat kontrasepsi lain seperti IUD yang bisa bertahan lama hanya dengan satu kali pasang. Dengan pertimbangan tersebut, Dinar dan suami akhirnya memutuskan untuk mengganti kontrasepsi dengan penggunaan kondom. 

“Kali ini disiplin kami seputar ketersediaan kondom di rumah. Bila stok menipis, kami harus langsung beli lagi,” ujarnya.” Saat ini saya dan suami memang tidak berniat menambah anak, selain daripada faktor usia, kami ingin punya waktu yang berkualitas untuk berbagi dan memperhatikan kebutuhan mereka,” lanjut Dinar yang saat ini mempertimbangkan untuk menggunakan IUD atau vasektomi untuk suami. 

Pengalaman Dinar menggunakan Pil yang mudah membuat Ia ingin berbagi pengalaman dengan para wanita yang sedang memilih untuk menggunakan kontrasepsi. Tak ada kekurangan yang berarti untuknya, cukup nyaman dan praktis, dan yang paling penting tidak mengganggu volume ASI saat menyusui. Anda yang ingin mencari lebih lanjut tentang penggunaan Pil KB, yuk cek tautan ini http://skata.info/kontrasepsiku/informasi/pil-menyusui 



Konsultasi dengan dokter